Benarkah Foto Jokowi Bertemu Suku Anak Dalam Rekayasa? Ini Jawabannya

Bagikan/Suka/Tweet:
Foto Jokowi bertemu Suku Anak Dalam yang disimpulkan sebagai pertemuan Jokowi dengan orang yang sama. Dengan foto ini, pembenci Jokwi ingin menyampaikan pesan bahwa Jokowi melakukan pencitraan. (Foto: medsos/Facebook).

PEKANBARU, Teraslampung.com-  Presiden Jokowi kembali dituding melakukan pencitraan. Di media sosial, kampanye seolah-olah Jokwowi melakukan pencitraan dilakukan penyebaran foto Jokowi bertemu warga suku  Anak Dalam di Jambi, beberapa waktu lalu. Dalam dua foto pertemuan Jokowi dengan warga suku Anak Dalam itu dikesankan bahwa Jokowi bertemu dengan orang-orang yang sama. Itu, kata penyebar foto itu, dilakukan tim Jokowi sebagai bentuk pencitraan.

Di media sosil, genderang pro-kontra ditabuh bukan saja oleh orang awam, tetapi juga para kelas menengah, orang cerdik pandai yang berpendidikan tinggi, Orang-orang yang selama ini memang tidak suka dengan Jokowi– apa pun yang Jokowi lakukan– menyebutkan bahwa seharusnya timnya Jokowi tidak perlu melakukan serupa itu, seolah-olah Jokowi sangat peduli dengan suku Anak Dalam yang kini menjadi korban kabut asap.

Sementara itu, kelompok yang bersimpati kepada Jokowi mengatakan bahwa foto Jokowi bertemu warga Suku Anak Dalam benar adanya. Itu bukan rekayasa. Mereka menduga, foto Jokowi dengan warga Suku Anak Dalam dikesankan buruk karena dalam sejarah Indonesia baru kali inilah ada presiden yang bertemu dengan suku terasing itu. Bahkan, Jokowi menjanjikan akan membangunkan rumah bagi mereka dan memberikan jaminan kesehatan.

Jokowi bertemu Suku Anak Dalam (Foto: Tim Komunikasi Presiden RI)

Seperti pro-kontra tentang Jokowi yang sudah-sudah, perdebatan di medsos tidak pernah selesai. Intinya, para pembenci Jokowi akan memanfaatkan momen apa pun tentang Jokowi dengan kesan buruk. Bahkan mengarah pada ejekan bersifat fisik Jokowi.

Sementara itu, orang-orang yang bersimpati kepada Jokowi atau para pendukung Jokowi berkukuh pada pendiriannya bahwa Jokowi sudah berupaya keras melakukan perubahan di Indonesia.

Siapa sebenarnya yang benar? Para pembenci Jokowi atau pembela Jokowi? Benarkah itu foto rekayasa?

Portal berita detik.com, melansir kesaksian pelaku dalam foto itu dan berasal dari Suku Anak Dalam (SAD). Tumenggung Tarib, kepala Suku Anak Dalam di Jambi (60), memberikan kesaksiaan kepada detik.com bahwa ada yang sengaja memutarbalikkan fakta seolah-olah foto itu merupakan rekayasa dan orang-orang yang ada di foto merupakan orang yang sama.

Tumenggung Tarib adalah satu di antara minoritas SAD yang hidup di luar Taman Nasional Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Menurut dia, pertemuan digelar di teras. Tarib mengenakan kemeja warna kuning.

“Saya waktu itu bersama kelompok Grip dan bapak Babinsa (Kopka Husni Thamrin) bersama tiga orang lainnya. Kami bertemu di teras rumah. Kami semua pakai pakaian lengkap,” kata Tarib, seperti ditulis  detikcom, Senin (2/11/2015).

Tarib menceritakan, awalnya Presiden Jokowi menemui SAD dari kelompok Ninjo. Pertemuan itu digelar di perkebunan kelapa sawit sebagaimana terekam dalam foto-foto yang beredar di media massa dan media sosial. “Mereka lama berbincang-bincang sama Pak Presiden,” kata Tarib.

Usai bertemu dengan kelompok Ninjo, selanjutnya Jokowi ketemu dengan kelompok Tumenggung Grip–termasuk dengan Tumenggung Tarib.

Jokowi bertemu Suku Anak Dalam (Foto: Tim Komunikasi Presiden RI)

“Jadi orang yang bertemu presiden di bawah kebun sawit, beda dengan kami yang ada di perumahan. Kami beda orang dan beda kelompok, walau kami sama-sama dari Suku Anak Dalam,” kata Tarib yang pernah meraih Kalpataru pada tahun 2006 pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena konsen terhadap alam.

Tarib mengaku sempat bersalaman dengan Presiden Jokowi. “Bapak Presiden jongkok bertemu kami di depan rumah. Saya persis di depan Pak Presiden. Ada Bu Menteri berdiri di belakang Presiden. Ada juga Pak Babinsa waktu itu,” kata Tarib.

Tarib menyebut, pertemuan itu sangat singkat. Diperkirakan antara 15 sampai 20 menit saja.

“Cuma sebentar pak, karena waktu itu sudah sore. Yang lama yang bertemu dengan kelompok Ninjo di bawah kebun sawit. Waktu itu Pak Presiden harus segera kembali, karena dikhawatirkan asap akan pekat. Kalau sudah pekat, nanti pesawatnya tak bisa terbang,” kata Tarib.

Saat ditanya, apakah dengan kedatangan presiden mereka harus berpenampilan pakai cawet? “Oh tidak ada pak. Malah bapak-bapak desa kita menganjurkan berpakaian sopan. Tapi kan tak semua mau. Yang lain tetap saja datang pakai cawet. Cuma yang perempuan pakai kemban. Kalau tidak (kalau tak datang presiden), ya mereka tak pakai kemban. Hanya penutup kain di bagian bawah saja,” tutup Tarib.

Kesaksian Tarib senada dengan keterangan penerjemah pertemuan Jokowi dan Suku Anak Dalam, Kopka Husbi Thamrin, bahwa foto orang yang bercawet dan berpakaian adalah kelompok berbeda. Namun di media sosial diputarbalikkan bahwa yang ditemui Jokowi adalah orang yang sama dan seolah-seolah pertemuan itu direkayasa.

sumber: detik.com