Beranda Views Kopi Pagi Begal Berdasi tak Pernah Ditembak Mati

Begal Berdasi tak Pernah Ditembak Mati

265
BERBAGI
Ilustrasi

Oyos Saroso H.N.

oyos sarosoBeberapa tahun lalu,  saya bertemu dengan seorang anak remaja tanggung di sebuah lembaga pemasyarakatan (Lapas) di  Lampung. Wajahnya polos. Kulitnya legam Taksiran saya, usianya belum  16 tahun. Anak sebelia itu sudah harus menghuni Lapas karena kesalahan yang diperbuatnya: membegal pengendara sepeda motor dan menujah pemiliknya dengan senjata tajam hingga tewas.

Badu (bukan nama dia sebenarnya) berasal dari sebuah daerah di Lampung yang terkenal sebagai daerah ‘merah’ karena banyak pelaku begal. Ia membegal pengendara sepeda motor dengan alasan sangat sederhana: ingin memiliki uang.  Cara termudah bagi anak pemberani dan nekat sepeti Badu adalah membegal sepeda motor. Kalau sepeda motor sudah di tangan, maka uang bisa segera didapatkan setelah sepeda motor laku dijual.

Saya  heran ada anak semuda itu memiliki keberanian merampas barang milik orang lain dan membunuh korbannya. Namun,logika saya barangkali akan bertolak belakang dengan logika Badu dan orang-orang yang mengajarinya menjadi seorang pembegal.

Pikiran saya mungkin naif. Barangkali sama dengan naifnya pemikiran  orang-orang ramai yang bersetuju menghapus begal dengan menembak mereka hingga mati satu per satu.Begal harus dihabisi. Dan, cara menghabisi mereka adalah dengan mematikan mereka satu per satu saat mereka melakukan aksinya. Inilah wacana yang akhir-akhir menjadi aksi riil di lapangan. Banyak orang bersorak gembira dengan langkah ini.Mereka menyangka bahwa begal tidak ada artinya di dunia. Mereka harus dibinasakan karena hanya merugikan orang lain, membuat nyawa manusia melayang, dan jadi biang kekacauan.

Saya tidak lagi bertemu dengan Badu. Pasti ia kini sudah dewasa. Dan, kalau kebiasaan selama  di Lapas diteruskan,  kemungkinan besar ia kembali ke jalan yang benar.Ya, selama di Lapas ia membuat catatan harian. Ia belajar menulis puisi dan dilatih langsung oleh seorang penyair betulan.Saya sempat terkejut ketika membaca larik-larik imajinasinya. Salah satunya ia menulis begini: “Senja bertamu membawakan resep….”

Bagi saya, idiom “senja bertamu” tidaklah biasa. Itu sangat orisinal. Yang mengejutkan, idiom itu ditemukan oleh seorang penghuni Lapas yang SD pun tidak  lulus. Tulisan tangannya memang cakar ayam. Tapi isinya membuat saya takjub.

Setiap kali mendengar kabar ada begal tewas ditembak, imajinasi saya sering mengembara jauh, membayangkan Badu yang tak melanjutkan bakatnya sebagai penyair. Saya bayangkan,  setelah keluar dari Lapas, Badu kembali menekuni kebiasaan lamanya bergelut dengan kekerasan. Bergelut karena kemiskinan yang mendera keluarganya.

Badu juga menjadi bagian orang-orang keras yang dicampakkan orang ramai yang mengaku dirinya baik-baik tetapi kerjanya tiap hari jadi pembegal yang jauh lebih sadistis dibanding begal sepeda motor.

***

Di Lampung –juga di daerah lain di Indonesia—banyak anak seperti Badu: dilempar kemiskinan, dihinakan masyarakat, dan akhirnya menjadi pelaku kejahatan.  Mereka menjadi jahat karena dipaksa keadaan.  Makanya, agak mengherankan jika wacana menghapus begal dilakukan dengan cara menembak mereka satu per satu.  Bukankah kalau sumber utamanya adalah kemiskinan maka yang harus diatasi adalah kemiskinannya lebih dulu? Menghabisi begal tanpa mencari dan mengatasi penyebab mereka menjad begal, menurut saya, bukanlah solusi. Aksi begal mungkin sesaat akan mereda.  Namun, ada kemungkinan kelak akan meletup lagi dan berbiak di mana-mana.

Para pembegal memang kerap sangat kejam. Di Lampung, yang mengendalikan mereka pun, konon,  terkadang bukanlah orang miskin di kampungnya. Artinya, mereka bekerja dengan sistem juga. Muaranya tetap akan kepada bos besar. Bos besar begal konon orang terpandang di kampung, Seisi kampung tetap mengelu-elukannya. Ketika jasadnya terbujur kaku karena ditembak polisi di daeah lain, para pentakaziah pun datang dari berbagai kampung.

Pola itu hampir sama dengan begal berdasi  yang pandai cas-cis-cus, tampak intelek, bermobil mewah, dan tampak alim layaknya ahli surga. Begal berdasi tetap aman meskipun dia sudah membegal nasib pencari kerja setiap ada pembukaan calon pegawai negeri sipil.

Begal berpakaian safari tetap aman sentausa meskipun bisa membegal uang negara hingga puluhan miliar rupiah. Mereka bisa terus membegal APBN  APBD, dana bandes, dana BOS, bahkan dana bantuan kematian–sepanjang massa. Sampai aparat penegak hukum menangkapnya dan menjadikannya ATM berjalan.

Hingga rambut di kepala sudah ubanan seperti sekarang, saya belum pernah mendengar ada begal berdasi dan berbaju safari ditembak mati. Nama mereka tetap harum. Bahkan mereka tidak pernah masuk daftar nama pembegal yang layak dibasmi. Kalaupun mereka bernasib buruk dan terpaksa masuk Lapas, mereka masih berpeluang menikmati hasil begalannya.