Beranda Seni Esai Belajar Akting

Belajar Akting

215
BERBAGI

Oleh Alexander GB

Robert Koplak lagi pusing tingkat dewa. Pasalnya ia mesti membuat semacam rumusan tentang akting dengan bahasa yang sederhana, tapi komprehensif dan sekaligus mudah dimengerti.

Akhirnya ia head-stand biar dapet ide mungkin. Tak lama kemudian handphone bututnya di atas meja bergetar. Robert Koplak menerima pesan dari pantia yang mengingatkan bahwa satu hari lagi acaranya. Berarti besok dia mesti sharing pengalaman berteaternya.

Robert menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih geleng-geleng, mengapa pula menyetujui permintaan sanggar seni kampus yang ada di ujung Bandarlampung itu. Tapi kalau bukan dia, siapa lagi yang mau dan bisa sharing pengamalan? Jumlah pelaku teater agak langka di Lampung. Dan Robert termasuk dari yang segelintir itu. Maka dia diminta sharing pengamalan.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, muncul Moh Stamper, seniornya, yang sore itu datang sambil menggerutu tentang nasib bangsa yang semakin tidak jelas arahnya.

Sebagai salah satu murid utama dan telah banyak mengikuti proses, Moh Stamper tentu banyak pengalaman dan wawasan tentang apa dan bagaimana berakting dalam teater yang tepat. Robert Koplak sedikit tenang. Mengapa tidak bertanya dengan Om Moh Stamper yang setahun lalu terpaksa pensiun dari dunia pemeranan lantaran ada desakan kebutuhan lain yang tak bisa ditinggalkan, pikirnya.

“Om, besok itu saya akan memberi materi tentang akting teater. Jadi kira-kira apa yang pertama-tama harus saya berikan pada mereka? Pesertanya itu mahasiswa-mahasiswa yang baru mereka rekrut dan hendak dijadikan sebagai anggota. Semacam orientas untuk calon anggota.”

“Pengantar akting teater?” tanya Moh Stamper.
“Iya Om. Jadi materi pertamannya itu apa, maksudnya yang sistematis dan dasar? Waktu itu Om pernah ngasih materi tentang Motiv dan sasaran. Bahwa setiap akting atau laku di atas panggung harus jelas motif dan sasarannya, agar meyakinkan,” ujar Robert Koplak.

“Terus?”

“Waktu lainnya sepertinya sudah berubah, yang penting itu understanding dan beleiveble,”

“Itu ga berubah, beda konteksnya, tapi terusin dulu,”

“Nah, untuk understanding dan beleiveble itu tubuh, emosi dan kognitif kan harus fleksibel, harus terlatih?”

“Ya.”

“Lalu materi apa yang pertama harus di berikan, apa cukup olah tubuh aja, atau pengantar teater, siapa tokohnya dan lain sebagainya,”

“Boleh juga begitu.”

“Maksud saya begini Om. Panitia bilang materinya itu sebagian teoritik dan sebagian praktik. Jadi sehabis materi teori kan perlu contoh-contoh. Ini loh hasil yang kita capai dari sejumlah latihan itu. Mereka butuh contoh, ini kelemahan saya Om. Saya ini kan baru berapa kali pentas, jadi merasanya kalau memberi contoh kurang meyakinkan. Sementara di sisi lain mereka pasti membutuhkan contoh yang tepat kan om? biar kelak tidak tersesat.”

“Masalahnya dimana?”

“Kita ini tidak ada dokumentasi yang baik, khususnya proses latihannya, jadi contohnya itu bagaimana? Terkadang sulit memberi tahu saja, agar mereka setelah selesai materi, minimal secara umum tahulah bahwa syarat akting yang baik itu understanding dan sekaligus
beleivable,”

“Ya, mestinya juga seperti itu, biar tidak tanggung-tanggung pemahaman mereka.”

“Nah, gimana untuk contohnya. Om mau bantu tidak?”

“Ya enggaklah. Besok saya ada kerjaan. Ada beberapa batu yang harus di potong dan diasah. Orangnya nanti marah-marah kalau gak dikerjain.”

“Terus gimana om”

“Kamu ini kuper, kolot, atau bagaimana sih. Kayak orang tidak pernah nonton tivi aja. Suruh aja panitia atau kamu cari sendiri dokumentasi yang pasti banyak di youtube. Kalau tidak minta panitia sediain televisi. Nah, setelah kamu memberi materi yang teoritik, waktu mau memberi contoh, setel aja tuh tivi. Cari berita tentang anggota dewan yang lagi rapat di senayan. Akting mereka itu benar-benar meyakinkan. Yang sok peduli dengan rakyat, pada keutuhan NKRI, bahwa suara rakyat itu suara Tuhan sehingga kedaulatan tertinggi yang di tangan rakyat, tapi mereka kangkangi sendiri di lain kesempatan. Mereka bantah sendiri dengan perilaku mereka. Nah itu, mereka itu yang baru benar-benar aktor, yang dalam istilahmu tadi bisa masuk kategori understanding dan believeble,”
ujar Moh Stamper.

“Jadi menurut Om, metode Stanislavski atau Grotowski masih kalah dengan mereka?”

“Ya jauhlah. Itu sudah ketinggalan Koplak. Kalau Stanis dan Grotowski kan buat aktor panggung dan studio. Nah, mereka itu bisa mempraktekkan dalam kehidupan. jadi mudahnya kau tengok saja tingkah anggota dewan yang terhormat itu, beres deh semuanya.”

“Metode mereka itu kira-kira apa Om namanya?”

“Muka tebal hati hitam,”

“Berarti saya mesti kumpulin berita dari Senayan?”

“Ya tidak harus, anggota DPRD provinsi kita sama juga kondisinya. Kehebatan akting mereka benar-benar teruji. Kalau di depan media ini semua untuk kepentingan rakyat, kita siap melayani rakyat, sebab kedaulatan ditangan rakyat. Tapi lihat kondisi mereka, jangankan mikirin rakyat, mikirin diri mereka saja sudah kepayahan. Maka mereka korupsi, sikat ini, sikut itu. Lihat akting mereka kalau lagi kampanye, sampai bisa ngluarin air mata untuk menunjukkan sok prihatin atas nasib kita, tapi setelah jadi, pesss… hilang begitu saja… Akting mereka itu gile bener, bener-bener gila,”

“Tapi Om, bukankah memang tugas mereka memikirkan nasib bangsa ini,”

“Jangan sok polos ah,”

“Iya ya. Apa ga capek ya mereka begitu?”

“Ya, sama saja dengan kita. Kalau mereka capek ya ga makan, ga bisa beli rumah dan mobil lagi.”

“Bukannya gaji mereka sudah berpuluh-puluh kali lipat kita bukan?”

“Namanya juga manusia, mana ada kata cukup, apalagi otak dan hatinya sudah tertutup. Ya karena penghayatan terhadap peran tadi.”

“Jadi sudah fix, kumpulin dokumentrasi rapat DPR di Senayan? Nanti di marah suhu ga?”

“Hahaha…. Ya gal ah. Dia juga pasti akan bilang hal yang sama…, Aih sudah ah, mendingan kamu bikin kopi dulu! ngajak diskusi ga bikinin kopi.”

“Siap Om,” ujar Robert Koplak yang langsung bangkit dan melangkah ke dapur sambil cengar cengir dan sesekali ngegeleng. Beres sudah PR yang hampir tiga jam ia pikirin hingga kepalanya nyaris pecah tadi, pikirnya.