Beranda Views TAJUK Brutalisme di Lampung Timur

Brutalisme di Lampung Timur

87
BERBAGI

HAMPIR semua publik di Lampung tahu bahwa Lampung Timur adalah daerah ‘paling menyeramkan’ dibanding daerah lain di Lampung. Beberapa tahun lalu masih banyak warga Bandalampung dan daerah lain tidak berani melintasi jalan raya Lampung—Bandarlampung di atas pukul 16.00 WIB. Sebab, ancaman begal selalu mengintai.

Lampung Timur telanjur lekat di batin publik di Lampung sebagai ‘daerah rawan’. Anggapan itu tentu bukan sekadar dari informasi mulut ke mulut tetapi karena fakta sehari-hari dahulu kabarnya memang seperti itu. Mantan Bupati Lampung Timur (yang entah sekarang sembunyi di mana) mengeluh karena tidak ada dokter yang mau ditempatkan di wilayahnya. Dokter yang berasal dari luar daerah takut bertugas di Lampung Timur karena tingkat kejahatannya yang tinggi.

Beberapa Kecamatan di Lampung Timur sampai hari ini masih lekat sebagai daerah merah yang berarti rawan kriminal, banyak aksi kekerasan, kerusuhan, rawan bentrok antarkampung, Seorang staf sebuah departemen di Lampung Timur pernah bercerita kepada saya bagaimana transaksi narkoba berlangsung terang benderang. Barang-barang haram diturunkan dari mobil dan dilihat bebas oleh warga. Dia juga bercerita bagaimana pesta sunatan atau pernikahan kerap menjadi arena hiburan yang rawan: suara musik berdentam sampai malam bahkan dini hari, orang mabuk ada di sana-sini—bahkan sebagian masih anak-anak SD.

“Kalau Bapak tidak percaya, kapan-kapan menginap di rumah saya kalau pas ada acara pesta pernikahan di kampung saya. Bapak akan tahu betapa polisi pun ada di sana tetapi tidak berdaya,” kata staf departemen itu.

Saya  hanya bisa mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Setengah tidak percaya.Namun, dari cerita kawan-kawan saya yang asli Lampung Timur, cerita staf sebuah departemen itu memang tidak jauh berbeda. Kalau ada kepentingan yang amat-sangat, rasanya saya tak perlu membuktikan semua cerita itu.

Kini, ketika mengikuti perkembangan kasus pemerkosaan yang dialami seorang gadis keluarga miskin berusia 14 tahun, saya tiba-tiba teringat cerita kawan-kawan saya tentang Lampung Timur. Saya teringat ada cerita ‘sekolah mengambil sepeda motor orang kurang dari 5 menit dengan kunci T’. Saya teringat penuturan seorang anak laki-laki yang usianya belum genap 17 tahun yang disel karena membunuh seorang pengendara sepeda motor dan merampas motornya. Saya bertemu anak itu beberapa tahun lalu di Rumah Tahanan Kota Metro, Lampung, ketika menyaksikan penyair Ari Pahala Hutabarat mengajari para napi menulis puisi.

Remaja drop out SD itu mungkin tidak sepenuhnya bersalah. Mungkin saja sistem di luar dirinya yang membuat dia nekat, keras, ganas, dan melakukan tindak kriminal. Mungkin karena kemiskinan, pergaulan, sikap masyarakat sekitar, pembiaran oleh aparat keamanan yang begitu lama, ketidakpedulian pejabat daerah terhadap masalah warga, dll. Mungkin juga pendidikan agama yang terlalu ekslusif.

YL, gadis 14 tahun asal Lampung Timur baru-baru ini melapor ke Polda Lampung setelah diperkosa belasan laki-laki. Visum menunjukkan organ vitalnya rusak, membusuk. Ia perlu pengobatan. Ia butuh bukan sekadar pertolongan dokter.

Orang tuanya buta huruf, miskin, dan takut kasus anaknya dilaporkan ke polisi. Bayangan kelam masa depan gadis itu mungkin sama dengan bayangan kelam masa depan keluarga orang tuanya. Runyamnya, di antara bayangan kelam itu stigma yang menyerangnya mungkin muncul.

OYOS SAROSO HN