‘Beligad’

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Saat senja kemarin piranti sosial berdering, begitu di angkat diseberang sana sahob seorang guru besar yang sedang naik daun, beliau jika berwawankata dengan penulis selalu menggunakan bahasa daerahnya. Suatu penggalan kata beliau mengucapkan kalimat lengkapnya “La Beligat gale jeme ne, Kang”, saya terperangah karena sudah lama sekali tidak mendengar diksi itu.

Diksi ini tidak akan kita jumpai jika kita tanyakan kepada piranti medsos kita, karena kata ini sangat asing untuk daerah di luar Sumatera Selatan. Namun untuk daerah Sumatera Selatan; khususnya Lubuk Linggau justru jadi nama media onlie (Beligad.com). Sedangkan untuk daerah Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah, Kabupaten Pali, diksi ini sudah sangat umum dipakai untuk menggambarkan bagaimana berfikir keras sampai rasa dunia berputar atau berpusing (Kamus Bahasa Lembak); sebab Beligad sendiri adalah terjemahan bebasnya berputar kencang sebagaimana permainan anak anak pada waktu itu yang bernama “Gasing” (jawa: Gangsingan). Hal ini dikuatkan arti kata “beligat” dalam Bahasa Indonesia adalah berputar, berpusing.

Namun karena diksi ini termasuk bahasa yang tidak banyak terpakai dalam kehidupan sehari hari, generasi muda tidak begitu familiar; terutama mereka yang tiggal diperkotaan. Ada beberapa diksi yang bernasib seperti beligad ini; termasuk diantaranya “akab” untuk menggambarkan keadaan yang gelap sekali.

Guru besar yang asli dari Pagaralam tadi mengatakan bahwa distorsi kebahasaan ini sangat memprihatinkan, sampai sampai beliau ikut melakukan pelestarian bahasa daerah ini dengan selalu bertutur bahasa asli dengan mereka yang memang memahami bahasa tersebut; dengan alasan menjaga dari kepunahan, serta menjaga kebiasaan lidah.

Kita tinggalkan sementara keprihatinan itu; kita melihat lebih dalam apa yang terkandung maksud dari Gasing atau gangsingan yang beligad itu. Selain, sebagai sebuah permainan yang menghibur, Gasing juga mempunyai filosofi yang menarik, yaitu bahwa Gasing dibuat dengan proposi yang seimbang dan tidak boleh cacat, sehingga pada saat diputar akan bertahan lama.

Dalam inibaru.id dijelaskan bahwa meski memiliki perbedaan bentuk, gasing tetap memiliki kesamaan filosofi. Kalau kita perhatikan, gasing merupakan permainan yang bertumpu pada satu hal, yakni keseimbangan. Dari gasing, kita bisa belajar bahwa dengan menyeimbangkan ucapan dan perbuatan, kehidupan yang baik akan kita dapatkan dan bertahan lebih lama.

Peralatan ini sekarang dibuat modern, dengan piranti pemutar juga sudah canggih; namun prinsip keseimbangan tadi tetap menjadi pertimbangan dikala memproduksinya, bahkan tingkat presisipun menggunakan komputasi. Namun walau bagaimanapun Gasing tetap Gasing, dia harus berputar baru menjadi indah.

Demikian halnya dengan manusia, dia harus setiap saat mencari keseimbangan hidupnya, baik dalam arti mikro maupun makro. Tuhan menganugerahi “pusing” sebagai bahan bakar untuk “beligat”; sehingga manusia menjadi dinamis, bahkan bisa berpindah satu profesi ke profesi lain. dari satu daerah ke daerah lain, dengan terus bergerak dinamis mencapai keseimbangannya.

Orang orang tua jaman dulu sambil berkebun Kopi mereka tidak perduli harus beligat kepalanya karena berfikir keras untuk bagaimana kebunnya menghasilkan, sehingga dapat menyekolahkan anak anaknya, dengan satu cita cita “biar saya yang sengsara, asal anak anak saya bahagia”. Pengorbanan besar serupa ini tidaklah salah jika anak anaknya selalu mendoakan kedua orang tuanya setiap selesai sholat. Oleh karena itu “hari untuk orang tua” adalah kekhusukan anak mendoakannya, sekalipun apa yang kita lakukan tidak akan bisa membalas kebaikan kedua orang tua kita.

Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā, “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

Semua kita baru merasakan setelah menjadi orang tua, ternyata kita “beligat” memikirkan kebutuhan anak anak kita itu, pernah dirasakan oleh orang tua kita kepada kita waktu itu. Mari disisa umur yang ada ini kita bermunajah kepada Tuhan semoga kedua orang tua kita ditempatkan pada Syurga janatunnaim-Nya.

Sementara kita yang sudah tua ini mari menikmati “beligat” nya sisa kehidupan rohani, untuk mencapai kesempurnaan dalam menuju jalan akhir menemui Sang Kholik. Betul bahwa dunia sementara, akherat kekal adanya; namun perlu kita sadari untuk mencapai akherat harus melawati pintu dunia.

Salam Jumat dan jangan lupa ngopi….