Bertahun-tahun Nasib Tak Jelas, Imigran Afghanistan di Batam Protes UNHCR

  • Bagikan
Para imigran asal Afghanistan berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Batam, Kamis (21/10/2021). Foto: terasbatam.id
Para imigran asal Afghanistan berunjuk rasa di depan Kantor DPRD Batam, Kamis (21/10/2021). Foto: terasbatam.id

TERASLAMPUNG.COM, BATAM — Nasib puluhan pendatang (imigran) asal Afghanistan di Batam kini makin tidak jelas. Mereka merasa ditelantarkan oleh badan PBB untuk masalah pengungsi atau UNHCR. Mereka pun protes kepada UNHCR di Kantor DPRD Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis (21/10/2021).

Puluhan imigran asal Afghanistan itu sudah tinggal selama delapan tahun tahun di Batam. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda UNHCR akan memberikan kejalsan masa depannya.

Mereka  meminta pemerintah Indonesia melalui DPRD kota Batam bisa menjembatani  dengan UNHCR agar mereka segera memberangkatkan ke negara ketiga sebagai negara tujuan akhir pelarian dari negara mereka. Sebelumnya, mereka terpaksa melarikan diri dari negaranya dengan menumpang perahu menyusul terjadinya konflik yang berkepanjangan.

“Selama ini UNHCR maupun IOM (International Organization for Migration) belum memberikan keputusan negara tujuan kami,” kata Muhammad Ali, salahy satu pengunjuk rasa di depan Kantor DPRD Batam.

Menurut Ali, selama delapan tahun tinggal di Batam ia dan keluarganya berstatus sebagai pengungsi. Status itu membuatnya tidak bisa bekerja. Padahal, ia dan keluarganya setiap hari harus makan dan memenuhi kebutuhan.

“Saya berharap pemerintah dan parlemen di Batam menjembatani kami mendapat negara tujuan ketiga, sehingga status kami jelas,” kata Ali.

Ali mengatakan, di Kota Batam sedikitnya ada  500 pengungsi dari Afghanistan. Mereka tinggal  Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Sekupang dan Hotel Kolekta di bawah pengawasan IOM yang berada di kawasan Nagoya.

Sebelumnya para pengungsi juga datang berunjukr asa di DPRD Batam dan diterima oleh Komisi I DPRD Batam. Mereka menyampaikan akibat ketidakjelasan nasib sudah 7 orang meninggal bunuh diri karena depresi.

Ketua aksi para imigran, Abdul Hakim, mengatakan pihaknya sudah beberapa kali menanyakan ke UNHCR.

“Namun sampai sekarang kami belum juga mandapatkan kepastian terkait nasib dan kejelasan masa depan mereka. Kami tidak akan kembali ke Afghanistan walaupun UNHCR  memulangkan kami. Kami butuh kepastian,” kata Abdul.

Sementara itu  anggota DPRD Muhammad meminta perwakilan imigran Afghanistan untuk membuat surat pernyataan.Surat tersebut nantinya  akan diteruskan DPRD Batam ke pemerintah pusat.

“Dengan surat itu kami akan membawanya dan akan disampaikan ke UNHCR atau pihak terkait,” kata politikus PKB itu.

Fadli mengatakan, urusan para imigran ini bersifat urusan antar Negara dan antar pemerintahan, serta menjadi domain dari pemerintah pusat.

Aksi tersebut sempat dibubarkan oleh aparat keamanan karena tidak memiliki izin serta alasan pandemic Covid-19. Namun karena para imigran berlaku tertib aksi dan kerumunan massa dapat terkendali dan akhirnya massa bubar kembali ke pengungsian.

TERASBATAM.ID

  • Bagikan