Beranda Views Kisah Lain Bertemu Superkilat dengan Bupati Khamami

Bertemu Superkilat dengan Bupati Khamami

417
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS

MUNGKIN kalau tidak karena Segan Petrus Simanjuntak, seumur dia menjadi orang nomor satu di Kabupaten Mesuji tak akan terjadi. Boleh jadi, berpapasan pun tidak. Sehello di suatu tempat pun bakal pupus.

Bagaimana tidak. Saya tak kenal dia secara akrab. Bahlan, Kham bagiku sangat asing. Ia pun belum tentu tahu tentangku. Jadi, bersyukurlah, karena Segan aku bisa menemui Khamami di suatu siang di rumahnya di Way Halim.

Pertemuan itu pun sungguh tak membahagiakan dan membanggakan. Untuk ketemu cukup lama menunggu, dan begitu diterima sangat kilat. Aku maklum, Khamami terlalu sibuk dan tak mau direpotkan. Tidak sedikit pejabat seperti ini. Aku maklum.

Sebelum aku pamit, dia berujar, urusan nanti sama Segan. Sepekan kemudian, Segan memberi tahuku: belum ada kabar. Sampai sekarang.

Ya tak apa. Saya tak kecewa, meski saya punya harapan suatu hari bisa berjumpa Bupati Mesuji dua periode itu. Jangan salah persepsi, saya ingin bertemu karena ingin jumpa dan mau mengobrol soal apa saja; termasuk Mesuji.

Apalagi setelah saya membaca novel “Maafkan Aku, Kuala Mesuji” (diterbitkan ulang Basabasi Yogyakarta, 2019, dengan tajuk “Anak-Anak Kuala”) karya Fajar Mesaz. Novel itu dibedah dan didiskusikan di Lamban Sastra Isbedy Stiawan. Sebuah novel menarik dan patut dibaca. Dan novel itu makin mengingatkan dan menginginkan hatiku untuk bertemu Khamami.

Pada diskusi soal Mesuji yang digelar Gerakan Pemuda Mesuji (GPM), saya meyakini saatnya berjumpa Kham. Kawan-Kawan di GPM juga sudah opitimistis Khamami akan hadir. Kalau pun tidak, dengan senang akan mengutus minimal Sekdakab Mesuji. Sampai diskusi di balai desa selesai, Khamami juga sekda tak hadir, pun utusan tiada tanpa pemberitahuan. Tetapi, diskusi tetap berlangsung. Kawan-kawan GPM yang dikomandoi Eko sepertinya memaklumi; tak ada kekecewaan.

GPM, sekumpulan para pemuda Mesuji yang berkomitmen memajukan kabupaten itu dan ingin menghapus kesan “seram” bagi Mesuji, menganggap tanpa Khamami mereka tetap (ingin) berbuat.

Malam hari, bersama Suwondo Alex dkk. saya diajak menjelajahi Mesuji. Kabupaten ini benar-benar tanpa ikon, sebagaimana yang bisa kita jumpai di daerah lain. Bayangkan, penanda di wilayah tak ada. Mesuji seperti asing, kecuali “dikenal” karena register dan kerusuhan yang dipicu oleh konflik tanah atau lahan.

Saya juga tak berkawan dengan Kham di medsos, tapi dari kawan-kawan saya tahu kalau Bupati Mesuji itu gemar menabur foto kesibukannya di medsos. Bahkan, beberapa jam sebelum OTT kabarnya ia menguplud foto bersama warga.

Pagi tadi, saya tak begitu kaget mengetahui telah terjadi OTT oleh KPK pada Khamami bersama pengusaha dan ASN. Bukan karena saya berharap atau turut mendokan kejadian OTT ini.

Saya hanya berpikir, seseorang yang biasanya terkesan anteng (dan “jauh dari heboh-heboh”) cenderung menyimpan misteri. Apakah Kham begitu? Entahlah.

Setelah diyakinkan KPK meng-OTT Khamamik, bagaimana responw warga Mesuji? Sedih? Gembira?

Ah, sebaiknya saya tetap menyampaikan dukacita amat dalam atas kasus OTT yang menimpa Khamami, juga kada lainnya; Tanggamus, Lampung Tengah, dan Lampung Selatan. Semoga tiada lagi tangan KPK sampai Lampung. Akhirnya saya tutup dengan puisi saya ini:

Engkaukah yang Melangkah

engkaukah yang melangkah, begitu gegas,
wajah tertunduk memasuki
ruang yang kelak amat kau benci
di sebelahmu beberapa orang menuntu
tapi bukan mengawal seperti harihari kemarin?

sejak ini pagi, barangkali aku tak lagi
melihatmu atau kita bertemu di jalan
saat kau selalu saja berpose di sana
sambil seolah mengawasi jalan yang
diperbaiki. engkau menjadi amat
kukenal, kita seperti akrab; bagaikan
saudara yang tak lagi bisa keliru
menyebut nama dan wajah

engkau menunduk, seperti seseorang
tanpa mata, khawatir tersandung batu
dan terus melangkah masuki ruangan
tak menoleh padaku. tapi aku tahu
kaulah itu, seseorang yang pernah
kutemui di suatu siang dan kau begitu angkuh waktu itu!

barangkali sejak pagi ini, tak kutahu pagi
bila kita bisa bertemu di pinggir jalan sambil
memandangi jalan yang masih diperbaiki

ah! terlalu cepat hari
membuat kita seperti mati!

Loading...