Bercermin Diri

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Beberapa saat lagi pergantian tahun masehi akan berlangsung; walau tidak ingin larut pada pestapora pergantian tahun; namun ada sedikit kerisauan hati untuk sekedar bercermin diri dalam rangka melakukan evaluasi diri yang jujur dan kalau mungkin menyeluruh. Khususnya pada media online yang kita cintai ini.

Penulis masuk ke wilayah Teraslampung karena di panggul oleh sahabat DR.Syarif Mahya, yang semula sama sama menulis di media konvensional. Tidak terduga ternyata media ini digawangi oleh Kontjo Lawas, yang terkenal sangat jeli, teliti dan ngatiati dalam membeberkan informasi, baik berupa berita maupun sekilas info. Juragan satu ini kenal saat beliau berada pada media konvensional pada jamannya, dan di saat itu beliau masih muda, energik, dan ligat dalam bekerja.

Pembawaan itu sampai hari ini masih melekat pada pribadi yang sudah tidak muda ini.
Menurut telusuran yang dilakukan, media ini memiliki Visi sebagai Media Online Profesional, Gamblang, dan Berimbang. Hal itu tidak menjadi mengejutkan, bahkan untuk ukuran keharusan, memang harus seperti itu. Namun ada yang menarik dari media ini ialah memiliki pesan moral yang ditulis dengan hurup kapita dan menusuk ke tingkat rasa sifatnya, bunyi lengkapnya :
DALAM MENJALANKAN TUGAS JURNALISTIKNYA JURNALIS TERASLAMPUNG.COM MENGEDEPANKAN SIKAP PROFESIONAL DAN TIDAK MENERIMA PEMBERIAN/UANG AMPLOP/HADIAH DARI NARASUMBER.

Keberanian untuk memajang pernyataan ini tentu sudah dipikirkan masak masak oleh pimpinan akan dampak atau konsekwensi dari pernyataan itu. Karena secara jujur harus diakui keberanian “nyleneh” ini pada saat sekarang hanya dimiliki oleh sedikit orang, bahkan kejujuran seperti ini sering dipersepsikan melawan arus. Tapi itulah ciri khas yang membuat penulis “demen” untuk berlama lama bercengkrama dengan media online ini.

Menyimak para “panikmat” media online yang satu ini, kebetulan terhimpun pada satu wadah, tentu saja pembaca yang tidak terhimpun diyakini lebih banyak, menunjukkan tingkat latarbelakang intelektual yang tinggi, bukan hanya dalam performa akademik saja namun lebih luas lagi dari itu; yaitu sebagai kelompok pemikir pada jamannya.

Pembaca sekaligus penikmat sekaliber Anshori Djausal, Djauhari M.Zailani, Syarief Makhya, Heri Wardoyo, Sunardi, Nanang Trenggono, Isbedy Setiawan, Asrian Hendicaya, Edy Rifai, IB Ilham Malik, dan masih banyak lagi yang tidak cukup ruang untuk menulisnya. Mereka mereka adalah wakil segmen dari beragamnya pembaca dari media online ini. Pembaca cerdas yang menjadi karakter kuat dari Teraslampung; ternyata sekaligus menjadi penjaga marwah dari media online yang satu ini; karena jika ada sesuatu yang dianggap keluar dari pakem, serentak mereka akan bersuara. Hanya saja, para penulis andal ini  seolah masuk dalam kepompong, menjadi penikmat, belum tergerak untuk menulis kembali; padahal pembaca (termasuk penulis) sangat menunggu gerak pena beliau- beliau. Merekalah yang turut mewarnai dialektika pemikiran di Lampung pada era 1990-an hingga kurun 2000-an di koran lokal Lampung.

Sesekali Syarif Makhya yang ahli politik pemerintahan mau meluangkan untuk menuangkan buah pikirnya pada laman media ini. Namun entah karena sebab apa, akhir akhir ini beliau agak sedikit berkurang mengirimkan buah pikirnya. Pada hal analisis tajam beliau sering dijadikan rujukan oleh para politisi, birokrat bahkan Lembaga Swadaya Masyarakat. Untung artikel terakhir beliau yang ditunggu muncul juga sebagai evaluasi kilas balik birokrat di negeri ini.

