Beranda Views Opini Bidak pun Mulai Mengincar Lawan di Pilgub Lampung 2018

Bidak pun Mulai Mengincar Lawan di Pilgub Lampung 2018

319
BERBAGI
Politik Itu tak Suci (Ilustrasi/FAHIMANZOOM/thedailystar)

Herman Batin Mangku

Geliat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2018 mulai terasa. Aromanya sudah tercium. Saat ini, ada tiga nama kuat yang muncul, yakni Walikota Bandarlampung Herman HN, petahanan Ridho Ficardo, dan Bupati Lampung Tengah Mustafa. Yang lain, masih samar-samar, masih tengok kanan dan kiri, konsolidasi, dan memperkuat diri untuk benar-benar siap maju ke arena.

Herman HN jauh-jauh hari sudah menyatakan kesiapannya kembali mencoba bertarung setelah gagal di Pilgub 2014. Sedangkan Ridho Ficardo mengantongi dukungan DPP Demokrat untuk periode kedua. Mustofa yang awalnya ingin kosentrasi memimpin kabupatennya mulai “check sound”.

Herman HN lewat citranya yang sangat peduli pada kepentingan rakyat ada angin segar dari salah satu partai yang tengah berkuasa saat ini. Ridho Ficardo baru kembali menggenggam Partai Demokat Lampung. Mustafa wajar tergoda karena sudah punya perahu Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Ibarat pertandingan catur, ketika sudah dimulai pertandingan, “diproklamirkan” ikut pilgub, semua bidak harus sudah siaga. Langkah pion pertama sebagai pembuka dapat menjadi penentu langkah-langkah strategis selanjutnya. Kepleset dilangkah awal, repot dikemudian hari.

Sedangkan sederetan bidak bagian belakang yang mengawal raja siaga sambil ancang-ancang untuk setiap saat menyerang, menusuk jatung pertahanan lawan, merobohkan musuh, sekaligus melindungi “sang raja”. Jangan sampai sang kandidat mati langkah atau malah “terbunuh” akibat salah langkah.

Kuda, luncur, dan banteng dalam posisi siaga satu. Bidak-bidak tersebut harus memasang mata dan telinga untuk membaca strategi lawan sekaligus berpikir bagaimana mematahkan langkah lawan. Perdana menteri setia mengawal raja yang dalam posisi tertentu dapat ikut mencabut pedang.

Ada banyak “amunisi” dalam pergulatan untuk memenangkan pertandingan, ada banyak kursi kekuasaan yang bisa dibagi-bagi nanti, dan banyak harapan mendapatkan proyek kelak. Apa pun alasannya, motivasi, pemilihan kepala daerah memang selalu mengiurkan ibarat pepatah ada gula ada semut. Semua ingin mengecap manisnya.

Ketiga kandidat memiliki keunggulan masing-masing. Mustafa terus membangun opini publik lewat berbagai kegiatan. Ketua Partai Dasdem Lampung ini bekerja siang dan malam melakukan konsolidasi dan menyamankan warganya lewat program ronda dan kesejahteraan warga. Dia asyik masyuk dengan citra pemimpin yang dicintai rakyat.

Herman HN yang dikagumi karena terobosan penataan kota, melejitnya PAD, dan kepeduliannya pada masyarakat terus berkarya lewat jembatan layang (fly-over) demi kenyamanan warga. Herman HN komit pada pelayanan publik. Pelajar tak mampu dibantu sekolah, kesehatan warga dijaga, dan banyak fasilitas masyarakat lainnya.

Ridho Ficardo semakin rajin hadir pada banyak kegiatan pemerintah maupun komunitas. Dia juga sangat mendukung pembangunan jalan tol, bandara, dan tol laut. Soal perbaikan jalan, meski masih ada yang rombeng, tetap jadi prioritas misinya. Bandara Raden Intan sudah cantik, tol laut sudah jalan. Ridho pasti disayang Presiden Jokowi karena ikut menyukseskan proyek prestesius rezim ini.

