Brutalisme Polisi di Riau: Wakapolres Minta Maaf, AJI Berkukuh Proses Hukum Berlanjut

Bagikan/Suka/Tweet:
Zuhdi, wartawan riauonline.co.id, masih  terbaring lemah di RS Syafira Kotabumi saat Wakapolres Pekanbaru AKBP Sugeng Putur Wicaksono menjenguknya, Minggu sore (6/12). Foto: riauonline.co.id.

PEKANBARU, Teraslampung.com – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Kota Pekanbaru menjenguk korban pemukulan personil Sabhara, Zuhdi Febriyanto, di Rumah Sakit Syafira, Pekanbaru. Sabtu (5/11/2015).

Pada kesempatan itu, Wakil Kepala Polres Pekanbaru, AKBP Sugeng Putut Wicakno menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan riauonline.co.id.

“Kami atas nama pribadi maupun institusi meminta maaf atas kejadian ini, kami akan bertanggung jawab,” kata Putut, saat melihat kondisi korban di Rumah Sakit Syafira, Pekanbaru, Jumat, 5 Desember 2015, seperti dikutip dari tempo.co.

Menurut Putut, polisi siap bertanggung jawab pengobatan korban sampai sembuh. Dia turut menyayangkan peristiwa itu terjadi.

Putut mengaku  polisi memang cukup kewalahan menghadapi massa HMI sejak dua pekan berada di Pekanbaru. Namun apapun itu alasannya kata Putut, aksi pemukulan wartawan itu tidak dapat dibenarkan. Polisi akan tetap melakukan penyelidikan secara profesional.

“Silakan tempuh prosedur yang berlaku, kami akan bertanggung jawab atas kesembuhan Zuhdi seperti sedia kala,” ujarnya.

Zuhdi Febryanto menjadi bulan-bulanan polisi dari kesatuan Sabhara Polresta Pekanbaru yang melakukan pengamanan Kongres HMI di Pekanbaru. Puluhan polisi menggunakan pentungan memukul Zuhdi hingga terluka berat di bagian kepala sampai pingsan.

Terkait aksi kekerasan yang dialaminya, Zuhdi mengaku saat itu dirinya sudah mencoba menjelaskan bahwa dia seorang jurnalis.

“Saya bilang, tidak ada hak polisi menghalangi jurnalis untuk meliput, saat itu mereka marah,” ujarnya.

Pimpinan Redaksi riauonline.co.id  yang juga Ketua AJI Pekanbaru, Fakhrurrodzi, mengutuk aksi pemukulan terhadap jurnalis.

Menurut Rodzi telah terjadi pelanggaran hukum berlapis pada kasus pemukulan Zuhdi. Selain menghalang-halangi profesi jurnalis, polisi juga telah melakukan kekerasan fisik yang berujung penghaniayaan. Pihaknya didampingi Lembaga Bantuan Hukum Pekanbaru akan melaporkan peristiwa itu ke Kepolisian Daerah Riau.

“Sebagai manusia, permintaan maaf polisi baik secara pribadi maupun institusi sudah kami maafkan, tapi proses hukum terus berlanjut,” ujarnya.

riauonline.co.id