Beranda News Budaya Boerhanuddin Soebely, Penyair Pembela Suku Dayak Meratus

Boerhanuddin Soebely, Penyair Pembela Suku Dayak Meratus

155
BERBAGI
Burhanuddin Soebely. (dok Akhmad Husaini)

TERASLAMPUNG.COM — Pertengahan September 2005. Seorang pria mengenakan kaus hitam lengan panjang, memakai rompi warna biru, dan bertopi hitam, tampak duduk di barisan penyair di ruang teater tertutup Taman Ismail Marzuki (TIM),Jakarta. Penampilan pria itu tampak sangat bersahaja. Raut mukanya tegas. Uban telah memenuhi rambut dan kumisnya. Malam itu, dia termasuk dalam daftar 12 penyair dari Pulau Kalimantan yang diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan puisi dalam forum Cakrawaa Sastra Indonesia ke-2.

Meski di luar panggung tampak bersahaja, tetapi begitu naik ke panggung ruang Teater Baru Taman Ismail Marzuki, ratusan penonton terkesima oleh penampilannya. Suasana sontak hening ketika penyair bersahaja itu melantunkan empat mantera balian suku Dayak Meratus dalam puisi-puisi yang dibacakannya.

Seusai  Boerhanuddin Soebely, nama penyair itu, membacakan puisi berjudul “Megatruh” dan “Senja Kuning”, suara tepuk tangan penonton memenuhi seisi ruangan. Soebely membacakan dengan sangat memukau. Puisi tersebut yang bercerita tentang prosesi pemakaman seorang kepala adat suku Dayak Meratus itu seolah menggambarkan kematian komunitas Dayak Meratus karena desakan modernisasi.

“iii….laaahhh/panjampaian janji panutusan hajat/maut dunia maut karama/sambut ka Nining Raja Kuasa,” Soebely membacakan mantera sambil mengerang pilu.

Soebely mengakhiri pembacaaan puisi berjudul Megatruh itu dengan larik-larik seperti ini: “Ke gunung putih ke gunung putih wadah tujuan/ke gunung sandaran hari sandaran bulan/ke negeri tak ada siang tak ada malam/ke negeri berpasir intan berumput manikam.”

Puisi-puisi yang dibacakan Soebely malam itu memang terasa merancap nyaring, menyuarakan kepedihan suku Dayak Meratus yang digerus oleh laju modernisasi. Di tangan Soebely, kepedihan itu menjadi lebih mencekam sekaligus mengandung nuansa keindahan yang berbalut magis.

Hal itu tampak sekali dalam larik-larik puisi berjudul “Senja Kuning” berikut ini: senja mengemasi segala//Pertanda apalagi yang tersimpan pada bungkus sunyi?/Seekor halang sapah (elang berbulu merah) menyambar-nyambar kariwaya (pohon besar sejenis beringin)/Dan kulikan panjang mendaraskan ratap kelindan jarum air mata…

Soebely, yang berdarah Melayu Banjar, selama ini memang dikenal sebagai sastrawan yang sangat akrab dengan suku Dayak Meratus, yaitu suku Dayak yang mendiami kawasan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Di akhir pekan atau kapan pun dia mau, Soebely akan mendatangi warga Dayak Meratus. Tak segan-segan Soebely tidur hanya beralaskan tikar di rumah warga Dayak Meratus dan makan bersama anggota keluarga suku Dayak Meratus lainnya.

Lantaran kedekatannya dengan warga Dayak Meratus dan karya-karya banyak menyuarakan kegundahan dan nyanyian batin suku Dayak Meratus, para rekannya sesama sastrawan di Pulau Kalimantan menyebut Soebely sebagai penyair dan dramawan yang menjadi juru bicara suku Dayak Meratus.

“Pak Soebely bisa dikatakan sebagai juru bicara suku Dayak Meratus karena karya-karyanya selama ini banyak mengungkapkan persoalan masyarakat Dayak Meratus. Itu karena Pak Soebely memang bergaul akrab dengan banyak warga Suku Dayak Meratus sehingga puisi dan naskah-naskah dramanya sangat kuat unsur Dayak Meratusnya,” kata Jamal T. Suryanata, penyair Kalimantan yang juga guru SD di pedalaman Kalimantan.

Jamal mengatakan jarang penyair dan dramawan yang hidup bersama suku terasing dan menulis tentang suku terasing itu. “Pak Soebely menurut saya termasuk penyair yang langka,” kata Jamal.

Soebely mengaku dia tak punya pretensi apa pun untuk membela suku Dayak Meratus selain semata-mata lantaran unsur kemanusian dan perkawanan. Menurut Soebely, suku Dayak Meratus layak dibela karena selama ini kurang mendapatkan akses pembangunan dan banyak dikorbankan. Padahal, kata Soebely, warga suku Dayak Meratus memiliki kearifan lokal yang pantas untuk menjadi contoh.

Pria kelahiran 2 Januari 1957 itu  mencontohkan soal sistem ladang berpindah yang diterapkan suku Dayak Meratus. Menurut Soebely, sistem perladangan berpindah merupakan salah satu kearifan suku Dayak Meratus. “Namun, karena alasan merusak lingkungan, suku Dayak Meratus beberapa tahun lalu mau dikeluarkan dari kawasan hutan lindung dan ditukar guling oleh sebuah perusahaan penambangan emas,” kata Soebely.

Suku Dayak Meratus yang melakukan perladangan berpindah memang membakar bekas kayu yang ditebang untuk membuka lahan. Namun, kata Soebely, para peladang mempunyai teknik tersendiri untuk menghindari kebakaran. Yaitu dengan membuat sekat api selebar empat sampai lima meter sehingga api tidak akan lari dan bekas pembakaran bisa menyuburkan tanah.

