Beranda Kolom Kopi Pagi Blusukan Herman HN

Blusukan Herman HN

209
BERBAGI
Oyos Saroso H.N.

Istilah turba atau turun ke bawah yang biasa dipakai sebagai penggambaran pejabat yang turun ke kampung atau di tengah-tengah masyarakat sudah lama terdengar. Turba sudah dikenal sejak era Orde Baru. Namun, istilah itu popularitasnya kemudian digantikan dengan istilah blusukan. Maknanya sebenarnya sama.

Kata ‘blusukan’ yang berasal dari bahasa Jawa itu sebenarnya terjadi superlatif makna dan kesan. “Mblusuk” dalam bahasa Jawa berarti menyuruk ke tempat kotor. Misalnya adalah ‘blusuakan’ ke kampung kumuh  atau ‘memblusuk’  ke lumpur.

Kata itu kemudian populer beberapa tahun sebelum Joko Widodo(Jokowi) mencalonkan diri jadi Gubernur DKI Jakarta, kemudian dilanjutkan saat menjelang Jokowi ‘nyapres’. Sekarang, kalau Presiden Jokowi turba ke daerah, meskipun dia tidak berkubang ke tempat kotor berlumpur, tetap saja media massa menyebutnya ‘Jokowi blusukan’.

Berbicara soal blusukan, Jokowi memang lebih beruntung. Sebab, entah kenapa, blusukannya Jokowi sebelum jadi Presiden RI  jadi magnet bagi wartawaan. Begitu juga dengan blusukannya Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Sebaliknya, blusukannya Walikota Herman HN yang juga dilakukan saat dia menjadi pejabat (Walikota) nyaris kurang jadi perhatian media. Akhir-akhir ini saja media getol memberitakan — setidakanya lewat berita foto– Herman HN blusukan ke beberapa tempat. Padahal, hal itu sebenarnya sudah lama dilakukan Herman HN.

Kalau diperhatikan dengan seksama, blusukannya Herman HN sebenarnya lebih orisinal. Ia akan tampak lebih alami sebagai pejabat yang blusukan ketika tidak ada sorot kamera tv dan intipan lensa fotografer. Bahasa tubuhnya ketika blusukan pun alami, tidak artifisial alias dibuat-buat.

Salah satu blusukan yang alami adalah ketika Herman HN turun ke sebuah kelurahan untuk mengecek banjir, setahun lalu. Memang ketika itu Herman HN tidak memegang cangkul untuk mengeruk lumpur yang memenuhi got yang mampat. Namun, cara dia memberi arahan dan gaya komunikasi dengan rakyat kecil sangat alamiah. Tak ada jarak komunikasi layaknya seorang pejabat berbicara dengan rakyat jelata.

Contoh blusukan Herman HN yang luput dari liputan media adalah ketika terjadi kebakaran beberapa toko di Pasar Tengah, Bandarlampung, pada Senin malam, 30 Maret 2015.

(Baca: Kebakaran di Pasar Tengah, Api Merembet ke Beberapa Toko Lain).

Ketika para petugas kebakaran sibuk memadamkan api, Herman HN langsung jadi komandan pemadaman. Ia juga yang mengimbau para warga jauh dari lokasi kebakaran.

Pada Senin malam itu, Herman HN menjadi komando pemadaman kebakaran di Pasar Tengah hingga dini hari. Sampai para anak buahnya pulang lebih dulu karena tidak tahan menahan kantuk. Dan hebatnya, tidak ada liputan media massa (temasuk Teraslampung.com) tentang Herman HN jadi komandan pemadaman kebaran hingga pagi hari.

Yang muncul di media hanyalah peristiwa kebakaran dan upaya pemadaman yang dilakukan petugas pemadam kebakaran, Tentang Herman HN yang ‘nongkrongin’ para petugas pedaman kebakaran sampai pagi tidak muncul di media. Namun, hal itu sebenarnya manusiawi, bukankah di atas pukul 02.00 WIB mata manusia sudah mengantuk? Apalagi wartawan dan fotografer media cetak, pada pukul 23.30 mereka pasti harus segera membuat  laporan kepada redakturnya agar berita bisa diterbitkan untuk edisi esok harinya.

“Ketika Pasar Mangga Dua di Telukbetung terbakar saya juga turun langsung. Tapi ya…. enggak ada beritanya,” kata Herman HN kepada saya, di sebuah penggal sore, beberapa bulan lalu.

(Baca: Pusat Grosir Mangga Dua Bandarlampung Terbakar).

Herman mengaku tidak terlalu ambil pusing apakah media akan memberitakan aktivitas dirinya turun langsung di tengah-tengah masyarakat atau tidak. Yang penting, katanya, ia tidak mau ada warga Bandarlampung lebih susah lagi gara-gara terkena musibah kebakaran. Itulah sebabnya, barangkali, yang membuat Herman HN terlihat trengginas ketika mendengar ada rumah warga atau ruko yang terbakar. Ia rajin menyambangi korban kebakaran.

Pada awal-awal Herman kembali menduduki jabatan sebagai Walikota Bandarlampung ia sudah mulai terlibat blusukan lagi. Pada Jumat (19/2/2016) Herman HN terlihat meninjau sejumlah ruas jalan rusak. Sedangkan pada Sabtu (20/2/2016) ia ngomandani pengerjakan perbaikan jalan dan pembongkaran taman.

Tentu saja blusukan semacam itu bagus, sepanjang tidak artifisial dan terkesan dipatut-patut agar lebih menarik jika difoto. Biarlah ia tetap Herman HN dan menjadi Herman HN yang apa adanya.

Yang tidak bagus adalah pemimpin yang maunya ‘ongkang-ongkang’ (duduk enak-enakan di kursi empuk di ruang kantor ber-AC) saja dan sibuk berbagi proyek ini-itu. Yang bikin empet adalah pemimpin yang antara praktik membangun daerahnya tidak sesuai dengan kebaikan-kebaikan yang diuarkan tiap hari di media massa.

Loading...