Beranda Views Opini Bahaya Swamedikasi atau Mengobati Diri Sendiri

Bahaya Swamedikasi atau Mengobati Diri Sendiri

219
BERBAGI

Oleh dr. Handrawan Nadesul

Lebih buruk akibatnya selain obat palsu bila kita memilih mengobati diri sendiri atau swamedikasi. Mengapa?

Diagnosis penyakit yang sama, atau keluhan dan gejala yang sama, belum tentu obatnya sama. Mata merah, misalnya, belum tentu infeksi mata sehingga obatnya bukan obat tetes antibiotika, karena bisa saja ini gejala glaucoma.

Obat darah tinggi ada beberapa golongan, tiap golongan ada sekian merk dagang. Tiap kasus darah tinggi membutuhkan obat yang belum tentu sama. Obat yang cocok untuk seorang kasus belum tentu cocok untuk seorang kasus darah tinggi lainnya. Demikian pula obat antidiabetik. Untuk orang gemuk berbeda dengan yang untuk tidak gemuk, yang ada penyakit jantung berbeda pula dengan yang penyakit ginjal.

Apa semua kasus diare perlu dihentikan diarenya? Belum tentu. Pemakaian antidiare secara sembarangan tentu belum tentu tepat. Justru kalau diare masih ringan biarkan diare tetap berlangsung selama tidak mengancam dehidrasi, supaya bibit penyakit atau racun penyebabnya terbuang keluar. Memberi antidiare justru menahan racun atau bibit penyakit tetap di dalam usus.

Obat batuk ada dua jenis, yang untuk batuk kering dan untuk batuk berdahak. Maka obat batuk kering tidak cocok untuk kasus batuk berdahak, begitu juga sebaliknya. Kalau batuk tidak mereda lewat seminggu, jangan lanjutkan minum obat batuk, karena perlu diperiksa dokter. Batuk menahun kemungkinan TBC atau kanker paru.

Paling sering di kita pemakaian antibiotika secara serampangan. Sedikit-sedikit dugaan infeksi langsung ditembak antibiotika, bahkan golongan yang generasi mutakhir. Itu yang dirisaukan WHO, karena kita kelewat gampang memakai antibiotika yang belum tentu diperlukan. Akibatnya semakin banyak antibiotika yang sudah tidak mempan lagi atau resisten obat, dan perlu antibiotika golongan lebih baru untuk mengobati bibit penyakit yang sama. Harga lebih tinggi membebani pasien. Flu awalnya tidak perlu antibiotika karena virus penyebabnya. Virus tidak perlu antibiotika karena memang tidak mempan antibitoika.

Gejala demam dan panas memang bagian dari infeksi. Namun tidak semua demam dan panas tinggi pasti infeksi. Dan kalaupun betul sebab infeksi, kalau virus penyebabnya, bukan antibiotika obatnya. Infeksi virus khusus yang bukan virus flu, ada tersendiri obatnya, dan dokter yang bisa memilihkan.

Jenis antibiotika tentu tidak sama cara kerjanya, berbeda pula target organnya. Ada antibiotika yang lebih tepat untuk saluran pernapasan, selain untuk saluran pencernaan, atau otak, atau paru, dan perlu pula mempertimbangkan apa jenis bibit penyakitnya. Untuk penyakit kelamin ada antibiotika tersendiri, demikian pula untuk lepra dan TBC. Dokter yang memilihkan apa antibiotika yang tepat untuk setiap kasus infeksi. Untuk kuman jenis tertentu berbeda pilihan antibiotikanya.

Penyakit mag juga bukan cuma satu macam. Ada mag dengan kuman helicobacter pylori, yang berarti tak cukup cuma minum obat mag semata, karena kumannya juga harus dibasmi kalau ingin sembuh tuntas. Sementara penyakit mag sendiri ada beberapa jenis, hanya sekadar radang lambung, atau ada yang sudah luka atau tukak, selain ada yang sebab jiwa yang galau. Maka obatnya pasti tidak sama. Dokter yang memeriksa yang tahu obat apa saja yang tepat untuk sebuah kasus mag. Juga bila mengalami GERD (gastroesophageal reflux disease) asam lambung tumpah balik ke rongga mulut, beda pula obatnya.

Masalah sendi dan lutut juga bukan cuma satu, sehingga tidak mungkin misalnya gangguan lutut nyeri hanya satu obatnya. Tergantung nyeri lutut itu apakah radang menahun osteoarthritis, atau hanya sampah asam urat, atau hanya trauma, atau putusnya tendon, atau robeknya bantalan meniscus, atau hanya karena otot sekitar lutut. Maka tidak bijak kalau cuma berpikir glucosamine chondroitin belaka obatnya, bahkan sekarang dinilai kedua jenis obat tersebut sebagai terapi yang sia-sia belaka. Termasuk suntikan corticoasteroid atau hyaluronic acid, bukan penyelesaian medis, karena hanya mengurangi keluhan dan bukan menyembuhkan. Kalau struktur sendi lutut yang bermasalah, aus sendi, robek bantalan sendi, atau kerusakan persendian, obatnya tindakan bedah untuk koreksi, bukan obat. Demikian pula pengapuran tulang leher atau pinggang, atau jepitan saraf HNP, bukan obat yang menyelesaikan, melainkan tindakan bedah. Sakit pinggang low back pain, lumbago, otot yang kaku penyebabnya sehingga bisa dengan obat, tapi ruas tulang belakang keropos, posisinya meleset spondilolistesis, hanya tindakan bedah koreksinya, bukan obat.

Banyak lagi masalah medis yang pihak awam tidak memahami, sehingga mengobati diri sendiri, bahkan anjuran apoteker pun perlu disangsikan, oleh karena memang pihak yang memahami patofisiolgi bagaimana suatu penyakit berlangsung, dan seperti apa mekanismenya.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL

Loading...