Beranda Teras Berita Belajar Menulis Puisi Ciamik Hanya dalam Waktu Satu Jam

Belajar Menulis Puisi Ciamik Hanya dalam Waktu Satu Jam

245
BERBAGI

Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin/dok

Anda belum punya pengalaman menulis puisi? Atau Anda sudah mencoba berkali-kali menulis puisi tetapi selalu merasa gagal? Jangan takut. Menulis puisi seperti para penyair dunia itu sesungguhnya mudah, asal Anda tahu metodenya dan menjalankan langkah-langkahnya dengan benar.

Anda hanya perlu waktu satu jam untuk belajar dan latihan menulis puisi seperti penyair dunia. Saya memiliki metode yang tepat agar Anda punya pengalaman menulis puisi seperti penyair kelas dunia itu. Saya akan membagikan rahasia ini kepada Anda secara gratis.

Silakan inbox saya nanti malam jika Anda berminat. Salah satu cara tercepat untuk mampu membaca teks puisi kelas dunia adalah dengan belajar menulis puisi seperti para penyair dunia itu. Berikut ini salah satu metode yang saya gunakan.

Teknik “cut up” diperkenalkan oleh Tristan Tzara, penyair pelopor puisi Dadaisme pada awal abad ke-20 di Prancis. Teknik ini kemudian “secara malu-malu diadopsi” atau “dicuri” menjadi salah satu ciri khusus dari sintaksis puitik dalam puisi-puisi surealisme dan imajisme (khususnya pada puisi “The Weste Land” karya T. S. Elliot). Sekarang dengan berkembangnya beragam teknik di dalam penulisan puisi kontemporer, maka teknik “kalimat yang tak selesai” atau teknik “cut up” ini dianggap sebagai teknik yang terlalu mudah dalam penulisan puisi.

Meski demikian, hingga kini, masih terasa juga keajaiban puitik di dalam sintaksis puisi-puisi modern yang menggunakan teknik “cut up”. Oleh sebab teknik ini mesti diakui selalu berhasil menciptakan “jeda dalam ruang putik” pada sebuah teks, semacam penghentian batin sementara dari tindak membaca dan memasuki ruang tanpa makna di antara deretan penanda yang berupaya untuk membangun makna, menciptakan jarak puitik dari ruang rutin teks-teks yang telah dibanjiri dengan segala jenis informasi, menghadirkan defamilirisasi.

Banyak para penyair modern dunia yang telah menggunakan teknik “cut up” ini, di antaranya Wallace Stevens, Dylan Thomas, T. S. Eliot, Pablo Neruda, Shinkichi Takahashi, Bei Dao, Octavio Paz, Joseph Broadsky, John Ashberry, Paul Celan, hingga Thomas Transtromer. Meski demikian, kritik atas teknik ini adalah kecenderungannya untuk membuat sintaksis puitik menjadi semacam “racauan”, sebuah kalimat tanpa makna karena mengabaikan prinsip kohesi dan koherensi di dalam puisi.

Oleh sebab itu, pertaruhan terbesar dari para penyair yang menggunakan teknik “cut up” ini adalah bagaimana membuat potongan-potongan kalimat yang tak lengkap itu tetap mampu membangun kohesi dan koherensi di dalam komposisi teks puitiknya. Puisi modern pada akhirnya tetaplah sebuah teks yang minta dibaca dan digapai maknanya, dan, karenanya, sama sekali bukan racauan.

Berdasarkan teknik “cut up” itu, yang telah saya modifikasi sedemikian rupa, Anda akan mampu menulis puisi seperti para penyair dunia hanya dalam waktu satu jam! Tak percaya? Buktikan nanti malam dengan menghubungi inbox saya. Yang bukan penyair, boleh ambil bagian!

Ini sebagian hasil dari belajar menulis puisi dengan teknik “Cut Up” selama satu jam pada hari ini (16 Januari 2016):

AMARAH
Karya Dody Kristanto

Sepi tersimpan
Daun jatuh menyertai ngilu di kepala
Aku bergeser
Dada terbakar di terik siang
Tangan dibelenggu
Aku dirantai di bawah pohon
Mataku dipukul kehancuran
Ingin kuhajar
Terang memasung kota di malam hari
Rumah tertanam menjelang subuh

PEREMPUAN
Karya Weni Suryandari

Perempuan itu menjahit selimut
Yang lusuh, seekor kecoa melompat
Di sisi kakinya, bayi lelaki menangis

Malam menjauh dari ratapan
Burung hantu melirihkan salam
Sepasang mata menatap dari balik pintu

Daun jendela dihempas angin
Embun merayapi pori pori
Hujan luruh, hingga malam berlalu

PERSAHABATAN
Karya Asikin Rasila

Engkau bersamaku
Malam ini, engkau sadar

Engkau mengambil koran pagi
Engkau menikmati musik

Engkau sadis
Aku menulis puisi malam ini

Burung itu terbang

EMBUN
Karya Prayoga Adiwisastra

Hari yang masam
Daun gugur saat pagi dimulai
Embun menggenang di kuntum mawar
Ia menggali makamnya sendiri

KAMPUNG HALAMAN
Karya Edi Purwanto

Ingatan itu datang
Di malam hari, kepalaku
Memutar kenangan
Angin melintas, menggoda kepalaku,
Perempuan berdiri di ujung jalan
Ketika aku membingkainya
Tubuhmu menuliskan kenangan
Kenangan tertinggal di tubuhmu

ROTI PAGI

Karya Ayu Yulia

Roti berlapis sepi
Remah mengering
Kusimpan di pulupuk mata

Air menetes
Kuteguk sejuk di hati
Sepi ini meleleh

Bunga mekar di taman
Hatiku penuh bunga, bahagia
Seperti roti berlapis sepi