Beranda News Kesehatan Bisakah Penyakit Leukimia Seperti yang Diidap Ibu Ani SBY Dicegah?

Bisakah Penyakit Leukimia Seperti yang Diidap Ibu Ani SBY Dicegah?

474
BERBAGI
Ani Yudhoyono saat dikunjungi cucunya. Instagram/@ruby_26

TERASLAMPUNG.COM — Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia Sabtu siang, 1 Juni 2019, di Singapura. Mantan Ibu Negara itu wafat setelah beberapa bulan dirawat di Singapura karena mengidap penyakit kanker darah atau leukimia.

Banyak yang bertanya:  apakah leukemia masih mungkin kita cegah?

Belum seluruhnya jelas bagaimana leukemia bisa menimpa seseorang. Faktor genetik selain faktor lingkungan masih dituding menjadi penyebabnya. Mengelak dari faktor genetik sukar kita lakukan, namun menjauhi faktor lingkungan masih mungkin kita upayakan.

Leukemia ada beberapa jenis. Leukemia yang lebih sering pada anak selain yang lebih sering pada orang dewasa. Pada kedua kelompok umur leukemia bisa bersifat dadakan (acute) bisa juga menahun (chronic).

Leukemia itu kanker darah. Kita tahu sel dalam darah ada darah merah, darah putih, dan sel pembeku darah. Ketiga jenis sel darah ini bisa sama-sama berubah menjadi sel kanker. Kanker sel darah putih biasanya berasal dari sel darah putih jenis lymphocyt, sel darah putih yang membentuk kekebalan tubuh. Bila sel jenis ini berubah menjadi sel kanker maka selain fungsinya abnormal, jumlahnya berlebihan. Karena berlebihan, sel ini mendesak sel darah lain, yang bisa terpengaruh buruk olehnya. Jenis satunya bila mengenai jenis sel darah myelogenous, yakni selain sel darah putih, juga mengenai sel darah merah, serta sel pembeku darah juga.Baik jenis leukemia yang lymphocytic maupun yang myeologenous sama-sama bisa dadakan kalau bukan menahun.

Leukemia dadakan atau acute biasanya berisikan sel-sel darah muda, yang belum siap melakukan fungsinya, dan berkembang biak amat cepat, maka gejala leukemianya lebih nyata muncul dibanding leukemia yang menahun, yang berisikan sel darah yang sudah matang, namun lebih lamban pertumbuhannya, sehingga gejalanya tidak langsung nyata, dan kalaupun terdiagnosis lebih sering karena kebetulan belaka.

Gejala umum leukemia, umumnya sering demam, lekas letih, sering terinfeksi, berat badan terus menurun, kelenjar getah bening membengkak selain limpa, ada gejala perdarahan, sering mimisan, memar, dan banyak berkeringat malam hari, selain ada nyeri tulang. Semua ini tidak spesifik leukemia karena penyakit lain juga bisa bergejala dan keluhan seperti itu. Baru kedapatan ini leukemia, bila dokter mencurigainya, lalu melakukan pemeriksaan darah.

Dari hasil pemeriksaan darah tepi akan terbaca ada sel darah yang abnormal, dan lebih dipastikan lagi untuk mengetahui jenis leukemianya dilakukan pemeeiksaan sumsum tulang, biasanya diambil dari sumsum tulang paha.

Adapun terapinya diawali dengan chemotherapy, biological therapy untuk meningkatkan kekebalan (immune system), targeted therapy dengan obat yang ditargetkan membunuh sel kankernya, selain radiotherapy, dan bila belum berhasil dilakukan stem cell tranplantation, cangkok stem cell yang caranya serupa dengan cangkok sumsum tulang.

Oleh karena faktor genetik tidak bisa dielakkan, dan hanya perlu waspada dengan melakoni hidup sehat, batasi konsumsi daging, cukup bergerak badan, hindari faktor lingkungan yang dituduh sebagai penyebabnya: yakni menghindari asap mobil dan industri yang mengandung bahan kimiawi benzene, bahan dalam cat, plastik, atau pestisida, selain asap rokok, serta radiasi. Kasus leukemia banyak ditemukan pada pasien yang pernah dilakukan radiotherapy sebelumnya.

Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker apa pun, perlu lebih waspada. Upayakan hidup lebih sehat. Selain menghindar dari faktor lingkungan sebagaimana sudah disebutkan di atas, perlu kebugaran. Untuk itu perlu berat badan ideal, gerak badan memadai, dan batasi konsumsi daging merah, serta semua zat tambahan dalam makanan (food additive), penyedap, pengawet, pewarna,, pemanis, serta semua daging olahan.

Semoga mencerahkan.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL