Beranda Ekbis Bisnis Bisnis Batu Akik: Dari Mana pun Berasal, Pusat Jual-Belinya di Pasar Tengah

Bisnis Batu Akik: Dari Mana pun Berasal, Pusat Jual-Belinya di Pasar Tengah

680
BERBAGI
Bisnis batu akik di Pasar Tengah Bandarlampung: Tawar-menawar batu akik sambil mengikir cincin. (Foto: Teraslampung.com)

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Batu akik yang beredar di Lampung tidak hanya berasal dari Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Pasokan batu akik datang dari Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua. Batu akik jenis sungai dareh, misalnya, dipastikan berasal dari Sumatera Barat. Batu bungur atau kecubung tetap menjadi ‘trade mark’ Tanjung Bintang. Dominasi peredarannya sangat bergantung pada trend atau yang sedang ramai di pasaran.

Dari mana pun batu akik itu datang, di Lampung pusat jual-belinya berada di Pasar Tengah. Yang dimaksud dengan Pasar Tengah oleh para pembeli dan penjual batu akik di Lampung bukanlah pasar yang dipenuhi kios penjual batu permata atau batu akik seperti di Martapura, Kalimantan Selatan. Pasar Tengah di benak para pebisnis dan penggemar batu akik adalah emperen toko yang berjajar di Pasar Tengah. Yakni, sebuah kawasan pertokoan yang diapit Jl. Kartini dan Jalan Radin Intan di Kota Bandarlampung.

Kios batu akik di Pasar Tengah: hanya memanfaatkan emperen toko.

Meski hanya berada di emperen toko, para penjual batu akik sudah merasa nyaman. Kalau ditawari untuk pindah ke tempat lain yang lebih layak dan tersentral (pasar khusus atau sentra batu akik), mereka lebih memilih tetap berjualan di emperan toko Pasar Tengah, Bandarlampung.

Baca: Banyak PNS di Lampung Tergila-gila Batu Akik

“Saya sudah puluhan tahun jualan di sini. Para pembeli sudah sangat akrab dengan tempat ini. Kalau kami pindah ke tempat lain, kami dan para pembeli akan repot,” kata Ahmad, seorang penjual batu akik di Pasar Tengah.

Ahmad mengaku, yang berjualan batu akik di Pasar Tengah banyak yang memiliki ikatan keluarga. Ada keluarga yang terdiri atas bapak, anak, cucu, dan menantu  sama-sama jualan batu di lokasi yang sama. Hubungan antara penjual batu juga sangat akrab, layaknya saudara. Hal itu, kata Ahmad, sangat jarang ditemukan di tempat lain.

“Kalau ada kawan yang dagangannya sepi pembeli, kawan-kawan lain dengan sukarela akan memberinya uang hanya sekadar untuk membeli rokok atau diserahkan kepada istri di rumah,” kata Ahmad.

Syailendra Arif/Mas Alina Arifin

Loading...