Beranda News Kesehatan Benarkah Vitamin B17 dan Suplemen Alternatif Lain sebagai Antikanker?

Benarkah Vitamin B17 dan Suplemen Alternatif Lain sebagai Antikanker?

1378
BERBAGI

Oleh dr. Handrawan Nadesul

Sudah lama beredar informasi ihwal vitamin B17, belakangan kembali muncul broadcast di WA ihwal yang satu ini. Seorang teman jalan pagi bertanya apa benar vitamin B17 bisa untuk mengobati kanker?

Jawab saya spontan, tidak benar. Ini saya nilai penting memberi tahu kepada semua masyarakat, tidak mudah untuk menyembuhkan kanker. Kalau ada klaim suatu bahan berkhasiat, suatu suplemen alternatif, atau suatu cara, bisa menyembuhkan kanker, hendaknya kita tidak lekas percaya. Tidak ada cara yang mudah dan sederhana untuk menyembuhkan penyakit. Tidak juga untuk menyembuhkan kanker.

Yang perlu dipikirkan bila ada klaim non medis, pertama,apakah betul klaim itu berkhasiat di mata medis. Sering-sering hanya karena suatu bahan berkhasiat mengandung banyak antioxidant, dan oleh karena kanker juga muncul akibat radikal bebas yang butuh banyak antioxidant untuk meredamnya, maka semua bahan berantioxidant dianggap bisa menyembuhkan kanker.
Bahan yang mengandung antioxdant kita bisa peroleh dari banyak sumber, termasuk dari vitamin C, vitamin E selain betacarotene. Namun apakah kalau kita hanya minum ketiga sumber antioxidant itu, maka kanker bisa kita sembuhkan, tentu tidak sesederhana itu.

Hal kedua, setelah dipikirkan suatu bahan berkhasiat memang betul terbukti ada khasiatnya (efficacy) secara medis, dan sudah menempuh berbagai protokoler uji, masih perlu dipertimbangkan apakah “aman” untuk tubuh manusia. Berkhasiat saja namun tidak “aman” bagi tubuh, tentu tidak boleh diterima sebagai obat. Dan itu bedanya obat medis dengan obat alternatif (jamu herbal obat tradisional lainnya) dengan obat dokter.

Obat Cina, misalnya, hanya mempertimbangkan berkhasiat saja tanpa mempertimbangkan aman tidaknya, sehingga efek samping berbahayanya tidak dipikirkan. Menyembuhkan encok, namun merusak ginjal (nephrotoxic) oleh karena bahan alami yang dikandungnya mengandung zat yang merusak ginjal (wild ginger). Di dunia medis, berkhasiat saja namun tidak aman tidak diterima sebagai obat.

Vitamin B17 bukan barang baru. Sudah lama dilakukan uji khasiat, menurut catatan sudah sejak tahun 1845 di Rusia, dan awal Abad 20 di Amerika Serikat dilakukan uji khasiat, namun hingga kini, bahan amygdalin yang dikandungnya, tergolong cyanide yang bersifat racun pada dosis tinggi.

Jadi prinsip terapi pada pemakaian B17 memanfaatkan bahan cyanide untuk melumpuhkan sel kanker. Di kita juga dulu sekitar tahun 1980-an pernah ada pilihan alternatif terapi kanker dengan singkong beracun temuan Dr Gunawan (kalau tidak salah) di Cisarua. Singkong beracun mengandung cyanide juga, hingga kini tidak kedengaran lagi.

Semua bahan berkhasiat kendati dari alam asal mengandung cyanide lalu bisa saja diklaim untuk terapi alternatif kanker. Pihak medis sudah wanti-wanti terhadap cyanide karena efek racun bagi tubuh pada dosis tinggi. Betul melumpuhkan sel kanker tapi tidak aman bagi tubuh manusia.

Kita tahu kanker muncul oleh banyak faktor, mulai dari bibit kanker genetik, sampai faktor lingkungan. Faktor genetik belum bisa dihapus, maka tinggal hanya faktor lingkungan yang bisa kita kendalikan. Termasuk dalam faktor ini, soal kualitas menu harian, seberapa cukup olahraga, dan cemaran polusi udara, pestisida, selain seberapa banjir radikal bebas mencemari tubuh.