Menjadi penyejuk justru datang dari Isbedy yang sering memposting kegiatan kesastraannya. Gemuruh karyanya yang menghiasi laman media nasional, sering menjadi oase rasa bagi penikmat Teraslampung; dan ini sekaligus menjadikan penyejuk rasa dahaga akan berkeseniannya para penikmat media ini. Tentu akan lebih seru lagi kalau beliau secara berkala mau menuangkan buah cita rasa sastranya di media ini.

Kembali kepersoalan cermin, ternyata benda ini ada yang datar, jembung, dan cekung. Adapun karakteristiknya sebagai berikut. Cermin datar adalah cermin yang biasa kita gunakan ketika bercermin. Sesuai namanya, cermin tersebut bentuk permukaannya datar. Bayangan hasil pemantulan pada cermin datar adalah maya, sama tegak dengan benda aslinya dan sama besar dengan benda aslinya.

Cermin cembung adalah cermin yang permukaannya cembung dan bersifat divergen (menyebarkan sinar). Pada cermin cembung, bagian mukanya berbentuk seperti kulit bola, tetapi bagian muka cermin cembung melengkung ke luar. Cermin cekung adalah cermin yang permukaannya cekung dan bersifat konvergen (mengumpulkan sinar). Cermin cekung dapat membentuk bayangan nyata dan semu dari sebuah benda.

Bayangan nyata terbentuk kalau benda jauh dari cermin. Adanya bayangan semu terbentuk kalau benda dekat dengan cermin Teraslampung.com harus mampu berperan sebagai ketiga cermin tadi sesuai dengan tuntutan atau misi yang diemban; dan itu sudah dilaksanakan dengan benar; konsekwensinya media ini pernah diganggu oleh pihak pihak yang merasa dirugikan atas pemberitaannya. Bahkan pada beberapa tahun lalu redaktur pernah diberi amplop berisi uang segepbok oleh salah seorang petinggi; namun dengan budaya yang tinggi beliau mengembalikannya yang tidak membuat sipemberi merasa direndahkan.

Apa yang harus dilakukan ke depan ? Pertama, harus terus menjaga netralitas yang sudah terpelihara dengan baik selama ini. Netralitas memang pahit di awal, namun manis dalam proses perjalanan, karena melangkah tidak terbebanni yang bukan bebannya.

Kedua, layout sudah mesti diperbaharui; sebagai contoh bagaimana membuat tataletak harmonisasi iklan. Perlu dipikirkan ulang bagaimana artikel atau tulisan tidak terpotong oleh iklan. Lebih baik iklan ditempatkan pada samping kiri atau kanan tulisan, sehingga pembaca di samping membaca artikel atay berita, juga sekaligus menyimak iklan.

Ketiga, menghindari iklan yang bersifat hanya memuaskan libido tingkat rendah; sehingga marwah moral tetap terjaga, akibatnya Teraslampung memiliki kewibawaan tersendiri. Kempat, ada semacam evaluasi persemester melakukan jajak pendapat kepada pembaca untuk mendapatkan umpan balik, mau seperti apa sebenarnya selera pembaca, walaupun tidak mungkin kita mengikuti semua, akan tetapi paling tidak kita mendapatkan titik tengahnya.

Kelima, setiap akhir tahun ada semacam “pertanggungjawaban jurnalistik” oleh Pimpina Media kepada para pembaca melalui satu artikel, yang isinya adalah perjalanan yang sudah dilalui satu tahun, dan ke depan akan mencapai apa. Di sini pembaca diajak bersama untuk “tamasya Batin” guna merenungkan kembali dan pentingnya keberadaan media online.

Keenam, perlu dipikirkan satu rubrik yang hanya dimiliki oleh Translampung, sehingga ini menjadikan semacam penanda atau ikonik, yang hanya dimiliki media ini. Apa judul, tema dan sebagainya, perlu dipikirkan mendalam.

Tulisan ini dibuat karena satu niatan media ini menjadi lebih baik lagi, dan terus…dan terus berjalan pada relnya. Jika tulisan ini dianggap kebawelan, boleh juga, karena bawel itu muncul didorong dari agar yang dibaweli itu selalu menjadi yang terbaik.

Selamat ngopi di hari terakhir tahun ini…