Berkas Perkara Penimbunan dan Pengoplosan Pupuk Bersubsidi Siap Disidangkan

  • Bagikan

Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG– Berkas perkara penimbunan dan pengoplosan pupuk subsidi, dengan tersangka Agus Sugeng Hariyanto warga Kalianda, Lampung Selatan, yang ditangani Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimus) Polda Lampung sudah dinyatakan lengkap P21. Berkas perkara tersebut, telah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung, Rabu (11/3).

Direktur Kriminal Khusus Polda Lampung, Kombes Pol. Mashudi melalui Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih, membenarkan bahwa berkas perkaranya telah di teliti dan dinyatakan lengkap (P21). Saat ini, berkas tersebut langsung dilimpahkan ke penyidik Kejati Lampung.

“Diamankannya tersangka Agus Sugeng Hariyanto warga Kalianda, Lampung Selatan bermula dari adanya laporan dan keluhan petani di wilayah Provinsi Lampung tentang kelangkaan pupuk bersubsidi dan maraknya peredaran pupuk yang diduga Palsu (kandungan hara tidak sesuai dengan
lebel),”kata Sulis kepada wartawan, Rabu (11/3).

Sulis memaparkan, Untuk mengungkap kasus adanya penimbunan dan pengoplosan pupuk bersubsidi tersebut, penyidik dari Subdit I Dirkrimsus Polda Lampung melakukan penyelidikan di beberapa lokasi dan gudang yang di curigai sebagai tempat menimbun dan mengoplos pupuk
subsidi pemerintah.

“Petugas melakukan penyelidikan sejak Januari 2015 lalu. Hasilnya, petugas melakukan penggerebekan disebuah gudang yang terletak di jalan intas Sumatera, Desa Palembapang, kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Petugas lalu mengamankan tersangka Agus Sugeng Hariyanto,
sebagai pemilik gudang dan pupuk oplosan,”papar Sulis.

Sedangkan barang bukti yang disita, sambung Sulis, berupa pupuk NPK Phonska subsidi sebanyak 40 karung seberat 2 ton, pupuk ZA subsidi sebanyak 30 karung seberat 1,5 ton, satu bundel karung SP 36 plus merek daun dunia posfat alam, satu bundel karung pupuk NPK Phonska subsidi, tiga karung dolomit, satu unit mesin jahit karung, satu unit mesin giling (penghancur), dua gulung benang.

“Petugas juga menyita beberapa alat lainnya,  satu buah skop, cangkul, ember, ayakan, dan 1 Kg pewarna merek Pered warna merah. Semua barang bukti itu disita dari dalam gudang pengoplosan pupuk milik tersangka Agus,”terang Sulis.

Mantan Kasubdit Dikyasa Ditlantas Polda Lampung ini menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka Agus Sugeng Hariyanto mengaku bahwa pupuk jenis NPK Phonska subsidi di buka dari kemasan, kemudian dicampur dengan pupuk NPK. Phonska Alternatif menggunakan alat berupa
cangkul dengan. Perbandingan 1:1.

“Setelah kedua pupuk tersebut tercampur, kemudian di kemas kembali oleh tersangka Agus dengan menggunakan kemasan pupuk NPK Phonska subsidi dengan kandungan hara nitrogen 15 persen, P2O5 sama dengan 15 persen, K2O sama dengan 15 persen,”kata Sulis.

Sedangkan untuk jenis pupuk KCL merek Sasco, di campur dengan menggunakan pupuk jenis ZA subsidi yang telah digiling halus ditambah dengan dolomit yang telah dicampur dengan pewarna merah merek Pered dengan menggunakan cangkul dengan perbandingan 1:2 (satu karung pupuk
KCL Original/asli dicampur 2 karung ZA yang telah dihaluskan). Kemudian dikemas kembali dengan menggunakan kemasan pupuk KCL merek Sasco, dengan kandungan hara K2O sebanyak 60 persen.

“Hasil uji laboratoris Balai Riset Standartdisasi (Baristan) Provinsi Lampung, pupuk NPK Phonska subsidi itu adalah benar hasil oplosan yang dilakukan tersangka. Dari kandungan hara Nitrogen sama dengan 0,37 persen, P2O5 sama dengan 1,02 persen, K2O sama dengan 0,93 persen. Pupuk KCL merk Sasco Produksi PT. Sasco dengan kandungan hara, K2O sama dengan 0,33 persen,”jelasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka di jerat dengan Pasal 60 ayat (1) dan ayat (2) huruf f, UU RI nomor 12 tahun 1992,  barang siapa dengan sengaja dan atau karena kelalaiannya mengedarkan pupuk yang tidak sesuai dengan label, dengan ancaman pidana selama 5 tahun dan denda
sebesar Rp 250 juta.

  • Bagikan