Melihat begitu kompleks kemunculan kanker, pihak-pihak industri suplemen mencari celah mana kanker bisa dilumpuhkan. Apakah dengan cara mencegah kemunculannya dengan meredam semua faktor pencetus kankernya, atau menekan sel kankernya dengan tidak memberi makan sel kanker, atau melumpuhkan sel kankernya setelah sel kanker tumbuh. Dari sudut mana pun yang dipilih untuk melawan kanker, tentu tidak sederhana kita bisa melakukannya, apalagi kalau melihat akan seberapa tepat hasil yang akan kita peroleh.

Hemat saya, hanya dengan cara membentengi tubuh dari kemungkinan munculnya kanker yang paling masuk akal di mata medis. Bahwa tubuh kita mungkin sudah membawa bibit kanker itu. Kita tahu kanker bersifat genetik. Ingat kanker payudara ada gen BRCA, sebagai bibit kankernya. Namun sekalipun ada gen kanker selama tidak dipicu oleh faktor pencetus kanker atau carcinogen, kanker tidak perlu muncul.

Masalahnya semakin banyak faktor carcinogenic di sekitar, mulai dari food additive (penyedap pengawet pemanis pewarna) dalam menu harian terutama dalam industri makanan dan restoran, cemaran dalam air yang kita minum, polusi udara yang kita hirup, serta gaya hidup kurang gerak sendiri, selain kekurangan sejumlah zat gizi termasuk vitamin mineral, itu semua yang menjadikan tubuh kian kebanjiran carcinogen.

Maka upaya kita, selain menjauhi semua faktor carcinogen, dengan memilih menu alami, tidak memilih menu olahan, termasuk gula pasir terigu, produk laut mengandung mercury, ikan asin mengandung nitrosamine, tidak kelebihan menu daging, membatasi lemak dan cukup bergerak badan, merupakan paket upaya pencegahan kanker yang masih mungkin kita kerjakan. Seraya dengan itu, tambahkan antioxidant tubuh dengan suplemen vitamin C dan vitamin E selain betacarotene tanpa perlu harus mencari sumber antioxidant lain yang belum jelas.

Dalam kehidupan kita sekarang ini sudah tidak mungkin lagi bisa mengelak dari semua serbuan dan hadangan radikal bebas (free radical) di lingkungan kita, yang merupakan salah satu faktor pencetus kanker. Yang masih mungkin kita lakukan hanyalah membuat tubuh lebih kebal terhadap radikal bebas, dengan cara menambahkan antioxidant.

Kita tahu sebetulnya tubuh juga memproduksi antioxdant alami. Namun orang sekarang sudah kebanjiran radikal bebas melebihi kemampuan antioxidant alaminya untuk meredamnya, maka orang sekarang memang perlu supelemen antioxdant dari luar.
Jadi kalau ada tawaran suplemen antikanker, apa pun, pastikan apakah benar sudah ada bukti ilmiah dan terbukti aman bagi tubuh manusia. Untuk itu biasanya Badan Pengawasan Obat Amerika FDA bisa menjadi rujukan. Kalau hanya benar berkhasiat tapi tidak aman, jangan sekali-kali memilihnya, apalagi mengandalkannya sebagai obat satu-satunya.

Tidak sedikit kasus kanker di Indonesia yang terlambat mendapat kesempatan sembuh oleh medis, hanya karena pasien kanker mampir-mampir dulu di orang pinter dan atau mengandalkan terapi alternatif. Kanker payudara misalnya, yang masih stadium awal yang sebetulnya masih mungkin disembuhkan dengan terapi medis menjadi kehilangan peluang sembuh hanya karena pasien berobat alternatif yang tidak jelas.

Setelah sekian tahun mengandalkan terapi yang tidak jelas itu, dan tidak murah juga, kanker lalu berkembang menjadi stadium lanjut, pada ketika mana pihak medis sudah angkat tangan untuk menyembuhkannya. Bukankah dengan begitu pasien jadi kehilangan peluang untuk sembuh hanya karena keliru memilih alamat berobatnya. Demikian pula jadinya apabila melawan kanker mengandalkan vitamin B17 dengan harapan ingin sembuh dari kanker. Sekali lagi, tidak ada yang sederhana untuk memperoleh kesembuhan penyakit.

Salam sehat,