Beranda Views Opini Bonus Demografi di Kala Pandemi

Bonus Demografi di Kala Pandemi

187
BERBAGI
Anak sekolah belajar daring di rumah. Foto: dok MA Plus Randu Dongkal, Pemalang

Oleh: Bayu Juniardi
Statistisi Ahli Pertama pada BPS Provinsi Lampung

Kehadiran pandemi Covid-19 di Lampung tidak menghalangi jalannya Sensus Penduduk 2020 (SP2020). Ini dibuktikan dengan telah dirilisnya angka hasil Sensus Penduduk pada 21 Januari 2021 yang lalu oleh Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung.

Penduduk Lampung berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) sebanyak 9,01 juta jiwa. Komposisi penduduk laki-laki sebesar 51,25 persen (4,62 juta jiwa) dan penduduk perempuan sebesar 48,75 persen (4,39 juta jiwa). Kabupaten Lampung Tengah merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Lampung berdasarkan hasil SP2020 (1.460,05 ribu jiwa), diikuti Kota Bandar Lampung (1.166,07 ribu jiwa), dan Kabupaten Lampung Timur (1.110,34 ribu jiwa) dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga.

Selain itu, hajatan rutin sepuluh tahun sekali ini juga memberikan informasi bahwa mayoritas penduduk Lampung didominasi oleh generasi Z, generasi milenial dan generasi X. Penduduk generasi Z (perkiraan usia 8-23 tahun) sebesar 27,80 persen. Penduduk generasi milenial (perkiraan usia 24-39 tahun) sebesar 26,54 persen. Sedangkan penduduk generasi X (perkiraan usia 40-55 tahun) sebesar 21,59 persen. Pengelompokan tersebut diungkapkan oleh William H. Frey dalam Analysis of Cencus Bureau Estimation (25 Juni 2020). Seluruh generasi milenial dan generasi X merupakan penduduk yang berada pada usia produktif di tahun 2020. Sebagian generasi Z merupakan penduduk usia produktif, dan sekitar 7 tahun lagi seluruh generasi Z berada pada usia produktif.

Proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Lampung berdasarkan hasil SP2020 adalah sebesar 70,31 persen. Hal ini menandakan bahwa Lampung berada dalam masa bonus demografi. Ini merupakan kesempatan yang langka. Proporsi penduduk usia produktif yang mendomonasi struktur penduduk Lampung akan menggerakkan roda perekonomian dan berujung pada meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Lampung.

Impian mencapai masyarakat Lampung sejahtera dengan memanfaatkan bonus demografi yang terjadi akan berjalan lancar jika terpenuhi dua asumsi berikut. Asumsi pertama, dominansi penduduk usia produktif harus diimbangi dengan peningkatan kualitas penduduk tersebut. Asumsi kedua yang tidak kalah pentingnya adalah, banyaknya penduduk usia produktif juga harus difasilitasi dengan tersedianya lapangan usaha yang juga berkualitas untuk menampung penduduk usia produktif tersebut.
Namun, impian tidak seindah kenyataan yang dihadapi saat ini. Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 membawa dampak luar biasa terhadap perkonomian Lampung.

Kehadiran Covid-19 mengakibatkan perkonomian Lampung setahun terakhir terkontraksi bahkan mengalami resesi. Pandemi telah meluluhlantakkan perekonomian Lampung termasuk sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan yang merupakan sektor dominan di Lampung selain sektor pertanian. Kelesuan ekonomi Lampung memaksa perusahaan mengurangi produksi dan mengurangi biaya produksi dengan cara melakukan pengurangan jam kerja bahkan pemutusan hubungan kerja.

Data ketenagakerjaan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Lampung sebesar 4,67 persen pada Agustus 2020, meningkat 0,64 poin dibandingkan Agustus 2019. Sektor usaha dengan penurunan penduduk yang bekerja terbesar yaitu sektor industri pengolahan yang turun 2,06 poin dibandingkan Agustus 2019. Terdapat 655,9 ribu orang (10,25 persen) penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19, terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (52,6 ribu orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (12,7 ribu orang), sementara tidak bekerja karena Covid-19 (40,9 ribu orang), penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (549,7 ribu orang).

Di tengah upaya menurunkan kasus terkonfirmasi Covid-19 dan upaya menghambat penyebaran Covid-19, upaya untuk memaksimalkan momentum bonus demografi juga harus dimanfaatkan secara optimal. Mengapa? Karena apabila jumlah penduduk produktif yang besar tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas dan keahlian ditambah lagi dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang mampu menampung mereka, maka membuat bonus demografi akan sia-sia dan menjadi bencana demografi. Bencana demografi yang dimaksud yaitu meledaknya angka pengangguran dan pada akhirnya akan berujung pada kemiskinan.

Meningkatnya angka pengangguran pada Agustus 2020 mengindikasikan banyaknya tenaga kerja yang tidak dapat terserap oleh pasar kerja yang ada di Lampung. Hal ini sangat menyedihkan, mengingat di tahun 2020 Lampung sudah memasuki momentum bonus demografi. Berbagai kebijakan dan bantuan yang telah digulirkan pemerintah, belum mampu mengembalikan ekonomi Lampung bangkit seperti sebelum pandemi melanda. Ditambah lagi dengan kondisi ketidakpastian kapan akan berakhirnya pandemi.

Di sisi lain, asumsi pertama untuk memanfaatkan bonus demografi juga harus diperhatikan. Peningkatan kualitas penduduk usia produktif dapat dilakukan melalui pendidikan. Namun, pandemi telah membuat pendidikan tidak berjalan maksimal. Sejak akhir Maret 2020 hingga sekarang sekolah masih ditutup dan pembelajaran dilakukan secara daring. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas pendidikan.
Penciptaan strategi pembelajaran yang efektif menjadi tantangan bagi para pemangku kebijakan di bidang pendidikan. Generasi muda Lampung harus dibekali dengan keterampilan teknis, soft skill, penguasaan teknologi dan kemampuan berwirausaha, sehingga mampu menciptakan generasi yang siap kerja, cerdas, berdaya saing, berkarakter dan produktif agar mampu berperan aktif di pasar kerja pada masa pandemi saat ini.

Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan pendidikan/pelatihan kepada generasi X dan generasi milenial agar mereka dapat menciptakan lapangan usaha yang dapat menyerap tenaga kerja yang ada.

Harapan dan keyakinan berakhirnya pandemi tetap akan selalu ada. Jika nanti pandemi berakhir, keadaan tidak akan kembali seperti semula. Namun peluang bonus demografi tidak akan terulang kembali. Kerja sama semua pihak sangat diperlukan agar bonus demografi dapat dimaksimalkan menuju masyarakat Lampung sejahtera di masa yang akan datang.***