Bila Pasien Terpedaya oleh Perlakuan Medik

  • Bagikan
Dokter Handrawan Nadesul
Dokter Handrawan Nadesul

Handrawan Nadesul

Ada gap kompetensi antara pasien dengan dokter. Apabila tak terjalin komunikasi pasien-dokter, jangankan hal yang serong, yang lurus pun belum tentu pasien selalu pahami ihwal apa yang dokter lakukan, kerjakan, dan resepkan. Bagi pasien yang punya riwayat buruk terhadap layanan medik, selalu ada syak-wasangka, betapa lurus pun yang dokter lakukan.

Profesi dokter punya kekuasaan nyaris tak terbatas. Apapun kata, perintah, dan dokter putuskan terhadap pasien, pasien patuh dan menaatinya.

Profesi dokter rentan disalahgunakan, kalau dokter punya kepentingan. Misal kalau mau melaba dari praktiknya. Meresepkan obat yang tidak pasien perlukan karena kepentingan, melakukan operasi yang tidak ada indikasi, minta pemeriksaan macam-macam yang tak ada kaitan dengan penyakit pasien. Itu semua tanpa pasien mengetahuinya, kecuali apabila pasien mendapat pendapat kedua (second opinion), atau punya kerabat dokter.

Itu maka begitu lulus, dokter perlu disumpah, janji kepada Sang Khalik, untuk meluhurkan dan memuliakan profesinya. Sepenuhnya demi kemanusiaan. Memperlakukan pasien secara manusiawi, teman sejawat seperti saudara kandung. Profesi dokter punya pagar etika, pagar hukum, yang dasarnya humanitas.

Tidak ringan mengemban profesi dokter. Sekolahnya tidak enteng, waktu dan bahan yang harus dipelajarinya kelewat banyak, setelah lulus dokter sikap profesionalisme sebagai dokter harus dijaga dan dijunjung tinggi.

Berbeda dengan montir mobil yang memperbaiki mesin mobil yang tidak bernyawa, melayani manusia bukan cuma soal mesin tubuh, melainkan juga ada jiwa selain roh. Tak cukup menangani tubuh pasien, perlu mempertimbangan jiwa dan roh juga. Pasien punya latar belakang, punya riwayat, punya hal lain yang lebih pribadi, sehingga tidak boleh diperlakukan seenak menghadapi seperti mesin mobil.

Dokter juga manusia. Seketat apapun sekolah dokter menyeleksi hanya yang punya kepribadian sehat, jujur, tidak kriminal, tetap saja ada dokter yang melanggar pagar etika, hukum, dan profesi. Sumpah dokter, Sumpah Hippocrates tinggal sumpah. Dokter yang melanggar di setiap bangsa, di setiap negara, selalu saja ada.

Dokter yang tidak etis selalu ada saja pasien temui. Dokter judes, ketus, tidak menjawab yang pasien tanya, selalu ada saja. Ini sikap misconduct profesi dokter yang sebetulnya termasuk tidak elok juga. Dokter yang malapraktik, yang praktiknya menyimpang dari ketentuan medis, yang bila kedapatan hanya bisa dibuktikan oleh Komite Etik profesi, kalau secara profesi yang dilakukannya itu terbukti salah. Misal, semua pasien didiagnosis usus buntu, semua pasien didiagnosis TBC, semua pasien diperiksa dengan alat medis walau tidak ada inidkasi, atau sedang mati listrik tapi diperiksa USG, misalnya. Semua pasien disuntik vitamin atau diresepkan obat harga tinggi puluhan juta tanpa jelas indikasinya. Masuk RS, semua diperiksa, padahal tidak ada kaitan dengan keluhan dan diagnosis pasien. Setiap visit dokter kunjungan pasien ke kamar RS tetap ditarik honorarium padahal pasien disentuh pun tidak. Dan banyak lagi.

Maaf, sebagai sesama profesi dokter tidak elok mengungkap ini semua. Tapi buat saya ini fakta keseharian pasien supaya masyarakat tahu. Hanya kalangan medik yang bisa mengetahui dan membuktikan kalau apa yang sudah seorang dokter lakukan itu bukan hal yang benar di mata medik. Bukan sikap medik yang profesional.

Ketika layanan medik sudah sebagai industri (industrial medical complex), semakin banyak kejadian tidak elok tidak profesional pasien hadapi dan temukan dalam layanan RS. Sejatinya layanan medik itu bersifat humanitis, kemanusiaan, mendahulukan kepentingan kemanusiaan. Tidak pantas menarik uang muka ketika sudah harus segera menolong kedaruratan medik pasien tanpa melihat kocek pasien. Tidak ada diskriminasi terhadap pasien.

