Beranda Views Kopi Pagi Belajar dari Trilogi Kisah “Pendekar Pemanah Rajawali”

Belajar dari Trilogi Kisah “Pendekar Pemanah Rajawali”

431
BERBAGI

Happy Sulistyadi

Nafsu bagai api. Bila dapat dikendalikan, ia amat bermanfaat bagi kehidupan. Tanpa api, hidup menjadi tidak normal. Tapi, sekali dibiarkan merajalela, api akan membakar kehidupan (Kwa Sincai).

Di negara bagus, bila kau menjadi pejabat, kejujuranmu tak berubah, tetap seperti sebelum menjadi pejabat. Di negara buruk, bila kau menjadi pejabat, kau berkorban jiwa-raga. Tapi, kau tetap tak merusak kehormatan dirimu. Itulah keluhuran budi (Oey Yong).

Dari manakah penguasa memperoleh tahta dan harta berlimpah? Niscaya, dari rakyat. Menginsafi semua kenikmatan itu berasal dari keringat rakyat, maka dengan bertambahnya usia, tujuh raja Tay Li di Selatan pada periode berbeda akhirnya menjadi pendeta (It Teng Taysu).

Kesengsaraan, barangkali, bisa membuat cita-cita luhur di hati kian gembira. Dengan menjadi orang biasa, tentu, dapat meniadakan basa basi, menyaksikan kemiskinan dan kebodohan yang melanda rakyat, dan menatapi karakter busuk sesungguhnya dari para pejabat serta tokoh-tokoh (To Liong To).

Kata-kata yang jujur tidak bagus, kata-kata yg bagus tidak jujur; si cerdik tidak membual, si pembual tidak cerdik; orang tahu tidak sombong, orang sombong tidak tahu (To-tek-keng)

Berawal dari kosong. Kemudian berisi. Kalau kelak semuanya hilang, tentramkanlah hati (Kwa Sicai; To Liong To).

*Pendekar Pemanah Rajawali =Sia Tiaw Eng Hiong*

Loading...