Beranda Teras Berita Bahasa dalam Sajak (1)

Bahasa dalam Sajak (1)

1395
BERBAGI

Iswadi Pratama

Sementara Marjorie Boulton membagi sajak atas
dua unsur yang membenntuknya.
1. Bentuk fisik, mencakup penampilan sajak dalam
bentuk nada dan lirik sajak termasuk di dalamnya irama, persamaan bunyi,
intonasi, pengulangan dan perangkat bahasa lainnya.
2. Bentuk mental, yaitu tema, urutan logis, pola
asosiasi, satuan arti yang dilambangkan, dan pola-pola citraan serta emosi

Namun, menurut Wellek dan Warren, analisis yang
bersifat dikotomis atau terlalu tegas memilahseperti di atas dianggap belum
memberikan gambaran yang memuaskan. Sedangkan menurut Roman Ingarden, sebuah
sajak pada hakikatnya terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Norma-norma
tersebut tidaklah berdiri sendiri-sendiri, melainkan norma yang satu
menyebabkan timbulnya norma yang lain. Norma-norma itu adalah:

1. Lapis Bunyi (Sound Stratum)

Bila sebuah sajak dibacakan, maka yang terdengar
pada dasarnya adalah rangkaian bunyi. Rangkaian bunyi itu menjadi komunikatif
dan menarik, karena bunyi dan rangkaian bunyi itu disusun berdasarkan konvensi
bahasa. Karena disusun berdasarkan rangkaian bahasa maka rangkaian bunyi
tersebut menimbulkan arti atau makna. Sampai di sini muncullah tahap kedua:

2. Lapis Arti atau Makna (Unit of meaning)
Rangkaian fonem, suku kata, frase, dan kalimat
kesemuanya itu merupakan satuan arti. Rangkaian kalimat menjadi bait. Bait-bait
membentuk kebulatan makna utuh yang memunculkan sebuah gambaran dunia, dunia
imajinasi. Dan lapis kedua ini pun menimbulkan lapis ketiga:

3. Lapis Dunia

Pada lapis ini dimaksudkan bahwa ketika membaca
sajak, mau tak mau, pembaca akan menghubungkan sesuatu yang berada di luar
sajak, yaitu sesuatu yang tidak dinyatakan namun secara eksplisit terasa ada.
Lapis ini menyebabkan timbulnya lapis berikut:

4. Lapis Metafisis

Lapis ini menyiratkan sifat-sifat metafisis yang
timbul akibat adanya lapis (3) berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim, yang
tragis, mengerikan, menakutkan, dan yang suci) yang kesemuanya itu akan
menimbulkan kontemplasi pada pembaca

Bahasa dalam Sajak

Kritikus satra terkemuka A. Theeuw mengungkapkan
bahwa dalam sastra, khususnya sajak, bahasa yang istimewa selalu menjadi hal
paling ditonjolkan. Itulah mengapa membaca sajak berarti bergulat terus menerus
dengan bahsa untuk menemukan makna yang disajikan Penyair. Karena sajak
merupakan refleksi dari pengalaman dan pengetahuan manusia yang terkristalisasi
di dalam batinnya, maka dibutuhkan bahasa khusus atau pilihan untuk membuatnya
menjadi kongret. Itulah mengapa, bahasa pengucapan dalam sajak selalu memiliki
ciri sendiri antara satu penyair dengan penyair lainnya. 

Mereka memilih
ungkapan dan bahasa yang menurut mereka paling pas dan tepat untuk
mengkongretkan “puisi” atau kepuitisan yang ada dalam diri mereka. Sehingga
kecakapan dalam menggunakan bahasa terpilih menjadi syarat mutlak bagi penyair.

Sejak abad ke V telah dibedakan dua artes (artes
adalah kepandaian, teknis, ilmiah, sistem aturan—baru kemudian dalam bahasa
Prancis dan Inggeris art berkembang maknanya menjadi seni) yang masing-masing
diberi nama granunatica dan rhetorica yang meliputi ilmu untuk berbicara secara
tepat, dan poetaqrum enmaratio, semacam ilmu sastra. Sehingga sastrawan sering
dianggap sebagai teladan dalam penggunaan bahasa yang baik dan optimal. 

Retorika kemudian berkembang ke arah penelitian dan pemeriksaan sarana-sarana
bahasa yang dipakai dalam bahasa yang baik, termasuk penyimpangan, licentia
poetarum keleluasaan penyair. Sehingga pengkajian dan penafsiran terhadap sajak
harus ditopang dengan pemahaman terhadap bahasa di dalam sajak.

Loading...