Beranda Views Feature Berbekal Rp 350, Selama 51 Tahun Tugiyanto Bersetia Jadi Perajin Tempe

Berbekal Rp 350, Selama 51 Tahun Tugiyanto Bersetia Jadi Perajin Tempe

210
BERBAGI
Tugiyanto alias Mbah Tug (69), mengaduk kedelai yang sudah ditaburi ragi.

Zainal Asikin |Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Panganan tempe yang terbuat dari kacang kedelai, tentu tidak asing lagi dan sudah akrab di lidah masyarakat seantero Indonesia. Makanan asli Indonesia ini eksistensi tempe tidak bisa diragukan lagi.Tempe disukai segala kalangan, tersedia di warung hingga hotel berbintang.

Pembuatan tempe itu sendiri, bisa dikatakan sebagai pekerjaan seni. Hal itu karena proses pembuatannya yang unik dan memerlukan ketekunan.Itulah barangkali yang membuat produsen atau pembuat tempe disebut perajiin tempe. Sentra atau wilayah yang menjadi pusat produsen tempe mengembangkan produksi tempe biasa disebut sentra perajin tempe.

Di Provinsi Lampung ada beberapa sentra perajin tempe. Salah satunya adalah Desa Sidodadi dan Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Dua wilayah itu banyak warga yang memproduksi tempe. Jejaknya sudah sangat panjang, yakni lebih kurang sama dengan jejak para pendatang asal Pulau Jawa yang mengikuti program transmigrasi menjejakkan kakinya di wilayah tersebut.

Di Desa Sidodadi dan Desa Sidorejo ada sekitar 50 orang, yang saat ini menggeluti usaha membuat tempe setiap harinya. Dari puluhan pengrajin tempe itu, salah satunya adalah Tugiyanto atau yang akrab disapa Mbah Tug (69) yang tinggal di Dusun Krajan I Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Mbah Tug adalah seorang perantau yang berasal dari Pulau Jawa yakni daerah Wates, D.I Yogjakarta.

Saat ditemui teraslampung.com di rumahnya Selasa (9/1/2018), Mbah Tug menurutkan dengan runtut perjalanannya dari Yogya hingga tinggal di Lampung Selatan dan menjadi perajin tempe.

Mbah Tug berkisah, pada tahun 1967 dan hanya berbekal uang sebesar 350 rupiah, ia nekat pergi merantau ke Bumi Ruwa Jurai (Lampung). Lalu ia tinggal di Dusun Krajan I, Desa Sidodadi, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang menjadi tempat tinggalnya hingga saat ini menggeluti usaha sebagai pengrajin tempe bersama istri dan anak-anaknya.

“Tahun 1967 atau masih zamannya paceklik saya datang ke sini (Lampung). Saya dari Jawa ke Lampung sendirian dan hanya berbekal uang 350 rupiah. Sebanyak Rp300 saya belikan tanah ukuran 25×50 meter yang saya tempati ini dan sisanya saya jadikan modal usaha untuk membuat tempe,”ujarnya.

Yo mung-mung nikulah kulo gowo saking njawi teng lampung niki (ya hanya itulah yang saya bawa dari Jawa ke lampung ini),” katanya, sambil  mengaduk kedelai yang sudah diberi ragi.

Di tempatnya tinggal itu, Mbah Tug kenal dekat dengan salah seorang tetangganya bernama Sumadi yang saat itu sudah menjadi  perajin tempe. Sejak saat itulah, Tugiyanto muda  mulai belajar membuat tempe dan menggeluti usaha sebagai penrajin tempe meski hanya bermodalkan uang 15 rupiah.

BACA: Disebut Sebagai Pekerjaan Seni, Inilah Proses Pembuatan Tempe Mbah Tug

Menurutnya, saat itu harga kedelai masih sebesar 7,5 rupiah/Kg. Saat itu dirinya hanya mampu memproduksi 5 Kg/hari, dan keuntungan yang didapat hanya sebesar 10 rupiah.

“Saya bisa membuat tempe di Lampung ini setelah diajari sama almarhum Pak Sumadi. Sekitar empat bulan saya belajar membuat tempe dan bisa cara membuatnya, saya mencoba menggeluti usaha membuat tempe itu sendiri. Awalnya saya dagang tempe keliling jalan kaki, tempenya saya taruh di bakul lalu saya pikul. Dagangnya selain di Pasar Sidomulyo, yakni di Pasar Tanjungan, Kecamatan Katibung dan Pasar Candipuro,”ungkapnya.

