Beranda Kolom Kopi Pagi Bahasa Preman Kapolres Way Kanan

Bahasa Preman Kapolres Way Kanan

478
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Saya baru saja mendengarkan rekaman suara Kapolres Way Kanan, AKBP Budi Asrul Kurniawan, yang berisi cacian kepada dua orang wartawan lokal. Tiba-tiba saya teringat ujaran almarhum ayah saya: carilah kawan sebanyak-banyaknya, karena dari kawan-kawanmu itulah kamu akan menjadi manusia sejati. Pandai-pandailah bergaul agar tidak terperosok menjadi manusia hina. Hina bukan karena perbuatan, tetapi karena perkataan.

Saya juga teringat petatah-petitih: Di kandang kambing, mengembik. Di kandang sapi, melenguh. Maknanya: pandai-pandailah kita membawakan diri. Kita mesti pandai menyesuaikan diri dengan keadaan. Bahasa kekiniannya: akomodatif.

Kalau demikian halnya, bagaimana jika kita masuk kandang harimau? Apakah akan mengaum juga? Sederhananya: jika kita masuk ke wilayah para preman, apakah kita akan menjadi preman juga? Atau gaya kita saja yang “disesuaikan”?

Gaya dan bahasa bisa dipelajari. Seseorang akan bisa mengubah gaya dan cara berbahasa jika belajar dengan tekun. Sama seperti seseorang yang pembawaannya kaku, tidak bisa tersenyum, dan hawanya mau marah-marah melulu, lalu tiba-tiba terjun ke dunia politik. Ia harus mengubah bahasa tubuhnya biar lentur dan enak dilihat, tidak kaku, dan hilang rasa terlalu tinggi jika berhadapan dengan orang lain.

Tidak begitu halnya dengan tabiat. Tabiat akan hilang bersamaan dengan pecatnya ruh dari badan.

Saya dengarkan beberapa kali rekaman ucapan Kapolres Way Kanan yang berisi luapan kemarahan yang tidak terukur dan tidak fokus. Ia marah dengan sasaran yang tidak jelas di depan dua orang yang sebenarnya jelas: dua wartawan.

Kapolres Way Kanan berhadapan dengan wartawan, tetapi bahasanya bukan bahasa seorang Kapolres. Ia seperti memarahi anak buahnya atau memaki preman yang tertangkap setelah ngutil uang di pojok pasar. Ia trauma dengan pengalamannya yang dicaci maki di medsos terkait dengan rekaman dirinya, tetapi ia meluapkan kepada dua orang wartawan yang hendak meliput sebuag peristiwa.

Tidak hanya marah dengan dua wartawan itu, Kapolres Way Kanan juga menilai media cetak (koran) dan media online. Ia membandingkan koran dan media daring. Ia meninggikan detik (maksudnya detik.com) sembari menilai rendah koran. Dalam kemarahannya, Kapolres Way Kanan menyebutkan bahwa sekarang ini orang tidak lagi membaca koran dan lebih banyak membaca media daring.

Khusus untuk yang satu ini, saya agak setuju. Fakta memang demikian. Namun, untuk apa dia menilai sesuatu yang bukan urusannya? Yang jadi urusannya saat itu adalah soal dua kelompok massa yang pro dan kontra terhadap pengangkutan batu bara yang melintasi jalan raya. Dua wartawan itu hendak meliput.

Sialnya, karena Kapolres Way Kanan terlalu emosi, ia tidak sadar bahwa tidak semua orang itu sama. Dua wartawan itu tidak sama dengan wartawan-wartawan lain yang pernah bergaul dengannya. Ah, ia pasti juga tidak tahu bahwa ada juga wartawan yang tidak bisa ditundukkan dengan bergepok-gepok uang. Ia main pukul rata saja.

Sialnya lagi, karena diiputi emosi, vokal suaranya jadi “ngglibet” sehingga kata “koran Lampung” terdengar sebagai “orang Lampung”. Alhasil, ketika ia menilai setengah mencaci koran Lampung ia pun seperti menilai dan mencaci orang Lampung. Itulah sebabnya, sejak kemarin (28/8/2017) banyak orang Lampung yang marah karena menilai Kapolres Way Kanan sudah menghina orang Lampung.

Saya mengritik keras cara Kapolres Way Kanan menghadapi wartawan. Namun, saya tidak sepakat jika perkataan kasar Kapolres Way Kanan dibawa ke urusan SARA. Saya meyakini dalam rekaman itu Kapolres Way Kanan menyoal koran Lampung, bukan orang Lampung. Jadi, kalau mau marah, yang layak marah adalah “orang koran”, yaitu kawan-kawan yang hidup dan berjuang untuk menghidupkan koran. Bukan kita sebagai orang Lampung.

Loading...