BKSDA Lampung Sita Dua Karung Sisik Trenggiing dan Ratusan Kulit Ular Sanca

  • Bagikan
Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

Kepala BKSDA Lampung Subakir (kanan) menunjukkan barang bukti kulit ular sanca . 
BANDARLAMPUNG– Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi  Lampung  dan Balai Karantina Bakauheni mengamankan  dua karung kulit sisik  trengiling, 504 lembar kulit  ular sanca,  delapan  ekor burung elang, dan seekor monyet ekor panjang di Bakauheni , Minggu
(2/ 11).
Kepala
BKSDA Lampung  Syubakir  mengatakan  barang bukti berupa kulit ular sanca, sisik
trenggiling,  burung elang, dan monyet  ekor panjang tersebut merupakan hasil
penangkapan terhadap para pelaku di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.
Dari
ratusan kulit ular tersebut ada tiga jenis yaitu ular  sanca kembang, sanca batik, dan sanca  darah. Selain itu burung elang ada delapan
masih anakan terlihat dari  bulunya yang  baru tumbuh, 
monyet ekor panjang yang juga masih anakan.
“Tangkapan
ini dari pelabuhan  Bakauheni hasil
kerjasama anatara BKSDA  dengan Balai Karantina
Bakauheni pada Minggu lalu (2/11),” kata Subakir, dalam ekspose di Kantor BKSDA
Lampung di Bandarlampung, Rabu (5/11).
Menurut
Subakir, modus penyelundupan kulit ular  adalah
dengan memalsukan dokumen pengiriman barang. Dalam  dokumen pengiriman barang disebutkan bahwa kulit
ular dari  Riau. Padahal, sebenarnya dari
Medan.
“Kasus
penyelundupan sisik trenggiling masih terus kami selidiki. Trenggiling
merupakan satwa dilindungi. Makanya, kami sangat serius melakukan penyelidikan.
Kami sedang bekerja sama dengan BKSDA  Sumatera Utara untuk  mengecek alamat pengirimnya. Tersangkanya
masih belum diketahui keberadaannya. Kami sedang berusaha menangkapnya,” kata
Subakir.
Barang
bukti kulit ular tangkapan tersebut, kata Subakir,  bisa  dilelang
sesuai dengan  Peraturan Pemenerintah Nomor
12/2014 , tetapi  kulit trenggiling tidak
bisa dilelang  dan harus  dimusnahkan.
Menurut
Subakir, penyelundup kulit ular tidak bisa ditahan karena  punya izin sebagai pengumpul barang.  Namun, kulit ular tersebut disita karena tidak
dilengkapi  surat  angkut 
tumbuh-tumbuhan dan liar 
(SDA)  dari Riau.

“Kulit ular ini  dapat  dibuat dompet, tas dan aksesoris lainnya.
Kami akan telusuri alamat pengirimnya 
Naila mimi Sumatera Utara dikirim ke Pondok Pesantren Al Munawaroh di  Probolinggo, Jawa Timur,” kata dia.

Soal
pengawasan di lapangan, Suubakir mengakui  pihaknya masih kekurangan personel. Dari 20
personel. (oshn)

  • Bagikan