“Sampai sekarang masyarakat Dayak Meratus yang tinggal di daerah perbukitan tidak pernah memakai pupuk dan pestisida. Masyarakat adat memiliki kearifan tradisional yang berbeda dengan sistem pertanian modern untuk mempertahankan agar struktur tanah tidak rusak,” ujar Soebely

Suku Dayak Meratus selama ini mendiami kaki Pegunungan Meratus. Bagi suku Dayak Meratus, Pegunungan Meratus tak hanya sebagai hutan lindung yang indah. Pegunungan Meratus bagi suku Dayak Meratus juga sudah menjadi napas mereka.

Karena dipaksa berpindah, pada bulan Juni 2002 lalu ratusan perwakilan warga Dayak Meratus dari 300 balai (rumah besar pusat kegiatan adat) yang tersebar di seluruh Kalimantan Selatan menggelar kongres selama empat hari. Salah satu rekomendasi dari kongres adalah menolak apapun bentuk eksploitasi terhadap Hutan Lindung Pegunungan Meratus (HLPM).

Di sekitar lokasi tambang itu juga ada sumber mata air sekaligus daerah tangkapan air Daerah Aliran Sungan (DAS) berbagai penjuru wilayah. Di situ juga ada hutan keramatnya yang harus kami jaga kelestariannya.

Menurut ayah dua anak yang sudah beranjak remaja ini, perjuangan masyarakat suku Dayak Meratus untuk menolak tukar guling sebenarnya ada dasar hukumnya. Yaitu Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 169 tentang Bangsa Pribumi dan Masyarakat Adat di Negara-Negara Merdeka. Jika negara tetap menjadikan HLPM sebagai areal tambang sementara masyarakat adat menolaknya, perbuatan itu bertentangan dengan Konvensi ILO No 169 terutama pasal 7 ayat (1). Dalam pasal itu disebutkan masyarakat adat memiliki hak untuk menolak pembangunan yang tidak sesuai dengan prioritas mereka.

Berkaitan dengan Konvensi ILO, kata Soebely, masyarakat suku Dayak Meratus seharusnya berhak menentukan prioritas pembangunannya sendiri. Sebab, proses pembangunan itu akan berpengaruh terhadap kepercayaan, adat-istiadat, dan kehidupannya.

“Bagi suku Dayak Meratus, hutan bukan sekadar rimbunan pepohonan. Bagi mereka hutan juga memiliki nilai magis yang berkaitan dengan ritus tertentu yang masih mereka jalankan. Semuanya berkaitan dengan kepercayaan mereka yang masih berkaitan dengan roh-roh nenek moyang. Makanya, bagi mereka hutan tidak boleh seenaknya dibabat,” kata pria kelahiran Kandangan, 2 Januari 1957 ini.

Bagi para sastrawan di Kalimantan Selatan, Burhanuddin Soebely bukanlah nama asing lagi. Menekuni sastra sejak tahun 1979, sarjana Fisip Universitas Terbuka jurusan Administrasi Negara ini sudah menghasilkan beberapa kumpulan puisi. Antara lain Palangsaran (1982), Patilarahan (1987), dan Ritus Puisi (2000). Tiga noveletnya, antara lain Reportase Rawa Dupa, Seloka Kunang-Kunang, dan Konser Kecemasan memenangkan sayembara penulisan cerita bersambung Majalah Femina tahun 1997, 1998, dan 2001.

Pegawai Negeri Sipil di Pemda Hulu Sungai Selatan ini juga aktif di dunia teater. Bersama Teater Posko La-Bastari, Soebely telah pentas keliling ke berbagai daerah. Selain di beberapa kota di Pulau Kalimantan, Soebely pernah pentas di Surabaya, Jakarta, Bali, Mataram, Solo, Yogyakarta, Bukittinggi, dan Melaka (Malaysia). Hampir semua naskah teater karya Soebely bercerita tentang masalah sosial dan politik yang berkaitan dengan masyarakat suku Dayak Meratus.

Naskah-naskah yang pernah ditulis dan dipentaskan Soebely bersama Teater Posko La-Bastari antara lain Palangsaran (1982), Parantunan (1983), Kembang Darah (1983), Puting (1983), Paksi Simbangan Laut (1983), Biarkan Bulan Itu (1985), Temaram Rampah Minjalin (1986), Matahari Samudera (1987), Ibunda (1988), Tanah Air Mata (1993), Seloka Burung Kertas (1998), Sihir Kekuasaan (1999), Roh Bukit Kehilangan Bukit (2000), dan Repertoar Roh Bukit (2002).

Meski usianya tergolong tak muda lagi. Soebely mengaku tetap akan terus menulis dan bermain teater. Soebely tetap bertekad menyuarakan kepedihan suku Dayak Meratus dalam bait-bait puisinya. “Saya akan menempuh jalan sunyi sebagai penyair untuk menyuarakan suara terdalam suku Dayak Meratus. Saya akan terus menuliskan kesaksian hingga tangan saya tak mampu menulis,” katanya.

***

Senin, 28 Mei 2012 penyair yang akrab disapa “Om Ibuy” itu meninggal dunia. Selasa,  29 Mei 2012 jenazah Om Ibuy dimakamkan keluarga dan kerabatnya di Asam Cangkok, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan,Kalimantan Selatan.

Hulu Sungai Selatan tidak punya lagi seorang sastrawan yang berani terang-terangan menjadi juru bicara suku Dayak Meratus.

Oyos Saroso H.N.