Beranda News Nusantara Banjir di Bengkulu, 12 Ribu Orang Mengungsi

Banjir di Bengkulu, 12 Ribu Orang Mengungsi

411
BERBAGI
Warga mengevakuasi perabotan rumah tangga saat banjir di daerah perumahan Sawah Lebar Baru Balai Kota Bengkulu, Bengkulu, Sabtu, 27 April 2019. Tingginya intensitas hujan selama dua hari terakhir serta meluapnya sungai Bengkulu mengakibatkan banjir setinggi 100 - 175 cm di sejumlah titik rawan banjir di kota dan kabupaten se-provinsi Bengkulu. ANTARA

TERASLAMPUNG.COM  — Banjir di Bengkulu selain mengakibatkan 10 orang meninggal dan 8 orang hilang juga membuat 12.000 orang mengungsi.

“Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 4 unit fasilitas pendidikan, 40 titik infrastruktur rusak (jalan, jembatan, oprit, gorong-gorong) yang tersebar di sembilan kabupaten/kota, dan sembilan lokasi sarana prasarana perikanan dan kelautan yang tersebar di lima kabupaten/kota. Data dampak bencana ini dapat bertambah mengingat belum semua lokasi bencana dapat dijangkau,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui keterangan tertulis, Ahad, 28 April 2019.

Hujan deras yang mengguyur seluruh wilayah di Bengkulu sejak 26 April sore hingga 27 April 2019 pagi telah menyebabkan bencana banjir dan longsor. Sungai-sungai meluap dan longsor terjadi di banyak tempat.

Ada delapan kabupaten di Provinsi Bengkulu mengalami dampak buruk dan kerusakan fasilitas umum yakni, Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Bengkulu Selatan, Kepahiang, Lebong, Rejang Lebong dan 1 Kota Bengkulu. Saat ini, banjir sebagian sudah surut di beberapa wilayah. Namun banjir masih banyak menggenangi permukiman di beberapa wilayah dengan variasi ketinggian satu hingga lima meter.

Sutopo menuturkan, pemerintah provinsi Bengkulu dibantu dengan sejumlah organisasi kebencanaan hingga saat ini terus bekerja di lapangan baik melakukan evakuasi, mendirikan dapur umum, hingga distribusi kebutuhan para pengungsi. Sementara kebutuhan para pengungsi menurut BPBD yakni tenda pengungsi, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, peralatan bayi, hingga lampu darurat.

Kendala yang ditemukan yakni sulitnya menjangkau sejumlah lokasi banjir karena akses yang terputus. “Selain itu sulit koordinasi dengan sejumlah pihak karena terputusnya aliran listrik dan titik lokasi banjir maupun longsor banyak tersebar,” ujar Sutopo.

Tempo.co