Beranda Views Opini Banyak Media Abai dengan Bahasa (Indonesia) Jurnalistik

Banyak Media Abai dengan Bahasa (Indonesia) Jurnalistik

774
BERBAGI

Oleh: Yurnaldi

Alhamdulillah bisa diskusi singkat tentang bahasa jurnalistik dengan mas Ibnu Wahyudi atau lebih dikenal Mas Iben, salah seorang guru bahasa jurnalistik saya. Tahun 1997 dalam pendidikan di KOMPAS, mas Iben salah seorang gurunya para wartawan, selain mbak Felicia. Keduanya dosen FIB Universitas Indonesia.

Setelah pendidikan kebahasaan jurnalistik/bahasa media massa tersebut, saya berkali-kali kemudian jadi juri lomba karya jurnalistik dan juga juri untuk penilaian bahasa media massa. Sempat dua kali diminta jadi juri oleh Balai Bahasa Sumatera Barat. Ketika ditarik jadi editorial di Jakarta, saya juga sempat jadi Pengurus Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Pusat.

Sekali dua kali saya juga menulis esai dan makalah kebahasaan media massa. Begitulah, wartawan harus punya pengetahuan soal bahasa, agar beritanya bermakna dan tidak mengabarkan berita/informasi bohong kepada pembaca. Kesalahan berbahasa di media cerminan dari sistem kerja yang amburadul di redaksi dan juga medianya belum profesional. Kredibilitas wartawan dan medianya belum teruji.

Yang penting dalam berbahasa, baik media cetak atau media daring, tak harus seperti KOMPAS dan TEMPO. Sampaikanlah informasi dengan benar dengan bahasa yang gampang dicerna. Bahasa yang salah dan keliru, menjadikan wartawan dan medianya menerbarkan kebohongan. Banyak contoh untuk hal ini jika kita mau mencermati media massa.

Sayangnya, tidak banyak media yang punya penyelaras bahasa atau redaktur bahasa. Pelatihan atau pendidikan internal soal kebahasaan juga nyaris tak ada.
Bahkan, wartawan dengan kompetenai tertinggi, yakni wartawan utama, juga acapkali melakukan kesalahan berbahasa di media massa.

Ke depan, Dewan Pers perlu menilai karya wartawan dari sisi bahasa jurnalistik. Jika perlu, untuk uji kompetensi wartawan harus menyaratkan lulus Bahasa Jurnalistik.
Bukankah di balik jualan media massa itu sebenarnya adalah menjual bahasa?

Bisa dibayangkan, jika bahasa berita/laporan/esai/kolom kacau, pasti minat membaca berita dan/atau media yang bersangkutan berkurang. Penyuka atau pelanggan nimim, iklan jarang masuk. Makanya, media besar sangat peduli dengan bahasa jurnalistik. Jika perlu, jangan sampai ada kesalahan berbahasa di media. Berdalih mengatakan kesalahan berbahasa sebagai hal yang manusiawi, itu menunjukkan kerja yang belum profesional.

Hanya satu dua media yang memberikan sanksi surat peringatan (SP) kepada wartawan dan redaktur jika ada kesalahan berbahasa jurnalistik di mesia massa. Namun, banyak media lain bersikap masa bodoh. Mungkin karena kebodohan? Entahlah…

*Yurnaldi adalah seorang jurnalis cum sastrawan. Tinggal di Padang, Sumatera Barat

Loading...