Beranda News Kesehatan Bantu Penyembuhan Pasien Covid-19, Ini Efek Samping Dexamethasone Menurut Pakar

Bantu Penyembuhan Pasien Covid-19, Ini Efek Samping Dexamethasone Menurut Pakar

325
BERBAGI
Dexamethasone/Istimewa

TERASLAMPUNG.COM — Dexamethasone dalam beberapa hari terakhir menjadi buah bibir setelah diberitakan bahwa obat itu cukup membantu pada pasien infeksi virus corona atau Covid-19 yang berat.

Meski begitu, menurut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, obat steroid ini bisa jadi pisau bermata dua, karena bisa membantu pasien Covid-19, tapi juga memiliki beberapa efek samping.

Ari mengatakan, obat ini mempunyai efek samping yang harus menjadi perhatian baik oleh dokter maupun pasien, terutama pada penggunaan jangka panjang.

“Pada penggunaan jangka pendek pasien bisa merasakan sakit pada lambung, sampai mual dan muntah, sakit kepala, nafsu makan meningkat, sulit tidur dan gelisah. Timbul jerawat pada kulit,” ujarnya, dilansir Tempo, Kamis, 18 Juni 2020.

Informasi seputar riset dexamethasone berasal dari laporan ketua tim peneliti dari University of Oxford, Inggris. Riset ini belum dipublikasi di jurnal kedokteran, tetapi informasi awal efektivitas obat ini sudah dipublikasi, dan membuat dexamethasone menjadi obat pertama yang dapat memperbaiki survival pasien Covid-19.

Pasien yang menggunakan dexamethasone jangka panjang, Ari melanjutkan, akan menyebabkan terjadi moon face (wajahnya bengkak seperti bulan), terjadi peningkatan kadar gula darah, tekanan darah meningkat, tulang keropos (osteoporosis), daya tahan tubuh turun sehingga rentan terhadap infeksi.

Ari yang juga dokter spesialis penyakit dalam itu mengatakan, interaksi obat juga bisa meningkatkan efek samping pada pasien yang sudah mempunyai riwayat sakit maag sebelumnya.

Kombinasi steroid dengan obat antiradang nonsteroid misal fenilbutazone, asam mefenamat, natrium diklofenak, termasuk golongan coxib yang biasa digunakan radang sendi, bisa menyebabkan komplikasi lambung yang serius.

“Seperti pendarahan lambung sampai bisa menyebabkan kebocoran lambung dan usus dua belas jari yang bisa fatal buat pasiennya,” kata Ari.

Penelitian University of Oxford itu dilakukan pada 2104 pasien, di mana pasien mendapat dexamethasone 6 mg/hari baik secara oral atau intra vena selama 10 hari dan dibandingkan dengan 4.321 pasien yang tidak mendapat tambahan obat dexamethasone.

Pada pasien yang tidak mendapatkan obat itu, angka kematian tertinggi terjadi pada pasien yang butuh ventilator sebanyak 41 persen, pasien yang hanya menggunakan oksigen angka kematian 25 persen, dan pasien yang tidak membutuhkan intervensi respirasi angka kematian 13 persen.

Pada kelompok pasien yang mendapatkan dexamethasone ternyata terjadi penurunan kematian 1/3 kasus yang membutuhkan ventilator, hanya 1/5 pada kelompok pasien yang mendapatkan oksigen. Sementara pada kelompok pasien yang tidak membutuhkan bantuan respirasi pemberian dexamethasone tidak mempengaruhi angka kematian.

Jadi, kata Ari, jelas dari hasil penelitian itu, dexamethasone mempunyai efek terapi pada pasien infeksi Covid-19 dengan infeksi yang berat dan sedang, serta tidak mempunyai efek pada pasien Covid-19 yang ringan.

“Informasi ini penting diketahui oleh masyarakat kedokteran dan masyarakat umumnya. Untuk kasus yang ringan saja tidak efektif, apalagi jika obat ini digunakan untuk pencegahan infeksi Covid-19,” tutur Ari yang juga akademisi dan praktisi klinis.

Tempo

Loading...