“Buatlah Aku Marah, Kau Kuretas”

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Pagi buta menjadi kebiasaan dari jaman muda selalu mencari informasi dan kopi. Pagi itu dikejutkan oleh warta mnline yang menjadi teman sejawat begitu dibuka menampilkan tulisaan yang tidak dapat dibaca. Penasaran jangan-jangan karena spam terlalu banyak di alat komunikasi, maka pembersihan dimulai. Ternyata begitu dibuka lagi laman yang tadi, masih juga menampilkan tulisan rusak. Dalam hati media ini sepertinya dikerjai oleh seseorang, namun masih penasaran karenamedia lain di buka lancar-lancar saja. Dua jam berlalu media tadi dibuka lagi, ternyata masih juga. Akhirnya berketetapan hati memberi berita kepada teman redaktur dengan disertai bukti.

Jawaban yang membuat terperangah bahwa warta online yang satu ini sudah sering dikerjain bahkan dibayar dengan nilai tertentu untuk dapat dihancurkan. Gejolak rasa menjadi mendidih, mengingat kembali warta online ini sering memuat tulisan yang membuat oknum pejabat merah telinganya.

Menjadi pertanyaan untuk alasan apa sehingga laman warta dari media online harus diretas? Tentu saja pertanyaan ini sama saja kita pertanyakan kepada bayang bayang kita, mengapa harus ikut kemana kita pergi. Jawabnya pasti standard “semua baik baik saja”. Mereka pasti menampilkan muka-muka alim; seperti hakul yakin tidak akan berkelakuan dhalim.

Seperti pepatah mengatakan orang yang kehilangan bisa mendapatkan dosa lebih besar dari nilai yang hilang, karena menduga sana, menuduh sini. Tetapi tipe dari pemangku warta online yang satu ini karakternya tidak begitu. Hayo siapa kuat, yang ngrusak apa yang memperbaiki. Tentu saja semangat seperti ini adalah semangat juang yang paling gigih. Tidak sibuk mencari “siapa” tetapi fokus “bagaimana agar”, sehingga keberlangsungan pencerahan untuk masyarakat terus dapat berjalan sebagaimana adanya.

Akan tetapi persoalan personal bisa selesai dengan cara begitu; namun persoalan impersonal tidak segampang membalik telapak tangan. Karena persoalan kelembagaan yang dijadikan “kendaraan” itu menjadi sangat tidak etis, apalagi bermuara pada profesi.

Menuduh adalah pelanggaran hukum jika tanpa disertai bukti hukum dengan ketentuan tertentu, namun mencurigai adalah hak dari nurani sebagai manusia yang tidak perlu bukti awal. Karena insting yang diberikan Tuhan kepada makhluknya adalah bahasa rasa tingkat tinggi, yang tidak dimiliki mahluk lain.

Melanggengkan kerusakan di muka bumi ini adalah kelakuan yang diwariskan hanya oleh iblis, dan itu tanpa disadari manusia sering mengikutinya. Padahal orang bijak mengatakan : “Tuhan menguji hambanya dengan musibah dan nikmat. Untuk melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Siapa yang bersabar dan siapa pula yang putus harapan. Ujian itu tanda Tuhan rindu ingin mendengar rintihan dan doa dari hambanya”.

Kesesatan berpikir yang disebabkan karena ubud dunia, membuat manusia menghalalkan segala cara guna meraihnya. Meretas itu adalah sama dengan menikam dari belakang; dan itu menunjukkan rendahnya derajat sebagai manusia. Meretas karena marah kini seolah menjadi hal lumrah.

“Kalau kamu membuat aku marah dan susah, maka situsmu aku retas”. Begitulah kira-kira fenomena yang terjadi ketika seseorang sudah marah karena marah dengan pihak pemilik situs. Tidak perlu punya keahlian di bidang IT untuk meretas, karena banyak para peretas yang bisa diberi upah besar untuk mengerjakannya. Ketidaksatriaan seperti ini memang sudah ada sejak jaman dahulu kala menurut catatan sejarah. Namun tamsil itu tidak pernah kita baca; bahkan abai terhadap pitutur luhur seperti itu.

Bagaimana Ranggalawe difitnah oleh Nambi, bagaimana Tunggul Ametung dilibas oleh Ken Arok, dan masih banyak lagi peristiwa sejarah kalau mau kita mengenalinya. Hanya bedanya dahulu dengan kelicikan fitnah, sekarang ditambah dengan kecanggihan teknologi. Beberapa tahun silam penulis sendiri hampir masuk penjara hanya karena penggandaan nomor media komunikasi yang digunakan untuk melakukan fitnah keji pihak lain dan itu teman seiring; sebabnya sangat sepele karena penulis mendukung kepemimpinan yang bersih, sementara teman berseberangan dalam pilihan. Ternyata hukum Tuhan berlaku sangat adil, dan penulis menikmati keadilan itu sampai saat ini.***

  • Bagikan