Beranda Teras Berita Bercakap-cakap dengan Waktu

Bercakap-cakap dengan Waktu

194
BERBAGI

Sunardian Wirodono

Tiba-tiba, di tebing sungai depan rumah, saya bertemu
dengan Sang Waktu. Ia juga tampak sedang jongkok, mengamati bulir-bulir embun
di pucuk dedaun bambu. Matahari belum juga beranjak dari peraduan. Masih suntuk
berselimutkan dingin mendung pagi ini.
“Seseorang yang selalu berduka, adalah seseorang yang
menghabiskan daku,” kata Sang Waktu sembari berdehem.
Saya pun ikut berdehem. Ehm. “Kerugian dapat digantikan
dengan upaya, kerugian pengetahuan dengan belajar, kehilangan kesehatan dengan
kendali diri, namun engkau yang kujumpai akan selalu hilang selamanya. Engkau
selalu pergi, dan ketika datang hanya menggoda, untuk kemudian lenyap. Engkau
selalu memberi harapan, tetapi ketika tiba engkau tiada,…”
“Ah, terlalu puitis dan mengada,” sergah Sang Waktu.
Wajahnya tampak kucel, mungkin belum cuci muka. “Adakah engkau sedang
berpaling?”
“Segala dapat kuperoleh, atau lepaskan,” saya mengajuk
padanya. Suara kecipak air terdengar dari kodok bangkong yang kejebur dari
licin daun lumbu. “Namun engkau sesuatu yang tak dapat kuperoleh sepenuhnya.
Tak bisa kukuasai kuabadikan. Bahkan tak dapat kudaur ulang,…”
“Omong kosong. Aku ialah hal paling berharga yang bisa
dimanfaatkan siapapun. Termasuk olehmu. Aku adalah hal paling berharga, namun
mungkin lenyap dari semua yang engkau miliki, sekiranya kau tak bisa
menguasaiku. Engkau takkan bisa mengatur hal-hal lain, sampai engkau bisa
menguasaiku.”
“Aku ingin membunuhmu,” kata
saya putus asa.             
Sang Waktu ketawa ngakak, bergulingan dan kejebur ke air
sungai. Sukurin!
Dengan basah kuyup dan susah payah ia berdiri, “Engkau
tak bisa membunuhku tanpa melukai keabadian. Ada begitu banyak orang ingin
mematikanku, namun enggan meninggalkan comfortable zone itu. Demi waktu,
sungguh merugilah engkau,…”
Ah, sudahlah. Tak penting percakapan dengannya. Hari ini
adalah awal yang baru. Saya bisa menyia-nyiakan waktu saya, atau menggunakannya
untuk kebaikan adalah karena saya. Apa yang saya lakukan hari ini penting,
karena saya menukarkan satu hari hidup saya untuk hal tersebut.
Jika esok tiba, hari ini akan hilang selamanya,
meninggalkan sesuatu di dalamnya, sesuatu yang telah saya lakukan, saya tidak
akan menyesalinya!
“Ehm,…” Sang Waktu tiba-tiba berdehem kembali. Ia seolah
mengejek saya. “Bukankah aku satu-satunya hal yang menjadi milikmu sepenuhnya?
Bukankah aku menjadi milik semua-muanya? Juga bahkan padamu, yang tidak
memiliki apapun jua?”
Sekali hentak, aku kejebur ke dasar sungai. Brrrr,
dinginnya!

Loading...