Beranda Budaya Bahasa Bahasa dan “Kepribadian” dalam Siaran Langsung Sepak Bola

Bahasa dan “Kepribadian” dalam Siaran Langsung Sepak Bola

178
BERBAGI
Aksi pemain Prancis, Dimitri Payet, saat melawa Albania,Kamis dini hari (16/6). (Foto:UEFA/Getty Images)

Willy Pramudya*

willy pramudyaSudah beberapa bulan saya tak bisa menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola di layar televisi. Sebagai gantinya, saya menyaksikannya di laptop –dengan menggunakan jaringan internet. Ada pengalaman menarik saat menonton dengan cara ini. Beberapa kali harus berpindah kanal karena siaran terputus. Tetapi cara tersebut memberikan pengalaman lain, yakni saya dapat menikmati siaran dengan pemandu yang berbeda-beda bahasa.

Ada dua saluran yang kerap saya saksikan tayangannya secara bergantian, yakni saluran TV berbahasa Arab dan Inggris. Satu lagi yang agak sering ialah saluran berbahasa Spanyol. Sisanya bahasa lain-lain. Sambil menikmati pertandingan, biasanya saya juga menikmati cara pemandu bertugas. (Siaran langsung sepakbola selalu menghadirkan komentator. Di radio, pemandu seperti mereka bertugas melaporkan siaran pandangan mata.) Nah, apa yang kerap tertangkap dari mereka?

Para pemandu di stasiun-stasiun TV berbahasa Arab, Inggris dan Spanyol, sama-sama terbebas dari air bah istilah asing di luar bahasa mereka. Dibandingkan dengan para pemandu TV-TV Indonesia terasa jauh bumi dari langit. Kalaupun mereka menggunakannya, istilah-istilah itu sudah diperlakukan sebagai kata serapan sesuai dengan kaidah bahasa mereka. Pada stasiun TV berbahasa Arab, misalnya, para pemandunya nyaris tak pernah tertangkap menggunakan kata-kata “asing” yang tak perlu kecuali yang sudah lumrah seperti “goal”, “out”, dan “penalti”. Tentu masih ada beberapa istilah lain tetapi tak banyak. Sekali lagi tak ada air bah atau banjir bandang istilah asing.

Pada umumnya khalayak tahu bahwa tak ada bahasa yang bebas dari pengaruh bahasa lain. Tetapi secupet daya tangkap saya, sangat terasa para pemandu TV berbahasa Arab, Inggris, Spanyol dan lain-lain itu begitu setia terhadap bahasa masing-masing. Terasa sekali hal yang mereka lakukan mencerminkan kepribadian negara-bangsa atau komunitas pengguna bahasa yang mereka “wakili”. Apalagi TV berbahasa Inggris. Saya terbayang TV-TV kita.

Sependek pengamatan saya, nyaris tak ada pemandu siaran sepak bola pada TV-TV berbahasa Indonesia sekaligus komentatornya yang terbebas dari banjir bandang istilah asing. Bahkan untuk istilah sederhana, terkenal dan sudah lama digali dan kenalkan oleh para jurnalis olah raga pada masa lalu pun. Saya tak tahu apakah “rerasan” ini mencerminkan chauvinisme atau kecemasan atas nihilnya kepribadian pada awak media kita yang tak terjadi pada media asing dalam berbahasa. Mereka paham benar memosisikan bahasa mereka di dunia penyiaran yang ditonton ratusan juta bahkan miliaran pasang mata itu.

Mari berharap, semoga para pemandu TV kita tak sedang mencerminkan kepribadian bangsanya. Alih-alih, hanya sedang mencerminkan “kepribadian” lembaga bisnis tempat kerja mereka dan kelas menengah yang pintar-pintar dan lucu-lucu itu.

Beberapa istilah yang membanjiri media berbahasa Indonesia:
agility
assist
back pass
ball possesion
ball possition
big Match
blunder
chip ball
clean sheets
corner kick
counter attack
defender
derby
diving
dribbling
extra time
free Kick
fair play
friendly match
full time
golden goal
half time
hattrick
heading
head to head
home and away
injury time
intercept
jersey
juggling
kick off
nutmeg
passing
(Tendangan) first time
top scorer
pressing
quattrick
starting eleven
start up
scudetto
treble winner

*Willy Pramudya adalah seorang jurnalis, guru, dan pemerhati sosial-budaya; tinggal di Jakarta