Beranda Views Opini Berdamai dengan Mesin

Berdamai dengan Mesin

157
BERBAGI
Ridwan Saifuddin

Ridwan Saifuddin
Peneliti Balitbangda Lampung

Laman opini “Project Syndicate” (7/12) menurunkan tulisan Laura Tyson dan Susan Lund yang menarik berjudul “Rage Against the Machine?” Artikel tersebut mendeskripsikan arah transformasi ekonomi yang mengubah cara produksi, pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup global yang terautomasi teknologi.

“Hampir semua aspek ekonomi kita akan berubah secara radikal,” tulisnya. Perubahan yang lahir karena intervensi teknologi. Bisa kita sebut di antaranya munculnya teknologi self-driving pada mobil yang diproduksi dengan teknologi robot canggih. Big data analytics dan artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang mampu memprediksi dan menilai kelayakan nasabah, karakter pengguna, bahkan menulis berita.

Printer 3-D yang dapat mencetak suku cadang mesin, juga untuk organ manusia. Pesawat tanpa awak (drone) bisa untuk mengirim pasokan ke lokasi-lokasi terpencil. Teknologi baru yang menjanjikan produktvitas, efisiensi, fleksibelitas, serta kenyamanan yang lebih tinggi. Namun, kehadirannya sekaligus memicu kecemasan akan dampaknya terhadap lapangan kerja. Penggunaan teknologi akan menggantikan tenaga kerja manusia dalam industri.

Studi baru-baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan di negara berkembang dan negara maju secara teknis dapat diautomasi. Hasil studi McKinsey Global Institute (MGI) menemukan, sekitar 15 persen angkatan kerja global—dalam skenario moderat—atau sekitar 400 juta pekerja, akan beralih profesi hingga 2030 akibat injeksi teknologi baru. Di Amerika Serikat dan negara maju lain, di mana outomasi terjadi lebih cepat, sekitar 9-32 persen tenaga kerja berpotensi beralih katagagori pekerjaan dan keterampilan. Automasi yang lebih cepat akan memicu perpindahan pekerjaan yang lebih besar.

Kekhawatiran teknologi akan menggantikan manusia dan mempersempit lapangan kerja sebenarnya bukan isu baru. Bahkan sejak John Maynard Keynes (1883-1946) melahirkan teori ekonomi, anggapan bahwa teknologi akan menyingkirkan tenaga kerja sudah mengemuka. Namun, waktu membuktikan kemampuan adopsi dan adaptasi manusia terhadap teknologi telah melahirkan dinamika industri dan peradaban yang berkembang dinamis dari waktu ke waktu. Kita telah melewati revolusi industri pertama yang menjadikan tenaga air dan uap untuk mekanisasi produksi. Berlanjut revolusi industri kedua dengan penggunaan listrik untuk produksi massal. Kemudian revolusi industri ketiga dengan teknologi informasi dan elektronika untuk automasi produksi. Dan sekarang revolusi industri keempat yang dikenal sebagai era digital dengan internet of things sebagai platformnya.

Kita dan Teknologi

Di tengah kemajuan teknologi tersebut, persoalan paling mendasar adalah pada pola pikir dan kemampuan kita dalam menggunakan teknologi. Teknologi bukan tujuan, melainkan sarana (tools) untuk menunjang aktivitas kehidupan sehingga bisa lebih efektif dan produktif. Kalau teknologi dijadikan tujuan, ia hanya akan melayani perilaku konsumtif, individualis, narsistik, dan lain sebagainya.

Mayoritas masyarakat kita tampak masih gagap dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi, baru menjadi target pasar produk teknologi, dan belum menjadi pengguna yang cerdas, apalagi pencipta atau produsen teknologi baru. Gawai canggih yang ada digenggaman masih banyak dimaknai sebagai simbol status atau gengsi seperti barang mewah lain. Kecanggihannya masih dimaknai sebagai gimik untuk menarik perhatian, bukan sebagai piranti yang bisa meningkatkan produktifitas dan kualitas hidup.

Raksasa internet Google, pada 2015 melakukan survey tentang perilaku masyarakat Indonesia dalam menggunakan teknologi. Survei melibatkan 1.200 responden dengan mempertimbangkan perwakilan populasi di setiap daerah. Hasilnya menunjukkan penggunaan smartphone di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan.

