BBPOM Sita Ribuan Obat Ilegal dan Air Minum Kemasan Tanpa Izin Edar

Bagikan/Suka/Tweet:

Zainal Asikin/Teraslampung.com

Pelahsanana Harian (Plh) Kepala BBPOM Bandarlampung, Drs. Irwansyah (kiri) didampingi Kabid Serlik, Drs. Hartadi menjelaskan penyitaan  obat ilegal dan air minum kemasan, di Kantor BBPOM di Jalan Dr. Susilo, Telukbetung Utara, Bandarlampung, Jumat (4/12) sore.

BANDARLAMPUNG – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandarlampung, menyita obat kemasan tradisional ilegal sebanyak 3.192 dan 1.026 Air Minum Kemasan Tanpa Izin Edar. Penyitaan ribuan obat ilegal dan air minum kemasan tersebut, merupakan hasil Operasi
Gabungan Nasional (OPGABNA) yang digelar selama lima hari sejak tanggal 30 November hingga 4 Desember 2015.

Pelaksana harian (Plh) Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandarlampung, Drs Irwansyah didampingi dengan Kepala Bidang Serlik, Drs Hartadi mengatakan, ribuan obat kemasan tradisional ilegal disita karena di dalamnya mengandung bahan-bahan kimia. Hal itu
melanggal Undang-Undang kesehatan No 36 Tahun 2009

“Obat ilegal itu berhasil kami sita dari beberapa toko penjual obat yang ada di Bandarlampung,”kata Irwansyah dalam konferensi pers, Jumat (4/12) sore.

Dikatakannya, dengan hasil tangkapan dan sitaan obat tradisional ilegal yang disita ini, pihaknya akan memproses perkaranya ke tingkat penyelidikan.

“Tapi sebelumnya, kami akan gelarkan perkaranya terlebih dulu untuk meningkatkan statusnya ke penyidikan,”ujarnya.

Menurutnya, dari 3.192 obat kemasan ilegal yang disita ada sekitar 25 jenis obat tradisional dengan nilai keekonomian mencapai sekitar Rp 95 juta.

“Untuk produk obat tradisional ilegal sitaan, paling banyak beredar dan digunakan oleh masyarakat adalah jenis obat kuat,”ungkapnya.

Selain menyita obat tradisional ilegal, Irwansyah mengutarakan, pihaknya juga menyita produk pangan tanpa izin edar berupa air minum kemasan sebanyak 1.026. Air minum kemasan tersebut, beredar di masyarakat tanpa adanya izin edar hal tersebut melanggar Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang pangan.

“Air minum kemasan yang disita, kami dapatkan dari dua Kabupaten di Lampung. Yakni Kabupaten Pesawaran dan Kota Metro,”terangnya.

Nama air minum dalam kemasan yang disita, lanjut Irwansyah, untuk  yang dari Kabupaten Pesawaran, inisial produknya adalah TB dan di Kota Metro, Y untuk inisial produknya.

Dari 1.026 air minum kemasan yang disita nilai keekonomian ditaksir mencapai sekitar Rp 20,2 juta. Ditegaskannya, setiap pruduk baik itu pangan dan obat harus mengantongi izin edar dari intstansi terkait.