Beranda Views Kopi Sore Benarkah Dunia tidak Adil?

Benarkah Dunia tidak Adil?

273
BERBAGI

Eko J. Saputra

SAMBIL menulis status di beranda FB, saya kadang membaca status beberapa rekan. Beragam status setiap saat bermunculan. Diantaranya status bernada “Gegana” (Gelisah, Galau, dan Merana). Rekan ini merasa diperlakukan tidak adil.

Baik dari institusi, rekan, kerabat, keluarga, pimpinan, bahkan negara. Mungkin termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini? Nggaku saja kalau memang iya. Kalau nggak merasa ya jangan marah dong. He he he. Benarkah dunia tidak Adil?

Sebelum melanjutkan tulisan, Kita sepakat dulu bahwa Tuhan maha pengasih, penyayang, maha adil dan maha segalanya. Yang tidak merasa Tuhan maha adil sebaiknya jangan teruskan membaca.
Siapapun kita, pasti percaya bahwa ada ada hukum berlaku di alam semesta ini. Hukum timbal-balik, hukum tabur-tuai, ada lagi yang menyebut karma.

Yang pasti ketetapan Tuhan dan hukum tersebut benar adanya. Artinya siapapun melakukan kebaikan di alam semesta ini. Mulai berpikir baik, berprasangka baik, berkata baik, bertindak baik maka yang didapat nantinya yang baik-baik. Sebaliknya kalau yang dilakukan negatif hasilnya juga negatif.  Apa yang kita lakukan pasti kembali kepada kita. Dan ini berlaku secara universial, baik laki-laki maupun perempuan. Kaya ataupun miskin.

“Tapi saya sudah bekerja keras. Lari sana, lari sini. Yang lain  santai-santai saja. Yang lain santai-santai saja. Tapi yang saya dapat hasilnya sama dengan yang lain. Ini ka nggak adil!” komentar seorang rekan.

Anda akrab dengan komentar seseorang seperti ini? Dalam kehidupan kadang kita terlalu fokus kepada orang bukan kepada yang menciptakan orang tersebut. Kadang pikiran kita terkunci dengan sebuah persitiwa namun tidak melihatnya secara luas.

Ya, kita kadang terhipnotis hanya dengan “pemikiran kebanyakan orang” yang hanya melihat apa yang terlihat (materi). Padahal ada banyak di luar materi yang bisa kita dapatkan. Seperti yang saya sampaikan kepada rekan yang mengeluh tadi bahwa ada banyak yang ia dapat. Pertama dengan dia lari sana, lari sini tubuhnya lebih sehat.

Dibandingkan teman-temannya yang hanya santai sambil merokok. Selain itu, meski pimpinannya hanya diam dan tidak memberikan bonus, maka ia akan mencatat bahwa ia adalah karyawan yang patut diperhitungkan.

“Manfaat lain, kalau ada orang di luar perusahaan melihat kamu paling aktif, kamu bisa diajak kerjasama dan tentunya mendapatkan tawaran lebih baik,” ujar saya.

Saya katakan dengan rekan ini, kita tidak tahu apa yang kita lihat di masa lalu terhadap rekannya yang kerjanya santai tapi penghasilannya besar. Yang perlu diingat, kata saya, dalam hidup ini bukan hanya apa yang kita lakukan. Melainkan kualitas berpikir dan perasaan. Sebab pikiran merupakan energi yang memiliki imbas terhadap diri kita. Begitu juga dengan perasaan, memiliki imbas yang sama.

Perasaan gembira, syukur, pasrah, ikhlas, gembira sangat berbeda resonasinya dengan perasaan ragu-ragu, marah, kesal, kecewa, sakit hati, iri dengki, sakit hati, dan dendam.

Ketika seseorang memberi (melakukan secara fisik) sedikit namun hasilnya besar. Bisa jadi orang ini memiliki tabungan pikiran dan perasaan positif, tenang, dan damai lebih besar. Namun, terkadang kita menemukan hal terbalik. Banyak orang sudah bekerja keras hingga akhir hayat namun kualitas hidupnya tak kunjung berubah.

Secara ilmiah hal ini sudah dibuktikan lewat riset dilakukan DR David R. Hawking MD. Ph.D. yang ditulis dalam bukunya Power vs Force.  Riset dilakukan Hawking membuktikan bahwa setiap emosi menghasikan tingkat energi psikis berbeda. Nah, energi psikis inilah yang memiliki pengaruh terhadap hasil yang dicapai seseorang saat melakukan aktivitas.

Contoh sederhana: orang yang membantu orang lain lain karena kasihan atau iba, dibandingkan dengan orang yang membantu orang lain karena ikhlas agar siap berkarya tentu pengaruh dan hasilnya berbeda.

Nah, saatnya kita menata ulang. Sebab bukan hanya tindakan yang punya pengaruh melainkan pikiran dan perasaan. Paling tidak mengeluh dan membandingkan akan memunculkan perasaan negatif dan merugikan.

Berpikir positif memang belum tentu bisa memberikan solusi. Tapi setidaknya membuat perasaan nyaman dan bahagia. Bukankah ini yang kita harapankan dalam hidup?

SALAM OKE

Loading...