Beranda Views Kopi Pagi Belajar dari Para Siswa Tuna Netra

Belajar dari Para Siswa Tuna Netra

355
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Pada 21-23 April 2016, kami bertiga–saya, Ari Pahala Hutabarat, dan Fitriyani–mengampu sebuah kelas yang terdiri atas sekitar 60-an siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) plus para guru pendamping. Kami bertiga diminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung mengajar para siswa SMP, SMA, dan mahasiswa tuna netra menulis puisi dan cerpen.

Mengajar siswa dan guru menulis puisi,cerpen, esai, dan opini bagi kami sudah biasa.Namun, mengajar para siswa tuna netra baru pertama kali lakukan.

Pertama masuk ke kelas dengan siswa didik yang tidak biasa, semula ada rasa khawatir menyelinap di benak saya. Kekhawatiran utama, tentu saja, masalah komunikasi dan daya serap siswa. Semula saya bayangkang, mengajar menulis para siswa tuna netra akan lebih sulit dibanding mengajar siswa yang memiliki penghilatan nornal. Namun, kekhawatiran dan bayangan buruk itu sirna seketika saat respons para siswa dan guru pendamping begitu hangat. Mereka antusias dan memiliki energi yang tak kalah dengan para siswa di sekolah umum.

Ketika memasuki sesi belajar menulis puisi, ternyata kami tidak memulainya dari nol. Hal itu karena mereka juga sudah mengenal puisi. Saat diminta praktik mengembangkan puisi dengan citraan tertentu, mereka juga cukup tangkas. Begitu juga ketika memasuki sesi belajar menulis cerpen. Mereka sudah mengenal plot, tokoh, latar belakang (setting), dan unsur-unsur intrinsik sebuah cerpen.

Kalau ada kekurangan, paling umum adalah kekurangjelian mereka dalam pemakaian ejaan yang disempurnakan (EYD). Mereka umumnya juga lancar menggunakan kutipan langsung untuk menggambarkan dialog para tokoh.Namun,kekurangan itu sebenarnya juga dimiliki para siswa di SMP dan SMA umum. Bahkan, para mahasiswa, guru, dan dosen pun masih sering kedodoran dengan EYD. Artinya, kelemahan mereka masih sangat manusiawi.

Yang membuat kami makin bersemngat, beberapa peserta memiliki kecerdasan yang sangat bagus. Logika berpikir mereka bagus. Mereka ada yang bersekolah di SMA Negeri melalui jalur pendidikan inklusi. Di sekolah umum itu, meskipun mereka tuna netra, tetapi prestasinya tidak kalah dengan para siswa yang panca inderanya sempurna. Beberapa di antara mereka multitalenta: berbakat di bidang sastra, musik, dan stand up comedy. Beberapa di antara mereka sense of humornya bagus.

Dengan kelebihan-kelebihan para siswa SLB itu, sebenarnya malu rasanya kami disebut sebagai pengajar atau mentor. Proses belajar-mengajar selama tiga hari itu lebih pas disebut sebagai proses  saling belajar. Kami hanya membukakan sedikit pintu rahasia memasuki dunia penciptaan karya sastra,  sedangkan kami belajar banyak dari mereka.

Kami, terutama saya, belajar dari para tuna netra dan para guru pendamping arti semangat, ketekunan, kerja keras, syukur kepada Maha Pencipta, dan keikhlasan.***

SIMAK: Video Pelajar SLB Lampung Membacakan Karya Puisi