Bahasa: Penjabat atau Pejabat?

  • Bagikan

Oleh: Oyos Saroso H.N.

Menjelang habis masa jabatan delapan kepala daerah di Lampung, media massa di Lampung sering mewartawan tentang pergantian pejabat.

Pejabat bupati yang sudah akan habis masa jabatannya digantikan oleh seorang kepala daerah sementara. Mengutip pernyataan narasumber, media pun banyak yang menulis pejabat baru yang menggantikan kepala daerah yang habis masa jabatannya dengan sebutan pejabat bupati.

Mungkin saja, dalam Surat Keputusan Gubernur tentang penggantian pejabat memang disebutkan “pejabat X digantikan oleh pejabat Y”. Dengan begitu, dalam SK itu mungkin saja disebutkan bahwa Y yang menggantikan bupati yang habis masa jabatannya disebut sebagai pejabat bupati.

Kherlani yang habis masa kerjanya sebagai kepala daerah sementara di Kabupaten Pesisir Barat dan digantikan Qodratul Ikhwan, misalnya, ditulis oleh banyak media mssa dengan kalimat “Kherlani digantikan oleh pejabat baru Bupati Pesisir Barat, Qodratul Ikhwan.”

Media massa pun  secara beramai-ramai menyebut Qodratul Ikhwan sebagai pejabat Bupat Pesisir Barat.

Penyebutan serupa itu seolah menjadi jamak. Pakar hukum tata negara (barangkali), pembuat konsep SK Gubernur, bahkan mungkin para pejabat penting di pemerintah pusat seakan-akan sudah bekerja dengan benar. Padahal, kalau ditelisik dari segi kebahasaan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia hal itu salah.

Seharusnya. orang yang mengisi jabatan untuk sementara disebut sebagai penjabat. Maka, dalam kasus di Kabupaten Pesisir Barat, seharusnya Qodratul Ikhwan disebut sebagai Penjabat Bupati Pesisir Barat.

Kita tahu, penjabat dan pejabat sama-sama berasal dari kata “jabat”. Kata dasar “jabat” bisa menghasilkan bentukan kata “menjabat”, “berjabat”, “berjabatan”. Dari kata kerja “menjabat” lahirlah bentuk kata benda “penjabat” atau orang yang menjabat. Sedangkan dari kata kerja berjabatan lahirlah bentuk kata benda pejabat. Pejabat artinya  orang yang memiliki jabatan atau orang yang memangku suatu jabatan atau pangkat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pejabat berarti pegawai  pemerintah yang memegang jabatan penting. Sedangkan penjabat artinya orang yang melakukan jabatan orang lain untuk sementara.

Itulah dasar kenapa pengganti kepala daerah yang bertugas sementara disebut penjabat (bukan pejabat). Hal itu juga berlaku di organisasi nonpemerintah. Seseorang yang menggantikan pejabat Direktur Walhi Lampung, misalnya, seharusnya disebut sebagai Penjabat Direktur Walhi.

Mat Kodrat yang mengisi jabatan sementara sebagai direktur utama PT Asu Putra Lan Putune, misalnya, mestinya disebut  penjabat direktur.

Berita tentang sakitnya Mat Kodrat yang tersebab oleh terlalu banyak makan buah manggis seharusnya lebih tepat jika ditulis: “Penjabat Direktur PT Asu Putra Lan Putune, Mat Kodrat, kini sedang sakit keras gara-gara kebanyakan makan buah manggis.”

  • Bagikan