Beranda Views Feature Bertahan dengan Kerupuk Kemplang

Bertahan dengan Kerupuk Kemplang

2116
BERBAGI
Bong Cu mengolah sambal dengan wajan besar.

Oyos Saroso H.N.|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG–Lebaran Idul Fitri sudah lewat. Namun, para pengrajin kerupuk kemplang di Bandarlampung masih terus giat memproduksi makanan khas asal Sumatera bagian selatan itu. Maklum, permintaan pasar kerupuk kemplang di Lampung memang tinggi meskipun tidak dalam situasi hari raya.

“Selama puasa Ramadan dan menjelang Lebaran Idul Fitri kami memang menaikkan produksi. Sebab, permintaan pasar memang meningkat hingga 50 persen. Umumnya para pemudik ketika pulang ke Jakarta atau daerah lain di Indonesia selalu membawa oleh-oleh kemplang,” kata Bong Chu, 47, pengusaha kemplang di Jl. Lobak, Bandarlampung.

Lain lagi dengan Bong Chu, 52. Ia menekuni usaha kemplang dari orang tuanya.. Orangtua Bong Chu sudah menjadi pembuat kemplang sejak tahun 1970-an, ketika pertama kali datang ke Lampung dari Pulau Bangka.

Ketika kedua orang tuanya meninggal, usaha kemplang diteruskan oleh Bong Chu dan adiknya, A Yung. Karena sukses menjadi produsen kemplang, usaha Bong Chu berbisnis kemplang kemudian ditiru oleh warga sekitarnya.Maka, jadilah kini daerah Gunung Sulah dan Kampung Sawah Brebes, Bandarlampung dikenal  sebagai daerah produsen kemplang terkenal di Lampung.  Daerah itu sering disebut sebagai “Kampung Kemplang” karena ada ratusan pengusaha dan pengrajin kemplang.

Dalam sehari, rata-rata Bong Chu ia menghabiskan 100 kilogram daging ikan gabus dan 100 kilogram tepung sagu. Untuk itu, dia memperkerjakan belasan tetangganya, yang semuanya adalah ibu rumah tangga untuk mengolah dan memanggang kemplang.

 

Membakar kemplang dengan bara arang.
Membakar kemplang dengan bara arang.

Meskipun upahnya kecil, para ibu rumah tangga itu tetap tekun sebagai buruh panggang kemplang.  Dengan upah membakar Rp 50/lembar kemplang, seorang buruh panggang kemplang dalam sehari mendapatkan upah Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Kemplang adalah sejenis kerupuk ikan yang dibuat dari tepung tapioka, ikan berdaging
putih (tenggiri, belida, dan jolot), dan aneka bumbu (garam, vetsin, bawang putih, merica, dan jahe). Selain rasanya gurih, kemplang menjadi idola masyarakat Sumatera bagian selatan karena proses pematangannya adalah dengan cara dibakar di atas bara api, sehingga tidak banyak mengandung kolesterol.

Masyarakat Sumatera bagian selatan (Lampung, Palembang, Bengkung, Jambi) biasanya makan kemplang seperti halnya makan kue. Artinya, kerupuk kemplang tidak dimakan sebagai “teman” makan nasi sebagaimana kerupuk pada umumnya. Nyaris semua produk kemplang rasanya sama: gurih dan nikmat di lidah. Yang membedakan antara produk kemplang merek yang satu dengan merek lainnya hanyalah soal kerenyahan dan sambal yang menyertainya untuk makan.

Kemplang memang biasa dinikmati dengan sambal. Sambal kemplang sangat khas., terbuat dari campuran cabai dan  kecap. Biasanya, sambal akan disertakan dalam bungkusan kemplang di dalam kantung plastik ukuran kecil. Cara makannya pun khas, yaitu sambal dituangkan di  atas bulatan kerupuk kemplang, lalu kemplang lainnya dicoletkan di atas sambal, lalu dimakan.

Meskipun konon berasal dari Sumatera Selatan, pengusaha kemplang dalam skala di Lampung pada umumnya justru etnis Tionghoa yang berasal dari daerah Bangka Belitung. Orang etnis Lampung dan Jawa kini juga banyak yang menjadi pengrajin kemplang. Banyak di antara para pengusaha kemplang itu menjadi pengusaha justru karena krisis moneter.

Cik Aling, 467, misalnya. Perempuan keturunan Tionghoa yang sudah puluhan tahun menjadi warga Bandarlampung itu semula adalah ibu rumah tangga biasa. Krisis ekonomi yang menerjang Indonesia pada 1997 lalu menjadikan Cik Aling, 42, banting setir menjadi pengusaha kerupuk kemplang. Berkat ketekunannya, usaha yang dirintis sejak enam tahun lalu itu kini sudah membuahkan hasil. Kemplang merek “Dua Belida” produksi Cik Aling kini sudah menembus pasar swalayan, bahkan dijual ke Jakarta dan Banten.

Modal awal yang dikeluarkan pada 1999 lalu hanya Rp500.000. Uang sebesar itu dia digunakan membeli bahan baku pembuatan kemplang berupa tepung tapioka,  ikan jolot, vetsin, garam, dan telur.

Berawal dari usaha kecil-kecilan, kini industri kemplang “Dua Belida” milik Cik Aling sudah dipasarkan di sejumlah supermarket. Pemasaran melalui supermarket ini menggunakan sistem konsinyasi. Artinya, pembayaran baru dilakukan setelah satu bulan kemplang dijual di sejumlah supermarket. Perjanjian pembagian keuntungan dengan mitra adalah 30 persen omzet untuk pengelola pasar swalayan dan sisanya (70 persen) untuk pengusaha kemplang.

Dalam sebulan bisa mengirim stok ke supermarket 1.000–2.000 bungkus. Biasanya permintaan paling ramai, saat menjelang hari raya Lebaran dan liburan sekolah. Dalam kondisi normal omzet yang bisa diperoleh di supermarket ini rata-rata di atas Rp5 juta per bulan. Namun, omzet tersebut harus dipotong untuk memutar modal kembali dan membayar pegawai.

Cik Aling dan Bong Chu mengaku, selama masih banyak orang Sumatera yang hobi makan kemplang, mereka akan terus menekuni usaha kemplang.

“Usaha kemplang sudah terbukti bisa membuat kami bertahan meskipun Indonesia dilanda krisis,” kata Bong Chu.

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaProyek Investasi MP3EI 2014 Ditargetkan Rp 2.000 Triliun
Artikel berikutnyaInilah Tempat Anak-Anak Muda Lampung Belajar Menulis
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya