Beranda Medsos Trending Benarkah Bu Saeni Penjual Nasi Warteg Sebenarnya Kaya Raya?

Benarkah Bu Saeni Penjual Nasi Warteg Sebenarnya Kaya Raya?

2897
BERBAGI
Saeni di dapur wartegnya (Foto: bintang.com)

TERASLAMPUNG.COM — Tanpa konfirmasi dan cek silang, media yang disebut-sebut sebagai terbesar dan arus utama, Radar Banten (Jawa Pos grup), ‘menghabisi’  Saeni, penjual nasi warung tegal (warteg) dengan berita insinuatif dan mengarah ke fitnah.

Berita Jawa Pos berjudul “Ternyata Ibu Saeni Tidak Miskin, Punya Tiga Cabang Warteg” itu tanpa konfirmasi kepada Saeni dan hanya ‘bermodalkan’ penuturan anggota Sat Pol PP Kota Serang. Menurut berita itu, Saeni sebenarnya orang kaya.

Berikut berita lengkap tentang Saeni yang ditulis Radar Banten:

Nama Ibu Saeni sang penjual warung tegal yang dirazia Satpol PP di Kota Serang, Banten terus menjadi perbincangan hangat. Setelah menjadi korban razia Satpol PP, Saeni kini mendulang keuntungan.
Dia mendapat sumbangan dari orang-orang yang prihatin melihat warungnya dirazia petugas. Dana yang terkumpul dari penyumbang pun cukup wah, yakni sebanyak Rp 172,8 juta.
Bahkan dana tersebut akan digunakan Saeni untuk berangkat umrah bersama suaminya dalam waktu dekat ini.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Banten (Jawa Pos Group) dari petugas Satpol PP Kota Serang, Saeni merupakan pedagang warung tegal (warteg) yang tidak masuk kategori miskin.
Bahkan di Kota Serang, Saeni dinilai memiliki tiga cabang warteg di daerah Cibagus, Kaliwadas, dan Tanggul.
Dari mana dibilang miskin kalau Saeni punya tiga cabang usaha, termasuk bisa menguliahkan anak-anaknya,” kata seorang petugas Satpol PP Kota Serang yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, publik atau netizen di sosial media hanya melihat dari kulitnya saja, tanpa melihat kronologis atau mekanisme pelaksanaan penertiban. Terkait tindakan tegas yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Serang. “Perda telah dibuat untuk dilaksanakan,” katanya.
Mengenai penyitaan makanan milik Saeni, kata dia, tidak semua ditahan dan tidak untuk dimusnahkan. Namun Saeni diminta untuk bisa mengambilnya lagi setelah pukul 16.00 WIB agar bisa dijual kembali.
“Tapi sampai saat ini saja, KTP milik Saeni tidak diambil. Saeni tidak datang ke kantor untuk mendapatkan arahan,” tandasnya.

Berita tentang “fakta baru” Saeni itu pun menjadi heboh ketika disebarluaskan di media sosial. Pro kontra baru pun muncul. Banyak netizen berkomentar miring tentang Saeni dan seolah 100 persen meyakini kebenaran berita itu. Padahal,berita itu hanya berdasarkan satu sumber dan tanpa konfirmasi kepada pihak yang menjadi topik utama berita (Saeni).Berita itu juga hanya berdasarkan pada ucapan narasumber anonim.

Saat pro kontra masih berlangsung, beberapa media melansir fakta sebaliknya. Bintang.com, misalnya, menulis bahwa Saeni memang miskin.

Bintang.com menulis:

Enam tahun lalu, Saeni yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bersama adiknya dia mencoba peruntungan dengan membangun rumah makan kecil-kecilan itu. Saeni dan adiknya bahu membahu menghidupkan warteg tersebut. Mereka berdua mendapat giliran tiga bulan sekali, menjaga warteg yang biaya sewanya Rp 7.000.000 per tahun.

Tidak banyak memang keuntungan yang didapat selama enam tahun berjualan, Saeni mengaku hanya bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 1.500.000 perbulan. Jika tidak mendapat giliran berjualan, Saeni pun memutuskan untuk pulang kampong dan melakukan berbagai pekerjaan serabutan. “Yang penting bisa buat makan. kalau perempuan banyak yang bisa dikerjakan mencuci, menyetrika,” kata Saeni saat ditemui Bintang.com di warteg miliknya, Senin (13/6/2016).

Yang cukup telak, video wawancara Kompas TV yang didampingi pengacaranya memuat pengakuan Saeni bahwa dirinya memang hanya punya satu warteg. Warteg lain yang disebutkan Sat Pol PP seperti ditulis Radar Banten adalah warteg adik dan anak-anak Saeni yang memang sudah pisah (karena sudah berkeluarga).