Bidak-bidak catur sudah mulai menggeliat, sudah berada dalam arena pertarungan. Bisa jadi, sang kandidat yang merestui bahkan langsung menggerakkan pion-pionnya. Tapi tak tertutup kemungkinan inisiatif para simpatisan, pendukung, atau tim suksesnya. Apa lagi penonton, mereka lebih awas mengamati pergerakan bidak lawan sambil terus berusaha membisikkan langkah-langkah memenangkan pertandingan.

Mediapun mau tak mau ikut mengamati konstelasi politik daerahnya. Ada dua sikap media, yakni media yang mendukung salah satu calon dan media yang tetap netral. Tampak sekali terlihat, ada media yang kritis sekali pada kandidat lain tapi tutup mata terhadap jagoannya. Media yang netral tentu saja tidak memihak ke siapapun. Apa pun peristiwa dimuat berimbang.

Entah sengaja atau cuma kebetulan, ada dua peristiwa, yakni soal adanya pengajuan anggaran Kota Bandar Lampung yang dicoret Pemprov Lampung. Dari 15 kota/kabupaten, hanya APBD Kota Bandar Lampung yang diajukan Herman HN yang sempat dinilai tidak realistis, terlalu tinggi, Rp779 M Padahal, menurut Sekda Provinsi Lampung Sutono realistisnya Rp484 M.

Di antara pengajuan anggaran yang nyaris terpangkas adalah “fly-over” depan Mall Bumi Kedaton (MBK) serta berbagai anggaran untuk hibah dan bantuan sosial. Siapapun tau, kedua jenis anggaran ini yang dapat mendulang simpati rakyat. Setelah sempat jadi polemik, APBD Kota Bandar Lampung pun lolos dan sesuai harapan Herman HN.

Ridho Ficardo sedikit “keserimpet” dengan adanya laporan tentang wanita yang bernama Sinta Melyati ke Komisi III DPR RI. Sudah tiga kali ketua Demokrat Lampung itu mangkir dari panggilan Komisi III DPR RI. Rabu (22/3/17), Komisi III membahas banyak hal. Ada kemungkinan salah satunya membahas soal mangkirnya Ridho Ficardo.

Elemen masyarakat beberapa kali menggelar aksi Sinta-Ridho ke Kantor Gubernur dan DPRD Lampung. Mereka minta kejelasan sekaligus upaya wakil rakyat membongkar adanya dugaan pelecehan. Minggu (19/3/18), Jaringan Kerakyatan menyambut rencana kedatangan SBY dengan belasan spanduk soal Sinta-Ridho.

Apakah aksi-aksi tersebut murni ingin membongkar masalah mangkirnya Ridho Ficardo dari pemanggilan Komisi III DPR RI? Wallohualam. Yang pasti, Ridho Ficardo mengaku sudah mengetahui tokoh intelektual atas mencuatnya pemberitaan tentang dirinya. Demo akan terus berlangsung entah sampai kapan. JKL merencanakan aksi ke Komisi III DPR RI dan DPP Demokrat bulan ini.

Permainan catur baru dimulai. Belum semua bidak dan langkah dikeluarkan untuk mengalahkan lawan dan memenangkan pertandingan Pilkada 2018. Ke depan, sangat mungkin, bakal semakin seru. Mustofa bisa menjadi “kuda hitam”. Belum lagi kemungkknan bakal muncul calon-calon lain yang lebih seksi di mata masyarakat.

Kita akan terus disajikan manuver-manuver, check sound, jajak sana jajak sini dan mungkin jejek sana jejek sini.

Coba kita perhatikan kerlingan mata Purwanti Lie, ke mana kira-kira arah matanya. Pilgub 2014, bos Sugar Grup Company ini rajin menghadiri kampanye Ridho Ficardo. Entah di Pilgub 2018 nanti. Kita terus ikuti episode yang saat ini baru langkah pertama pion.

*jurnalis