Beranda News Pelayanan Publik Berada di Dekat PLTA Batutegi, Dua Desa Belum Dialiri Listrik

Berada di Dekat PLTA Batutegi, Dua Desa Belum Dialiri Listrik

3721
BERBAGI
Waduk Batutegi di Kabupaten Tanggamus (teraslampung,com)
Waduk Batutegi di Kabupaten Tanggamus (teraslampung,com)

 Pujay Pujiono/Teraslampung.com

Tanggamus—Berada di dekat pusat listrik tenaga air (PLTA) bukan berarti listrik warga akan bisa menikmati listrik sepanjang waktu. Buktinya, hingga kini dua desa yang berada di sekitar PLTA Batutegi, Tanggamus tak juga mencicipi terangnya listrik PLN.

Hal itu terungkap ketika dialog PUSSbik tentang Pelayanan Kelistrikan di Pekon Way Harong, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, digelar akhir pekan lalu.

“Sejak zaman Gajah Mada bujang sampai saat ini belum merasakan aliran listrik!” ujar seorang warga Pekon (Desa) Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Tanggamus, belum lama ini.

Ucapan warga itu adalah guyonan setengah satire yang menggambarkan betapa paradoksnya soal kelistrikan di Lampung.

Selain Pekon atar Lebuay, Pekon Sinarjawa, Kecamatan Air Naningan juga mengalami hal yang sama. Jarak dua desa itu hanya beberapa ratus meter dari PLTA Batutegi dan dihuni tak kurang dari 1.400 kepala keluarga.

Selama ini, jika aliran listrik di Lampung sering ‘alawarahum’ (baca: padam), pihak PLN selalu beralasan bahsa PLN kekurangan daya listrik, ada pebaikan boiler PLTU Tarahan, atau ada pemeliharaan tegangan menengah.

PLTA Batutegi memang sudah bermasalah sejak ‘lahir’. Begitu diresmikan, dayanya langsung memble karena debit air kurang. Sebaliknya, pada musim penghujan, mesin akan terendam sehingga sama sekali tidak mampu beroperasi.

Cukup mengagetkan memang dan memunculkan pertanyaan di kepala. Kok bisa ya, ada desa di dekat PLTA justru gelap gulita karena tak ada listrik?

Bendungan Batu Tegi yang berada di Kabupaten Tanggamus ini merupakan salah satu pembangkit listrik besar yang dimiliki PLN sebagai penunjang penerangan di Provinsi Lampung. Berdasarkan kajian Pusat Studi Strategi dan Kebijakan (PUSSbik), warga sudah sering mengajukan usulan kepada PLN agar dua desa itu mendapatkan aliran listrik. Namun, tidak begitu mengapa usulan itu tak kunjung disetujui.

Masyarakat di dua pekon tersebut mengaku sudah mengajukan permohonan pengaliran listrik ke PLN Area Metro sejak 2007. Namun, hingga saat ini keinginan mereka guna medapat aliran listrik di rumah mereka belum juga terwujud.

Direktur PUSSbik, Aryanto, menilai seharusnya soal kelistrikan di sekitar bendungan Batutegi menjadi perhatian khusus beberapa pihak terkait. Antara lain pihak Pemkab Tanggamus, DPRD Kabupaten Tanggamus, dan PLN Distribusi Lampung.

“Sebab pelayanan kelistrikan bagi masyarakat negeri ini juga merupakan salah satu hak dasar manusia untuk bisa mendapatkan penerangan,” kata Aryanto.

Selain masih banyak kampung yang gelap karena belum dialiri listrik, fakta menunjukkan bahwa kelistrikan di Lampung sangat parah lebih dari sepuluh tahun terakhir. Pemadaman bergilir sering dilakukan PLN dengan alasan stok daya listrik untuk Lampung mengalami defisit daya listrik. Hal itu disebabkan tidak beroperasinya PLTA Batutegi di Kabupaten Tanggamus, tidak maksimalnya pasokan PLTA Way Besai (90 Mw) di Lampung Barat, dan rusaknya PLTU Tarahan Unit 3 di Lampung Selatan.

PLTA Batutegi yang berdaya terpasang 28 megawatt (mw) sudah sejak beberapa tahun lalu tidak beroperasi karena debit airnya tidak cukup. PLTA Way Besai hanya menghasilkan 45 MW. Sementara PLTU Tarahan Unit 3 (100 MW) dan PLTU Tarahan 4 (100 MW) belum maksimal beroperasi sehingga pasokannya listriknya tidak sampai 100 persen.

Data di PLN Tanjungkarang, Lampung, menyebutkan kebutuhan listrik Lampung pada beban puncak, yaitu pukul 17.00–22.00 WIB, rata-rata 385 mw. Padahal, Lampung hanya memiliki ketersediaan listrik yang berasal dari PLTD dan PLTU Tarahan sebanyak 200 mw, PLTA Way Besai 90 mw, dan PLTA Batu Tegi 28 mw. Kekurangannya dipasok dari bantuan jaringan interkoneksi Sumatera Selatan sebesar lebih dari 100 mw.

Tiap hari rata-rata terjadi defisit daya sebesar 180-an mw. Kabarnya, jaringan interkoneksi Sumatera itulah yang membantu memasok daya listrik. Namun, jaringan interkoneksi Sumatera juga sering mengalami masalah karena melintasi banyak hutan lebat. (Oyos Saroso HN)