Beranda Views Jejak Benteng Kraton Buton, Benteng Terluas di Dunia

Benteng Kraton Buton, Benteng Terluas di Dunia

446
BERBAGI
Raudal Tanjung Banua*
Berkunjung
ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, di samping mendapat kepuasan tak terbilang
dari panorama lautnya yang indah, juga jangan luputkan menjelajah “Benteng
Terluas di Dunia”. Ya, itulah predikat Benteng Kraton Buton yang tercatat dalam
Guinnes World Record tahun 2006. Benteng sepanjang 2.780 m dan luas 23 ha ini
dibangun pada abad ke-16 M, terletak di perbukitan Palagimata yang menjadi
latar kota Bau-bau. Kota Bau-bau sendiri merupakan kota pelabuhan yang ramai di
timur tanah air, dan menjadi pintu masuk wisatawan ke surga bawah laut gugusan
Kepulauan Wakatobi.
Tidak
sulit mencapai benteng, sebab terletak tak lebih tiga kilometer dari pusat kota
Bau-bau. Ada mikrolet dan ojek sepeda motor yang bisa Anda tumpangi dengan
ongkos Rp 5000. Saya beruntung diantar mobil panitia workshop penulisan,
sehingga bisa langsung mengelilingi benteng. Begitu melewati gerbang utama
bertulisan “Anda Memasuki Kawasan Benteng Terluas di Dunia”, pemandangan ajaib
segera menghampar di depan mata. Dinding benteng yang hitam-tebal mengular
sepanjang sisi bukit, dengan pola naik-turun yang unik. Bentuknya tidak fokus
pada satu jenis, ada berbentuk balok, bundar, lingkaran atau kombinasi.
Tinggi
dinding juga tidak sama rata, ada yang lebih rendah, sedang, tinggi atau
diselang-selingi. Efeknya, kesan benteng jadi tidak masif sehingga tak
membosankan dipandang mata. Lalu di beberapa bagian terdapat pintu-pintu
beratap, lengkap dengan meriam tua yang mengarah ke luar. Bunga kamboja, pisang
dan kapuk randu berderet tumbuh di tepi-tepinya.
Terbuat
dari batu karang, Benteng Kraton Buton memagar rapat sejumlah perkampungan,
istana sultan, masjid, makam dan rumah para bangsawan (wolio mendebu). Namun,
bukannya tanpa celah, sebab ada banyak pintu dengan berbagai fungsi dan nama,
seperti Baluarana Wabarengalu dan Baluarana Tanailandu. Sebuah pintu lagi
tampak mengarah ke jurang, dulu pernah dipakai Aru Palakka atau La Toondu, bangsawan
Bone, untuk bersembunyi dari kejaran pasukan Sultan Hasanuddin dari Gowa,
Makassar.
Saya
tercengang takjub memandang semua itu, terlebih pemandangan ke arah laut sangat
menggetarkan. Kota Bau-bau yang padat dan pelabuhannya yang dipenuhi kapal-kapal
terhampar jelas di bawah sana, termasuk pulau kecil di muka teluk, Pulau
Makasar (dengan satu huruf “s”). Pemandangan juga sampai jauh ke tepian laut
yang menggaris dua pulau bertetangga, Buton dan Muna. Ya, kedua pulau ini
memang memanjang bersisian di kaki Pulau Sulawesi, dipisahkan selat Buton yang
sempit layaknya sungai, sehingga ketika melewatinya dalam perjalanan dari
Kendari kita disuguhi pemandangan laut, pulau dan tebing batu yang luar biasa
indahnya. Mungkin karena berdekatan itu pula, secara administratif, pembagian
kabupaten tidak berdasarkan pulau, namun langsung memotong kedua daratan;
Kabupaten Muna juga mencakup sebagian pulau Buton, dan sebaliknya.
“Jauh di sana Gunung Kabaena, kampung-kampung di bawahnya terkenal dengan
gadis-gadis cantik,” kata Yusri, orang yang mengantar saya, menunjuk nun ke
arah Pulau Kabaena.
***