Kuartal pertama 2015, lonjakan pengguna telepon pintar mencapai 43 persen, lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya 28 persen. Google juga mengungkap bahwa 67 persen pemilik smartphone di Indonesia lebih memilih menggunakan smartphone untuk berbelanja online. Selain untuk berbelanja online, Google juga mengungkap bahwa para pemilik smartphone lebih banyak memanfaatkan perangkat mereka untuk layanan streaming, sebagai perangkat untuk menonton video secara online.

Inilah potret kita sebagai konsumen teknologi. Survei membuktikan mayoritas masyarakat kita belum menjadi pengguna yang cerdas dari teknologi. Namun, kita juga melihat, dalam beberapa tahun terakhir mulai dirasakan geliat bisnis baru yang memanfaatkan teknologi internet sebagai penopangnya. Kemunculan start up bisnis dan ritel online beranjak mengisi ruang ekonomi masyarakat kita.

Bisnis dan lapangan kerja baru tercipta yang difasilitasi internet serta perangkat teknologi pendukungnya. Kehadiran bisnis online ini juga ikut mendorong tumbuhnya sektor informal skala mikro, kecil, menengah. Sekali lagi, ini menunjukkan kemampuan kita dalam beradaptasi terhadap kemajuan teknologi dan revolusi industri. Persoalannya, seberapa cepat kita mampu beradaptasi dan mempersiapkan diri?

Pendidikan Zaman Now

Pendidikan menjadi mata rantai penting dalam persoalan ini. Karena kecepatan perubahan yang terjadi pertama-tama menuntut kemampuan dan daya tanggap kita dalam merespon dinamika tersebut. Ini harus menjadi kesadaran tidak saja secara individu, melainkan juga dalam konteks pemerintahan, secara khusus elemen pendidikan.

Pemerintah perlu lebih mengarahkan kebijakan, program, dan kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik sumber daya aparatur maupun warganya, untuk lebih proaktif dan siap merespons tantangan perubahan. Pelayanan publik harus lebih efektif dan efisien. Alokasi anggaran pendidikan 20 persen harus dipastikan tepat sasaran dan efektif dalam rangka menghadirkan mutu pelayaan pendidikan yang relevan. Kapasitas dan profesionalitas guru sangat perlu ditingkatkan. Perangkat pembelajaran di sekolah-sekolah perlu dimutakhirkan. Sarana prasarana penunjang pendidikan perlu dilengkapi.

Orientasi pendidikan tidak boleh nilai akademik saja, melainkan ditekankan pada keterampilan hidup dan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat, sehingga lahir kesiapan untuk menghadapi perubahan yang serba cepat. Kecemasan hadirnya mesin-mesin canggih yang siap menggantikan tenaga manusia bukan hanya terjadi di sini, mayoritas warga negara maju pun khawatir automasi akan memaksa mereka mencari lapangan kerja baru. Ancaman ketimpangan pendapatan antara strata pekerjaan juga meningkat. Ketidaksiapan tenaga kerja yang harus beralih pekerjaan karena automasi akan memicu pengangguran massal.

Saat mesin mengambil alih pekerjaan, maka tenaga kerja membutuhkan keterampilan baru yang berbeda untuk bisa tetap produktif. Analisis MGI menunjukkan bahwa kemampuan kognitif yang tinggi—seperti kemampuan penalaran logis, keterampilan komunikasi, serta kematangan sosial dan emosional, menjadi lebih penting. Sementara, mesin mengambil alih kemampuan rutinitas yang mekanis. Ini yang perlu menjadi penekanan dalam kurikulum pendidikan kita, yaitu proses pembelajaran yang mampu mengoptimalkan potensi manusia seutuhnya.

Kurikulum yang tidak menjadikan peserta didik sebagai “alat produksi,” melainkan sebagai tuan yang kuasa memanfaatkan mesin dan teknologi untuk menunjang produktifitasnya. Hasil pendidikan yang diharapkan siap menghadapi perubahan lingkungan yang serbacepat.

Karenanya, pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Proses pembelajaran yang paripurna adalah hasil sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus memiliki komitmen yang sama, irama yang sama, serta bahasa yang sama dalam menghadirkan proses pembelajaran di sekolah, di rumah, dan lingkungan masyarakat. Kolaborasi antara sekolah dan dunia usaha menjadi kebutuhan yang semakin tinggi, untuk memastikan peserta didik memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang relevan.***