Begal, Ketaksengajaan yang Disengaja?

  • Bagikan
Ilustrasi

Nusa Putra*

TERASLAMPUNG.COM — Saat masyarakat mempersoalkan kecurangan pemilu yang dimenangkan Golkar dengan angka yang sangat spektakuler, tiba-tiba merebak kabar sejumlah tahanan di Nusakanbangan melarikan diri. Termasuk Joni Indo yang tercatat sebagai tahanan yang ditakuti. Segera saja media masa beralih fokus dari berita kecurangan pemilu ke pelarian para tahanan. Hari-hari berikutnya berita itu menjadi semacam cerita bersambung. Akibatnya berita kecurangan pemilu menghilang dengan sendirinya. Itu terjadi pada zaman Orde Baru.

Setiap kali ada kehebohan yang menyangkut kebijakan pemerintah atau apapun yang dapat menyudutkan pemerintah selalu muncul kejadian yang sangat menghebohkan untuk mengalihkan perhatian. Publik pernah dibuat terkejut dengan penemuan mayat yang dipotong sampai tiga belas bagian. Beritanya tepat saat ada masalah serius menyangkut pemerintah.

Kejadiannya pada 1985 dikenal dengan mutilasi Setiabudi. Sungguh bikin heboh karena mayatnya ditaruh dalam dua kardus dan diletakkan di tempat umum Jalan Setia Budi dekat Jalan Sudirman. Di pusat kota Jakarta. Penempatan dan cara menempatkannya dalam kardus sungguh sangat terencana. Dan berhasil memancing kehebohan.Sampai kini kasus mutilasi itu tidak terungkap.

Tampaknya pola itu terus berlanjut. Mari kita cermati ulang dan renungkan. Selama pemerintahan yang lalu, seringkali muncul penangkapan terhadap teroris yang biasanya pakai tembak menembak saat pemerintah menghadapi masalah. Selanjutnya muncullah berita heboh yang bisa mengalihkan perhatian. Boleh jadi itu kebetulan atau tidak sengaja. Tetapi bukan luar biasa bila ada yang menduga bahwa kejadian itu adalah ketaksengajaan yang disengaja.

Kini begal merajalela. Terjadi di banyak tempat pada saat yang bersamaan. Menjadi tragis karena ada pembegal yang dibakar massa hingga tewas.

Mulai muncul pertanyaan di masyarakat. Mengapa begal muncul tepat pada saat terjadi perseteruan KPK vs Polri?

Beragam spekulasi merebak. Ada yang berpendapat, para begal itu memanfataatkan kesempatan karena para penegak hukum cakar-cakaran, jadi kurang fokus dengan keamanan masyarakat. Bagi mereka inilah saat tepat untuk beroperasi.

Ada pula yang berpendapat bahwa keadaan ini sengaja diciptakan, entah oleh siapa untuk menunjukbuktikan bahwa Polisi sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Cara ini dianggap efektif untuk menaikkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polisi. Sekaligus untuk mementahkan tuduhan bahwa Polisi hanya bersibuk dengan kriminalisasi KPK.

Polisi memang bertindak cepat mengatasi para begal ini. Mereka yang sudah membuat tuduhan bahwa keadaan ini diciptakan untuk menaikkan pamor Polisi yang lagi jatuh, malah melihat tindakan cepat ini bagian dari skenario. Bukankah dengan demikian semakin terlihat dan dirasakan bahwa keberadaan Polisi sangat dibutuhkan?

Ada pula yang menduga bahwa begal yang merajalela ini justru dilakukan kelompok tertentu untuk semakin menyudutkan Polisi yang sudah tersudut dengan tuduhan pelemahan KPK dan hanya membela kepentingan kelompok politik tertentu. Mereka percaya bahwa ini tindakan sengaja karena sifatnya yang sistematis, tersebar dan berhasil menimbulkan rasa takut dan teror dalam masyarakat. Pastilah tindakan seperti ini dirancang oleh pihak yang berpengalaman, terlatih dan memiliki akses kekuatan yang sangat memadai.

Kita tahu bahwa apa yang kini terjadi yaitu perseteruan KPK vs Polisi melibatkan kepentingan sejumlah elit yang sama-sama memiliki kekuatan pendukung yang tidak sedikit, dan jaringan yang luas. Mereka adalah pihak-pihak yang sedang berada dalam lingkar kekuasaan. Juga mereka yang pernah jadi penguasa. Ini ibarat para raja hutan bertarung dan binatang kecil tak berdaya yang jadi korban.

Kita tidak pernah tahu mana yang benar dari berbagai dugaan di atas. Masyarakat demokratis yang terbuka memang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk berpendapat dan menyebarluaskan pendapatnya. Apalagi kini penggunaan teknologi informasi sudah sangat meluas dan menjadi kebutuhan banyak orang. Dengan demikian berkembangnya beragam pendapat menjadi lebih mudah dan cepat.

Pastilah tidak mudah menguji secara empiris, dengan fakta dan data, mana pendapat yang benar. Pengujian empiris itu sangat penting karena berdasar bukti-bukti faktual. Jika hanya mengandalkan pemikiran logis-rasional, mengikuti nalar, ketiga dugaan itu bisa diterima. Karena alasan-alasan yang mendasarinya sangat kuat dan logis. Kebenaran tidak boleh hanya didasarkan pada pemikiran logis. Harus ada bukti empiris.

Sebagai masyarakat, kita sangat berharap janganlah keamanan publik sampai dikorbankan karena beragam alasan yang bisa jadi berakar dari konflik kepentingan elit. Apapun alasan dan penyebabnya, begal adalah kejahatan yang nyata-nyata sangat merugikan, meresahakan dan meneror rakyat. Karena itu harus segera diberantas dengan penegakan hukum yang cepat, tepat, tegas, keras dan konsisten.

Kemunculan begal yang tiba-tiba dan bersifat massif serta meluas merupakan isyarat bahwa memang terjadi banyak masalah dalam tubuh bangsa ini. Bila kemunculan begal itu merupakan tindakan kriminal murni. Itu berarti kondisi ekonomi kita belum memberikan kesejahteraan minimal bagi rakyat banyak. Sehingga ada bagian dari masyarakat yang nekat melakukan tindakan kriminal untuk mendapatkan uang. Meski kita tak pernah tahu, apakah penghasilan dari begal itu untuk memenuhi kebutuhan hidup atau mengikuti gaya hidup.

Kemunculan begal juga menunjukkan bahwa sistem keamanan kita membutuhkan perbaikan dan penyempurnaan. Perlu rumusan ulang tentang keikutsertaan masyarakat sebagai penjaga kamtibmas. Dengan demikian tindakan anarkis main hakim sendiri seperti membakar begal hidup-hidup sampai tewas tidak terjadi lagi. Bukankah para penjahat itu harus menghadapi hukum positif, bukan hukum rimba.

Jika kemunculan begal merupakan sebuah ketidaksengajaan yang disengaja atau rekayasa, apapun alasan dan kepentingannya, kita sungguh sangat menyesalkan dan mengutuk keras. Perlu dilakukan penyelidikan untuk menemukan dalang atau aktor intelektualnya.

Karena kita berprinsip jangan pernah korbankan rakyat untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Pertikaian di kalangan elit harus diselesaikan tanpa mengorbankan rakyat.

INDONESIA HEBAT, JIKA RAKYAT DISEJAHTERAKAN, BUKAN DIKORBANKAN.

* Dr. Nusa Putra adalah dosen UNJ

  • Bagikan