Beranda Views Sepak Pojok Belajarlah dengan Wartawan

Belajarlah dengan Wartawan

221
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS*

Karikatur “3 Dead Heroes” (investors.com)

SEORANG teman isteriku memuji-muji bahwa ia harus bersyukur karena memiliki suami yang wartawan. Teman anakku di sekolah juga mengatakan hal sama. Bahkan, kata teman anakku yang kemudian diteruskan kepadaku, bercita-cita kelak besar menjadi wartawan.

Wartawan, menurut pikiran anak-anak lebih gagah dari polisi. Lebih disegani daripada aparat kejaksaan, lebih terkesan suci dibandingkan pejabat yang kerap korupsi. Dan, lebih pintar jika disandingkan para politisi yang ujuk-ujuk mencalonkan diri, baik calon legislatif ataupun cagub hingga capres.

Aku hanya tersenyum mendengar puja-puji itu. Lebih banyak menolak, ketimbang mengiyakan. Pasalnya, sudah puluhan tahun aku menjadi wartawan—dan berpindah-pindah media—tetap saja nasibku tak beranjak naik. Apatah memegang jabatan redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi/penanggung jawab, di jabatan editor ini saja sejak dua tahun menjadi wartawan tak pindah-pindah rubrik.

Aku juga masih sering turun ke lapangan, meliput berbagai peristiwa; dari yang remeh-temeh seperi demo, unjuk rasa, aksi damai, hingga kebakaran, dan razia kepolisian terhadap kendaraan di jalan-jalan.

“Tapi, mas, temanku itu sangat memuji. Dulu ia juga bermimpi jadi isteri wartawan, hanya dia ingin wartawan teve. Katanya, biar selalu dilihat pemirsa,” kata isteriku.

“Betul lo papa, kawan Ane bangga dengan tugas wartawan,” kata anakku yang kini duduk di bangku SLTP. Kata kawan Ane, tambah dia, wartawan itu tahu banyak masalah orang. Pintar memburu berita, lebih sigap dari polisi.

Aku makin tersneyum-senyum. Aku teringat puisi wartawan yang penyair (alm) Gojek, dia menulis: wartawan tahu banyak masalah orang, tapi tidak tahu dengan nasibnya sendiri.

Begitu pula laporan isteriku, aku juga hanya mesem-mesem. Dalam hati aku, berujar sedih banget ya teman kalian itu. Dia tak merasakan menjadi istri atau anak seorang wartawan. Kalau dia benar-benar bersuami seorang wartawan, baru tahu kalau selerinya tak akan sampai menutupi kebutuhan rumah tangga satu bulan.

***

BETULKAN, kata teman isteriku seperti dilaporkan kepadaku, banyak wartawan sekarang yang berjamaah mencalonkan diri sebagai anggota Dewan. “Nah, kita harus belajar banyak jadi wartawan,” kata dia tetap memuji.

Pada Pemilu Legislatif 2014, yang hari pencoblosan dilaksanakan 9 April mendatang, tersiar bahwa wartawan di Provinsi Lampung ini yang ikut Pileg sebanyak 46 orang. Mereka tersebar di semua partai politik dan di berbagai daerah pilihan (dapil) yang ada.

“Berarti mereka sukses jadi wartawan, kini mulai mencoba ingin menjadi anggota Dewan,” kata teman istriku, sebut saja Nyonya Alina.

“Bukannya gagal?” timpalku kepada istriku. “Artinya profesi wartawan, menurut para wartawan yang mencalon jadi anggota Dewan, tidak lagi menjanjikan. Profesi wartawan ibaratnya hanya hobi dan bukan profesi. Tugas wartawan bukan sebagai pengontrol, melainkan untuk mencari peluang lebih baik lagi.

Betapa banyak wartawan yang lalu menanggalkan pena dan menggantungkan kamera, kemudian menjadi tim sukses seseorang yang hendak menjadi pejabat. Atau menjadi juru humas di sebuah partai politik, sekretaris pribadi dari anggota Dewan hingga pejabat pemerintahan. “Berarti profesi wartawan, tidak lebih….”

“Tidak lebih apa, Mas?” seruduk istriku.

“Hanya jeda, koma, dan entah apa lagi…”

*sastrawan, bekerja di Teraslampung.com

Loading...