Berselimut Awan

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada Pascasarjana FKIP Unila

Siang itu panas terik sekali.  Udara terasa jengah karena awan berarak memutih;  di belakangnya ada gumpalan mendung menghitam. Udara seolah tertekan karena tidak ada embusan angin, akibatnya udara terasa begitu menyengat dan menyesakkan. Menurut prakiraan cuaca BMKG, hari itu akan ada hujan ringan. Persoalannya adalah kondisi seperti ini sudah sering berlangsung akhir-akhir ini; informasi yang diperoleh ini terjadi karena anomali  cuaca.

Bagaimana kalau itu terjadi pada kehidupan sosial; pertanyaan ini akan kita simak melalui fenomena sosial yang ada; dan diduga akan ada. Seperti telah disinggung pada tulisan terdahulu, sebenarnya kondisi anomaly sosial itu sudah mulai menunjukkan tanda tanda. Kondisi ini terjadi bisa karena sengaja diciptakan, atau terkena dampak dari kondisional lain, sehingga memunculkan kondisi tersebut, dan bisa jadi terjadi secara bersamaan; artinya baik direncanakan maupun akibat dampak dari sesuatu yang direncanakan itu muncul beriring.

Seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Selo Sumardjan: “Tidak ada peristiwa sosial yang murni berdiri sendiri, akan tetapi melalui proses bentukan”. Bahasa lainnya adalah, peristiwa sosial itu muncul karena ada rangkaian penyerta sebelumnya. Karena begitu kompleksnya persoalan sosial, tidak jarang satu dengan yang lain berkelindan, bahkan terakumulasi.

Berdasarkan kerangka pemikiran itu, maka dalam menyimak peristiwa keseharian di negeri ini, tampak bahwa akumulasi kinerja selama ini membuat konstelasi sosial yang bersifat menekan ke bawah. Jika akumulasi itu berssifat menguntungkan semua fihak, itu berarti prinsif berkeadilan dapat ditegakkan; sayangnya yang ada selama ini justru akumulasi yang merugikan. Akibat lanjut, beban yang ditanggung oleh masyarakat lapisan bawah makin berat.

Ambil contoh kegoncangan akibat perang di belahan bumi lain, berakibat pada ketidaknormalan distribusi konsumsi, termasuk bahan bakar. Konsekwensinya harga harus dinaikkan, akibat kenaikan harga ini sektor ekonomi mikropun terdampak; itu berarti pedagang kecil yang ada di tepi jalanpun harus ikut menanggung kenaikan harga baik langsung maupun tidak langsung.

Pembahasan secara akademik di ruang ruang kuliah, diskusi diskusi di ruang publik tidak sedikit dilakukan; dari mereka yang bergelar sampai dengan yang berkelakar; semua berjalan, namun tetap saja dampak itu selalu menekan ke bawah. Kondisi ini bukan menjadi keprihatinan para lapisan pengambil keputusan, dan kebijakan. Akibatnya membuat orang nomor satu di negeri ini harus marah terlebih dahulu, baru semuanya terperangah, walaupun belum tentu tergerak, apalagi bergerak.

Sifat merasa rendah jika tidak menggunakan produk asing masih menghujam tajam pada mereka, padahal jika mereka memprioritaskan penggunaan produk anak negeri, maka ekonomi otomatis akan bergerak. Slogan mencintai produk dalam negeri, ternyata hanya ada di layar kaca, pada kenyataannya jauh panggang dari api. Walaupun motif dasarnya sudah dapat ditebak, jika produk dalam negeri maka biaya akan rendah, itu berarti peluang mendapatkan tetesan rezeki akan kecil. Hal itu berbeda jika menggunakan produk luar. Sebab, makin panjang rangkaian birokrasi ditempuh, maka tetesan rezeki makin deras. Mereka lebih senang berselimut awan; ada di atas sana; tidak pedulu apakah di bawah itu kemarau, jengah, atau apapun; mereka bersepakat untuk mentulikan telinga.

Bisa di bayangkan ada kepala daerah yang tidak pernah sejengkalpun membuat jalan di daerahnya berasa nyaman, tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri gejolak warganya memenuhi kebutuhan hidupnya; bagaimana rakyatnya harus antre hanya sekadar untuk mendapatkan setetes minyak goreng. Asyik berselimut awan kebesarannya; sehingga merasa selalu ada pada zona aman.

Belum lagi dengan selimut kebesaran mempertontonkan akan kekuasaan dan kebesarannya; sehingga matahati tertutup awan, karena membiarkan sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya berproses menuju kepada kehancuran; yang ada di kepala hanya “yang pentinga saya aman dan nyaman”, soal itu membuat bawahan tidak nyaman, salah sendiri mengapa mau jadi bawahan. Paling penting semua langkah sudah dipenuhi, terlepas langkah yang dibuat untuk menyelamatkana diri, itu soal lain.

Miris lagi karena kepemimpinan itu bersifat sentralistik dan berperiodesasi; maka menjelang akhir periode, langkah yang dilakukan adalah mempertebal selimut awan. Akhirnya program tidak perlu maksimal jika itu mengandung unsur peluang untuk dipertanggungjawabkan secara terbuka, sementara progam rutinitas dimaksimalkan, karena pertanggungjawabannya tidak harus terbuka.

Jejak jejak personal lebih ditonjolkan sehingga kesan sebagai “pahlawan” menjadi begitu kuat; seolah tanpa dirinya semua tidak jalan, sesuatu yang ditunggu sekian lama harus dia yang menyelesaikan, orang masa lalu tidak berbuat apa apa. Demikian stigma yang dibangun, sehingga awan makin tebal menutup pandangannya, padahal semua itu membuat matahati menjadi semakin buta.

Sekali lagi, ternyata ternyata benar adanya orang orang bijak terdahulu telah mengingatkan bahwa hati hati dengan kekuasaan, karena itu bisa membuat orang menjadi rabun. Oleh sebab itu, dalam buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Al-Ghazali memberikan setidaknya lima nasihat kepada pemimpin. Pertama, pemimpin harus mengetahui kedudukan dan pentingnya kekuasaan. Kedua, senantiasa merindukan petuah ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka. Hati-hati dengan ulama yang menyukai dunia. Mereka akan memperdayaimu.

Ketiga, janganlah merasa puas dengan keadaanmu yang tidak pernah melakukan kezaliman; karena bisa jadi itu hanya halusinasi. Keempat, jangan memiliki sifat sombong. Salah satu bentuk kesombongan adalah bila marah, ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal.

Kemarahan merupakan Seperempat Kebinasaan. Kelima, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa dirimu, engkau mesti membayangkan bahwa engkau adalah salah seorang rakyat, sementara selain dirimu adalah pemimpin. Maksudnya, setiap mahluk pasti menjumpai persoalan atau masalah, begitu juga orang yang dipimpin; oleh karena itu berperanlah sebagai penyelesai masalah, bukan pembuat masalah pada orang lain.

Apakah kita tetap mau berselimut awan, dengan cara menebalkannya…semua berpulang kepada kita. Jika kita menyadari bahwa Tuhan memberikan tugas kekhalifahan kepada kita manusia; maka tidak ada jalan kembali untuk selalu berlaku adil, termasuk adil kepada diri sendiri; menjauhkan sifat marah, apalagi dendam. Kita semua adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin diri kita sendiri. Minimal ukurannya; tetapi sangat berat melakoninya.

Selamat ngopi pagi!