Bilik Sastra Award 2014 – VoI RRI, Momentum Kebangkitan Sastra Migran Indonesia

  • Bagikan
Rapat Dewan Juri Bilik Sastra Award 2014. (Ist)
JAKARTA, Teraslampung.com–Memasuki tahun ke-empat, Voice of Indonesia (Siaran  Luar Negeri Radio Republik Indonesia) menggelar “Bilik Sastra Award 2014”. Ajang ini merupakan apresiasi terhadap kreativitas dan kemampuan menulis sastra dalam bentuk cerpen, hasil goretan pena WNI yang bermukim dan bekerja di luar negeri. 
Dari ratusan cerpen yang masuk, seleksi awal memilih 44 cerpen yang layak mendapat penilaian dari Dewan Juri Bilik Sastra Award 2014 – VoI RRI, yang terdiri dari: Pipiet Senja (novelis dan  pegiat sastra migran), Syarifudin Yunus (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNJ & Unindra), dan Irwan Kelana (novelis dan redaktur senior Republika).
Di samping memutuskan Pemenang Bilik Sastra Award 2014, Dewan Juri bersepakat dalam sidang pleno untuk menjadikan ajang ini sebagai momentum kebangkitan sastra migran di Indonesia. Mengapa kebangkitan sastra migran di Indonesia?
Dalam diskusinya, ketiga Dewan juri setidaknya mencatat fenomena yang unik dan menarik dari karya-karya cerpen yang ada dalam berkontribusi terhadap dinamika sastra Indonesia. Diantaranya: 1) animo penulis cerpen di luar negeri yang sangat besar, mencapai ratusan karya walau akhirnya dipilih 44 cerpen yang dinilai, 2) persebaran peserta yang memenuhi kategori 5 benua (Amerika, Afrika, Asia, Australia, Eropa), yang berasal dari WNI yang bermukim di Hongkong, Taiwan, Macau, Malaysia, Singapura, Australia, Inggris, USA, Kanada, Arab Saudi, Yaman, Mesir dan Turki, dan 3) ide cerita yang bercirikan “sastra migran” sebagai ekspresi suara hati WNI yang bermukim dan bekerja di luar negeri dalam menyatukan nafas “keindonesiaan” dengan “keluarnegerian”, memadukan latar dan alur cerita dalam kultur sosial yang berbeda namun mampu memberi inspirasi kepada pembacanya.
“Kita patut apresiasi VoI RRI yang menyelenggarakan Bilik Sastra Award 2014. Karya-karya cerpen ini menjadi sinyal bangkitnya sastra migran di Indonesia. Sastra Migran bisa jadi alternatif pembelajaran sastra yang lebih kompleks dan mencerahkan” ujar Syarifudin Yunus di sela Pleno Penjurian Bilik Sastra Award 2014 di Kantor RRI.
“Kami bertekad untuk terus mengembangkan ajang Bilik Sastra Award – VoI RRI ke depan. Ajang ini membuktikan sastra tidak mengenal batas ras, bangsa, ataupun negara. Sastra Migran menegaskan sifat universlitas sastra” sambut Edy Sukmana, Kepala Siaran Luar Negeri RRI saat berbincang dengan ketiga Dewan Juri Bilik Sastra Award 2014 di ruang kerjanya.
Pemenang Bilik Sastra Award 2014
Dalam sidang pleno Dewan Juri Bilik Sastra Award 2014 – VoI RRI, yang terdiri dari Pipiet Senja, Syarifudin Yunus, dan Irwan Kelana menetapkan 5 Nominator Cerpen secara berurutan dengan skor tertinggi, yaitu:
1.   Puteri Rahayu Rezeki (Mahasiswa Al Azhar-Kairo, Mesir), dengan  Cerpen “Menjemput Cahaya”
2.   Dwitra Zaky (Penggiat seni, USA), dengan Cerpen “Belajar dari Ambika Shangmu
3.   Kuan Ami (BMI Taiwan), dengan Cerpen “Riany”
4.   Sarah Hafidz (BMI Taiwan), dengan Cerpen “Malaikat Kecil di Gerbang Firdaus”
5.   Andi Fikri Al-Fatih (Mahasiswa Turki), dengan Cerpen “Nyanyian Dari Dua Benua”

Nantinya, Pememang 1 dan 2akan diundang ke Jakarta untuk menerima Anugerah Bilik Sastra Award 2014 – VoI RRI pada awal November 2014.
Bilik Sastra Award 2014
Bilik Sastra adalah sebuah program VoI RRI yang mengedepankan sastra migran, membincang karya berupa cerpen, kisah inspirasi dari WNI yang bermukim di luar negeri. Digagas oleh Kabul Budiono dan Pipiet Senja di penghujung tahun 2010, diluncurkan secara resmi untuk pertama kalinya siaran langsung di gedung Pusat Dokumentasi HB Jassin Taman Ismail Marzuki, Januari 2011.
Bilik Sastra mengudara tiap hari Minggu pukul 13.05 – 14.00, disiarkan langsung dari studio RRI Siaran Luar Negeri Voice of Indonesia.  Karya-karya yang masuk berupa cerpen dan kisah inspirasi, dibacakan penyiar kemudian dibincang atau dikritisi oleh Pipiet Senja. Di acara ini, penulisnya akan dihubungi dan diwawancarai seputar kreativitas kepenulisannya.

“Seringkali saat wawancara langsung tersebut terjadi hal-hal yang di luar dugaan dan mengharukan. Misalnya, cerpenis yang merupakan BMI (Buruh Migran Indonesia) di Taiwan atau Hongkong harus bersembunyi di kamar mandi sambil menjawab telepon dari VoI RRI, karena takut dimarahi majikannya,” ungkap Pipiet Senja, pegiat Sastra Migran.
Setiap tahunnya, karya-karya para pemenang dan finalis Bilik Sastra Award selalu  dibukukan dan diterbitkan oleh VoI RRI.
Bilik Sastra Award 2014 – VoI RRI, sungguh telah mampu menjadi bagian penting dari dinamika sastra di Indonesia. Inilah momentum kebangkitan Sastra Migran di Indonesia. Teruslah menulis WNI yang bermukin dan bekerja di lura negeri. Kisah Anda telah menjadi inspirasi kami di Indonesia.
  • Bagikan