Beranda Views Bahasa Bahasa Indonesia dalam Media Sosial

Bahasa Indonesia dalam Media Sosial

1281
BERBAGI
Oleh Slamet Samsoerizal
Gegap gempita
dunia media sosial di Indonesia, belakangan kian riuh. Keriuhan tersebut,
disebabkan banyaknya pengguna media sosial di seluruh dunia, termasuk kita.
Menurut data dari Sosialbakers, Indonesia
adalah negara keempat terbesar di dunia dalam hal jumlah pengguna, setelah
Amerika Serikat, India dan Brasil. Interaksi pengguna di Facebook juga cukup tinggi.
Dari hasil
penelitian yang dilakukan TNS Insight
terungkap bahwa masyarakat Indonesia mengakses Facebook jauh lebih sering (5,7 kali per minggu) dibandingkan
dengan aktivitas online dan media
tradisional lainnya.   Penelitian ini
melibatkan 1.002 responden di beberapa kota yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung,
Medan, Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Sekitar 15% responden lebih
memilih memeriksa atau memperbarui (atau memposting status) dibanding
mengonsumsi media tradisional. Hanya 6% yang mengaku membaca koran dan 4% yang
membaca majalah. Selain itu, hampir setengah dari seluruh responden mengatakan
bahwa Facebook merupakan sumber
pertama mereka mendapatkan cerita dan informasi terbaru.
Penyebab
lain dipicu adanya kasus penghinaan terhadap Yogyakarta melalui path oleh Florence Sihombing, penghinaan
Kota Kembang Bandung oleh pemilik akun twitter
akun @kemalsept, kasus PR Matematika
siswa SD yang sempat bikin heboh juga karena diunggah melalui facebook, dan terakhir Bekasi.
Media Katarsis
Dari sisi
bahasa, media sosial dimaknai sebagai sarana berkomunikasi dan berbagi. Oleh
sebab itu, dalam istilah blogging
atau facebook, dikenal istilah share (berbagi). Bahkan, setiap blog
atau situs selalu menyediakan fasilitas sosial share, terutama facebook,
twitter, dan Google Plus.  Jika kita
mencari definisi media sosial di mesin pencari Google, dengan mengetikkan kata kunci “sosial media meaning“, maka Google
menampilkan pengertian media sosial sebagai “websites and applications used for sosial networking” —website
dan aplikasi yang digunakan untuk jejaring sosial.
Istilah lain
media sosial adalah “jejaring sosial” (social network), yakni
jaringan dan jalinan hubungan secara oline di internet. Karenanya,
menurut Wikipedia, media sosial adalah sebuah media online,
dengan para penggunanya (user) bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi
(sharing), dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial,
wiki, forum, dan dunia virtual. 
Kembali
ke berbagai kasus yang marak belakangan ini, disebabkan dua hal.  Pertama,  persoalan pengguna dari isi bahasa. Kedua
persoalan penggunaan media sosial. Dari sisi pengguna, mencakup: jenis
kelamin, usia, profesi, dan latar belakang pendidikan. Dari sisi penggunaan,
mencakup jenis media sosial yang digunakan. Antara satu media sosial yang satu
dengan  media sosial yang lain, tentu
memiliki karakteristik yang berlainan.
Satu
hal yang tidak boleh dilupakan, maraknya penggunaan media sosial dikarenakan
fungsi utama media sosial, yakni sebagai media katarsis. Seorang remaja yang
lagi bt menanti kekasihnya, menulis
status di facebook dengan galau: “huh!”. “Lagi nungguin si sulung lomba mewarnai,” tulis Ibu muda ketika
sama-sama menunggu putri kesayangannya yang sedang mengikuti lomba.
Hal
yang perlu dipahami bagi pengguna adalah karakteristik dari media sosial
tersebut, yaitu: pesan
(status) yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa ke
banyak orang;  pesan yang di sampaikan
bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper;
pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat dibanding media lainnya; dan
penerima pesan yang menentukan waktu interaksi.
Bagaimana
jika pengguna media sosial,  mem-bully 
kita? Trik berikut boleh disimak.
§ 
Tidak perlu merespon komentar yang
bersifat intimidatif, cacian, hinaan, ejekan atau celaan. Biasanya apabila
target menunjukkan reaksi tersebut, maka pelaku akan merasa puas dan ia akan
melakukan aksinya kembali secara terus menerus.
§ 
Hindari membalas perilaku bullying. Ini tidak akan menyelesaikan
masalah, justru tanpa disadari akan membuat target menjadi pem-bully yang baru. Dengan begitu, rantai
bullying akan terus berlangsung dan melahirkan para pem-bully baru.
§ 
Jika perilaku bullying di sosial media terus berulang, maka segera laporkan pada
pengelola sosial media terkait. Apabila terbukti bersalah, maka akun pelaku
bisa mereka hapus.
§ 
Untuk membantu mengatasi aksi bully, cobalah untuk menceritakan kepada
orangtua, guru atau pihak yang bisa memberikan dukungan mental atau memberikan
solusi dalam menyelesaikan permasalahan ini.
§ 
Hindari mengunggah gambar atau foto
dengan pose yang dapat menarik perhatian yang bisa menimbulkan terjadinya
kejahatan seksual.
Ragam Bahasa Indonesia dalam Media Sosial
Pengguna media sosial umumnya adalah
remaja. Oleh sebab itu, ragam remaja dalam berbahasa Indonesia sangat
mendominasi. Kaidah-kaidah baku bahasa Indonesia dilanggar. Banyak kata-kata
baru diciptakan. Contoh: kepo (rasa
ingin tahu banyak hal), bingit, beud (amat), bahenol, (badan hebat otak nol),
pamer paha (
padat merayap tanpa harapan).
Belum lagi penggunaan kata-kat fatis seperti: kok, iya deh, met ya!
Oleh karena media sosial ini
bersifat massal, maka sebaiknya pengguna hendaknya memikirkan penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Baik dan benar yang diartikan, bahwa penggunaan
bahasa Indonesia tersebut bersifat komunikatif.
Penutup
Penggunaan bahasa Indonesia dalam
media sosial lebih didominasi ragam remaja. Sumbangannya terhadap perkembangan
bahasa Indonesia memang sedang berproses, karna walaupun sejumlah istilah
diciptakan namun seleksi waktu akan mencatat, bahwa kata-kata yang disumbangkan
dapat tercatat dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia
. ***