Beranda News Nasional Bencana Ekologis Meningkat 293 Persen

Bencana Ekologis Meningkat 293 Persen

242
BERBAGI
Longsor Bukit Camang, Bandarlampung. (ilustrasi)

Bambang Satriaji/Teraslampung.com

JAKARTA— Bencana ekologis yang melanda Indonesia sepanjang tahun 2013 meningkat hingga 293 persen. Demikian ekspose Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Sabtu (11/1).

Pada 2012 bencana ekologis ‘hanya’sebanyak 475 kali. Pada 2013 jumlahnya meloncak menjadi 1.392 kali dan telah melanda 6.727 desa/kelurahan yang tersebar di 2.787 kecamatan dan 419 kabupetan kota dari 34 propinsi se-Indonesia.

“Bencana tersebut telah menyebabkan 656 jiwa meninggal dan sebanyak 86 jiwa akibat pertambangan galian C hingga skala besar. Berdasaran jenis bencana, banjir masih mendominasi yaitu sebanyak 992, banjir rob 70 dan tanah longsor 330 kali kejadian,” kata Eksekutif Nasional Walhi, Mukri Friatna, Sabtu (11/1).

Data Walhi menunjukkan,  di Pulau Jawa, daerah dengan intensitas dan korban bencana tertinggi di tempati oleh Jawa Barat, yaitu dengan 177 kali bencana dan jumlah korban jiwa 89 orang. Sedangkan daerah terdampak sangat luas yaitu ditempati Jawa Timur dengan jumlah desa/keluarahan terlanda banjir, rob dan longsor sabanyak 869 desa/keluarahan.

Menurut Walhi bencana ekologis tidak hanya disebabkan faktor perubahan cuaca, tetapi juga disebabkan kegiatan ekstratif seperti penambangan, ekspansi perkebunan skala besar, pembabatan hutan mangrove, illegal logging dan alih fungsi hutan, penggerusan bukit untuk real estate, serta penimbunan sejumlah sungai dan rawa.

“Praktik penambangan telah berkontribusi terhadap terjadinya banjr terjadi di banyak daerah di Indonesia. timbulnya bencana telah menandakan terjadinya kerusakan lingungan yang sangat masif. Antara lain di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Papua,” kata Mukri Friatna, Eksekutif Nasional Walhi.

Mukri mengatakan perkebunan skala besar khususnya sawit telah menyebabkan banjir di Kalimantan Barat dan Aceh bagian barat. Banjir karena illegal logging terjadi di antaranya di Sumatera Barat dan Sulawesi Barat.

“Penimbunan anak-anak sungai terjadi pula di Riau dan Sumatera Selatan juga mengakibatkan banjir. Sementara banjir yang dipicu karena penggerusan bukit terjadi di Bandar Lampung dan Semarang, Jawa Tengah. Alih fungsi mangrove yang telah menyebabkan banjir rob, hampir merata disepanjang pantai Utara Jawa,” kata Mukri.

Menurut Mukri memang ada wilayah yang sangat rentan bencana khususnya longsor seperti di wilayah Jawa Barat karena tekstur tanah yang labil dan tofografi yang curam. Namun, kata dia, pada umunya bencana banjir lebih banyak disebabkan telah terfragmentasi dan bahkan hilangnya fungsi-fungsi daerah tangkapan dan resapan air.

“Hal itu termasuk di wilayah perkotaan, meskipun yang berkembang saat ini adalah masalah teknis seperti drainase yang buruk dan terjadinya pendangkalan pada sejumlah anak sungai,” tambah Mukri.

Mukri mengatakan kondisi lebih buruk bisa terjadi pada 2014 dan tahun-tahun mendatang. Terutama jika pelepasan izin untuk industri ekstaraktif terus terjadi, berkembangnya alih fungsi daerah resapan air, dan penataan ruang yang tidak memperhatikan keseimbangan ekologis.

“Sebab itu Walhi mengharapkan pemerintah untuk berupaya keras menyelamatkan lingkungan termasuk mulai mempidanakan pelaku yang menyebabkan terjadinya bencana sebagaimana diatur dalam UU No.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana,” kata Mukri.

Loading...