“Berbahagialah” Mereka pada Pekan Pertama Oktober 2015

Bagikan/Suka/Tweet:

Willy Pramudya

Berbahagialah mereka yang baru saja merayakan Hari Kesaktian Pancasila (HKS) 1 Oktober tanpa perlu mendengar apalagi menghubungkannya dengan kabar meninggalnya Salim Kancil, warga Desa Selok Awar-awar, Lumajang, Jatim, setelah dibantai oleh sekelompok orang secara biadab di bawah gambar Garuda Pancasila di Balai Desa dan di depan anak-anak PAUD hanya karena Salim dkk seperjuangnnya, termasuk Tosan yang kini terkapar di RS, ingin mempertahankan lingkungan hidup yang baik bagi anak cucu dari aksi penjarahan tambang pasir yang melibatkan pejabat dan aparatus negara.

Berbahagialah mereka yang merayakan HKS di tengah kabar duka mendalam karena tewasnya dua pelajar Papua di tangan senjata aparatus negara yang dibeli dengan pajak rakyat. Berbahagialah mereka yang bermimpi agar bangsa ini menjadi bangsa besar tanpa punya kemauan meminta “maaf” atas lenyapnya ratusan ribu dan tereduksinya jutaan manusia tak bersalah. Berbahagialah mereka yang tahan membenarkan pembataian massal itu.

Berbahagialah mereka yang baru saja merayakan Hari Batik Sedunia pada 2 Oktober di tengah gempuran impor batik atau kain motif batik dari Cina yang tahun ini mencapai sekitar 34 juta dolar AS. Berbahagialah mereka yang menggunakan batik impor di tengah terengah-engahnya produsen batik lokal kelas UMK yang ketika mulai berusaha harus berdarah-darah karena negara atau swasta besar tak hadir tapi setelah mapan diklaim sebagai hasil binaan sbgmn ditemukan dalam peneitian kami. Berbahagialah mereka yang merayakan hari batik dengan menutup mata dan hati bahwa masih banyak buruh batik diupah di bawah UMR.

Berbahagialah mereka yang tak pernah dapat informasi bahwa bulan Oktober adalah bulan bahasa (dan sastra) Indonesia. Sejumput bulan yang dicoba dirawat dan dirayakan dengan berbagai acara oleh kaum minoritas negeri di tengah kecenderungan sebagian elit atau yang merasa elit bicara dengan memasukkan kata-kata asing tanpa konteks atau dengan lagak nginggris dan sebagian lagi ngarab atau ngasing lain, sementara ketika bicara dalam bahasa Indonesia cenderung pating pecothot atau ketika diwawancarai dalam bahasa Inggris terdiam seribu bahasa.

Berbahagialah mereka yang terlibat dalam penghancuran bahasa ibu dan nasional dalam perilaku. Berbahagialah awak media massa, guru, kaum sekolahan yang telah menggunakan bahasa dengan salah nalar, salah kaidah, salah konteks bahkan salah paham tanpa malu dan tanpa merasa perlu memperbaikinya.

Berbahagilah mereka yang merayakan Hari Arsitek Sedunia pada 3 Oktober di tengah gempuran bangunan perumahan, perkantoran dan gedung-gedung pencakar langit, tugu, pagar-pagar, gerbang, jembatan layang yang sebagian masih bercorak militeristik dan sebagian lagi sangat tak berjiwa tak berkonteks tak bergayut dengan bumi sendiri sambil memamerkan rasa rendah diri secara telanjang.