Setelah
puas berlama-lama di sisi tembok benteng, saya memutuskan memasuki pusat Kraton
Buton. Cukup mengherankan, tidak ada satu retribusi pun yang perlu dibayar,
karcis masuk bahkan parkir gratis. Selain itu, tidak terlihat pedagang makanan
baik asongan maupun di kios resmi. Saya angkat topi dari sisi kenyamanan,
kebersihan dan ruang publik, tapi bagaimana dengan pemasukan Pemda serta
aktivitas ekonomi masyarakat sekitar? Entahlah, saya belum mau berpikir lebih
lanjut, termasuk memikirkan kenapa Benteng Buton mengalahkan Tembok Cina soal
prediket “Benteng Terluas di Dunia”?
Sepenuhnya
saya ingin menikmati pusat Kraton Buton, di mana terdapat masjid raya, istana
bangsawan Wolio, batu igandangi (tempat pengukuhan sultan) dan balairung. Ada
juga bukit kecil tempat peristirahatan abadi sultan Buton pertama yang beragama
Islam, Sultan Murhum. Pusat benteng ditandai oleh sebuah tiang kayu unik
setinggi 21 m, berusia hampir 300 tahun, tempat bendera kesultanan yang disebut
tombi longa-longa pernah dikibarkan. Kini bendera tradisional sepanjang lima
meter berbentuk lancip seperti daun padi itu, hanya dapat saya bayangkan seolah
berkibar megah di ujung tiang jati yang masih kokoh berdiri.
Tiang
unik itu berdiri persis di depan masjid raya Kesultanan Buton Butuni yang
usianya jauh lebih tua. Dibangun tahun 1712, sekilas masjid ini tampak
sederhana. Namun jika diamati arsitekturnya tak kalah unik, yakni bersusun
tiga, dan setiap bagian hanya “dikunci” oleh 33 pasak kayu—tanpa paku—yang
melambangkan jumlah bacaan suci saat zikir. Secara filosofis, ketiga bagian ini
melambangkan anatomi manusia yang terdiri bagian bawah (kaki), tengah (perut)
dan atas (kepala). Secara keseluruhan pula, jika dilihat dari udara, benteng
Buton konon menyerupai orang sedang tahayat akhir dalam sholat, demikian
beberapa info yang saya dapatkan dari warga setempat.
Sebagaimana
jamaknya bangunan zaman dulu di Buton, kayu merupakan bahan utama masjid raya,
di samping sedikit batu untuk pondasi dan pagar bawah. Kayu jati pilihan (Buton
dan Muna penghasil kayu jati terbaik) juga terlihat kokoh di tiang, dinding dan
lantai rumah para bangsawan Wolio. Rumah itu dibuat sampai bertingkat empat,
bertiang puluhan dan dindingnya penuh ukiran. Menariknya, di bagian puncak atap
selalu terdapat ukiran kayu berupa buah nenas.
La
Ode Nuri, salah seorang penduduk kraton, mengatakan bahwa spritualisme orang
Buton mempercayai konsep reinkernasi. Kenapa simbolnya nenas? Sebab buah nenas
memiliki daun di bagian bawah dan bagian atas sebagai pertanda kehidupan.
Selain itu, naga juga menjadi simbol kultural hasil akulturasi dengan
masyarakat Tionghoa, begitu katanya.
Selesai
bercakap-cakap, saya menuju pelataran istana bangsawan di mana terdapat jangkar
raksasa dan monumen silsilah raja/sultan Buton. Konon, jangkar itu milik kapal
VOC yang dikalahkan sultan Buton. Ada pun di monumen silsilah, terukir 43 nama
raja dan sultan, dimulai Raja Waa Kaa Kaa pertengahan abad XIV dan diakhiri La
Ode Falihi Kaimudin tahun 1960-an. Perbedaan gelar Raja dan Sultan tampaknya
ditandai masuknya agama Islam tepatnya pada raja ke V (terakhir) sekaligus
sultan pertama, Sultan Murhum.

Hari
sudah rembang petang, terlihat dari permukaan laut yang disepuh cahaya
keemasan. Saya segera beranjak ke makam Sultan Murhum, tapi dua orang bocah
Buton mencegat saya. Ternyata mereka minta difoto. Klik! Saya foto mereka
dengan latar jangkar besar, setelah itu saya bergegas ke makam. Makam dengan
nisan setinggi dua meter itu bersih dan sejuk, dari sana terlihat matahari
mulai angslup ke laut. Tak lama kemudian azan magrib bergema dari arah masjid
raya. Hari itu, saya tutup kunjungan dengan sholat berjemaah di masjid
bersejarah Buton Butuni, dengan sebuah keunikan lain: semua jemaah bersalaman
sambil bersimpuh, simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Semoga. 

*Raudah Tanjung Banua adalah penyar, Tulisan ini pernah dimuar di Harian Suara Merdeka, Semarang
Loading...