Tapi dalam industri medik, selalu ada perhitungan untung-rugi dan melaba. Ada perhitungan titik-impas. Berapa yang sudah diinvestasi untuk membeli peralatan medik RS. Penghasilan harian dihitung RS agar supaya bisa mencicil membayar peralatan yang diinvestasi RS supaya tercapai titik-impas. Itu maka selalu ada silang pendapat antara direktus medik RS dengan direktur keuangan. Dalam industri medik, ujungnya memanfaatkan semua peralatan yang sudah diinvestasi supaya hariannya menghasilkan laba untuk mencicil. Pasien diperiksa semua dengan alat, walau tidak diperlukan hanya demi mengejar tiik-impas mencicil investasi peralatan medik.

Dokter sendiri ada juga yang tergoda, atau direcoki oleh pertimbangan untung rugi RS, dan sikap kemanusiaannya menjadi luntur karena pikiran bisnis. Itu maka ada saja dokter RS sehebat sepintar apapun, yang menjadi tidak profesional di mata sejawatnya dalam memperlakukan pasien. Pasien masuk RS untuk check up, pulangnya malah jadi sakit, misalnya.

Sering ada yang tanya kenapa sekarang dokter kandungan minta kepada semua ibu hamil yang diperiksanya untuk dilakukan sectio caecarea? Kenapa ada dokter menahan pasien lebih lama di RS? Kenapa meresepkan obat yang lebih tinggi harganya padahal ada yang harga lebih rendah? Kenapa harus dipasang stent jantung padahal belum perlu. Hanya apabila pasien minta pendapat kedua, pasien mungkin bisa tahu kalau sebetulnya masih ada pilihan lain. Dan semua yang tidak etis tidak profesional itu, hanya bisa dibuktikan kalau itu tidak profesional bila dinilai oleh sejawat.
Itu maka perlunya praktik bersama dalam setiap menangani pasien RS. Ada tilik-sejawat (peer-review) untuk saling mengingatkan di antara dokter yang menangani kasus yang sama. Dokter saling menahan diri untuk tidak berbuat yang menyimpang terhadap pasien yang dirawatnya, dalam profesi mediknya.

Kasus seorang ibu tua masuk RS sebab gula darah tinggi, masuk RS dalam kondisi sehat, hanya lemas akibat gula darah tinggi. Penanganan profesional RS tentu fokus hanya untuk menurunkan gula darah, dan setelah gula darah turun, dan tidak ditemukan komplikasi lain akibat gula darah tinggi, sikap mediknya pasien sudah boleh pulang. Namun yang terjadi, tanpa ada keluhan pasien apa-apa, pasien dalam kondisi segar bugar, diminta membeli obat Rp 46 juta sekali, dan perlu 3 kali, tanpa jelas untuk apa, padahal gula darah pasien sudah terkendali. Anehnya, kalau memang obatnya yang Rp 46 juta itu perlu, mestinya tidak boleh ada nego. Namun nyatanya masih boleh nego, boleh memilih obat yang Rp 7 juta, juga tidak jelas obat untuk apa, padahal pasien sudah segar bugar, dan gula darahnya sudah terkendali. Pihak pasien bertanya kenapa belum boleh pulang, juga tidak ada jawaban yang masuk nalar medik.

Saya merasa terganggu kalau ada kasus medik yang serong-serong begitu. Saya prihatian, dan heran kok ada sejawat yang tega berbuat begitu. Kasihan pasien, kasihan masyarakat yang tahu kalau dirinya terjebak dalam komersialiasi pihak medik.

Ini tegolong kasus iatrogenic medic. Banyak kasus malapraktik, kasus profesi dokter yang tidak etis, yang misconduct, yang merugikan pihak pasien, yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat pasien, masyarakat luas.

Sebagaimana tujuan peer-review, tilik-sejawat, saya biasa menganjurkan kepada teman kerabat sahabat, agar pihak RS tahu kalau pasien masih kerabat dokter, hanya untuk maksud supaya sejawat dokter yang merawat masih mempertimbangkan tidak berbuat yang tidak atau kurang profesional dalam melayani pasien. Hanya bila ada teman sejawat yang bisa ikut menilai apa yang dilakukan dan dikerjakan olh pihak RS, benar di mata medik.

Melakoni profesi dokter yang benar, sikap yang meluhurkan dan memuliakan profesi yang disandangnya. Sikap sumbang dokter sendiri juga kalau sampai membuat masyarakat tidak menaruh respek lagi terhadapnya.***

* Handrawan Nadesul adalah dokter cum sastrawan

  • Bagikan