Tugiyanto alias Mbah Tug (69), mengaduk kedelai yang sudah ditaburi ragi

Setelah empat tahun menetap dan menggeluti sebagai pengrajin tempe di Lampung, pada tahun 1970 barulah dirinya menikah dengan Kartimah (59) yang juga perantau dari daerah Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang saat itu tinggal di Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan. Dari pernikahannya itu, dikarunia lima orang putra dan dua orang putri.

“Selama 8 tahun saya dagang tempe keliling mikul dan jalan kaki, alhamdulillah bisa kebeli sepeda onthel. Tahun 1983 baru dagangnya pakai sepeda motor, saat itu saya beli motor Yamaha L2 Super Rp 750 ribu. Sejak saat itulah sampai sekarang, saya dagang tempe tidak mikul dan jalan kaki lagi,”ujar kakek delapan cucu ini.

Selama 51 tahun menjalani usaha tempe, lanjut Mbah Tug, hanya satu penghalangnya yakni saat harga kedelai naik dan tidak menentu. Pada tahun 2013 silam, Mbah Tug sempat mengalami fase kesulitan. Harga kedelai pada saat itu mencapai Rp 10.000/Kg, dan kenaikan harga itu berlangsung selama satu bulan.

“Saat harga kedelai mencapai Rp 10 ribu/Kg, saya sempat tidak produksi tempe selama satu pekan. Setelah itu harganya mulai turun, dari Rp 8.000/Kg dan sekarang ini harga kedelai Rp 7.000/Kg. Kalau harga kedelai naik, terpaksa harga tempe saya naikkan. Tapi saya tidak merubah ukuran tempe yang selama ini saya buat,”terangnya.

Meski di usia yang tidak lagi muda lagi, usaha tempe yang dijalani Mbah Tug bersama anak keduanya, Puryadi (42), masih terus digelutinya. Setiap bulannya tak kurang dari 90 kg kedelai diolah Mbah Tug dan Puryadi menjadi tempe. Puluhan kilo kedelai itu setidaknya menjadi  1.345 bungkus temoe dalam kemasan plastik.

“Meski keuntungan yang didapat sedikit dan banyak rintangan yang dilalui, alhamdulilah dari usaha tempe yang saya tekuni selama 51 tahun ini saya bisa sekolahkan ke tujuh anak saya ke tingkat SMA dan perguruan tinggi. Bahkan sampai ke lima anak saya menikah, hingga memiliki delapan cucu,”tandasnya.

Mbah Tug mengakui, usaha tempe miliknya bahkan para pengrajin tempe lainnya yang ada di beberapa kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, mulai terbantu dan berkembang sejak adanya KOPTI (Koperasi Produsen Tempe tahu Indonesia) di Kecamatan Sidomulyo. Kedelai dijual dengan hrga HET sebesar Rp 2.700/Kg, sementara kalau di toko Rp 3.700/Kg. Bahkan setiap membeli kedelai, para pengrajin tempe mendapat tabungan sebesar Rp 1.000/ 1 Kg.

“Tahun berdirinya KOPTI lupa saya. Tapi saat masih ada KOPTI banyak sekali terbantunya, selain harga kedelai yang terjangkau dan setiap pembelian kedelai dapat tabungan. Waktu itu saya ambil kedelai sekitar 2 kuintal, jadi tabungan itu bisa diambil maksimal empat bulan sekali. Tapi tabungan itu bisa diambil sewaktu-waktu, hanya khusus untuk biaya keperluan anak sekolah,”ungkapnya.

Pada saat KOPTI tutup tahun 1992 silam, ia dan ribuan pengrajin tempe lainnya yang ada di Kabupaten Lampung Selatan merasa kesulitan. Karena harga kedelai tidak stabil, dan selalu mengalami kenaikan. Sejak saat itulah, kata Mbah Tug, para pengrajin tempe di Kecamatan Sidomulyo dan lainnya gulung tikar (bangkrut), banyak juga dari mereka yang beralih profesi.

Setelah KOPTI tutup, ia membeli kedelai hingga sekarang ini ke salah seorang penyalur kedelai bernama Sogiman yang tinggal di Desa Sidorejo. Menurutnya, di Kecamatan Sidomulyo sekarang ini, hanya ada sekitar 50 orang pengrajin tempe dan beberapa orang pengrajin tahu. Kalau sebelumnya, mencapai ratusan pengrajin tempe dan tahu.

“Saya berharap ada lagi koperasi seperti KOPTI dulu, supaya para pengrajin tempe dan tahu terbantu dan tetap terus membuat tempe. Harapannya harga kedelai tetap stabil, dan pemerintah bisa terus menstabilkan harga kedelai agar generasi selanjutnya dapat mewarisi usaha pengrajin tempe,”jelasnya.