Bubar atau Bersih

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial FKIP Unila

Pada satu kesempatan di ruangan yang sederhana ini datang seorang anak muda cerdas tetapi santun. Mengajak diskusi mengapa sekarang ada fenomena “nila setitik merusak susu sebelanga”; tentu saja pertanyaan ini menjadikan diskusi panjang kali lebar, karena bisa ditarik secara lokal, nasional, maupun regional.

Pengandaian yang dapat dijadikan tamzil adalah, apakah jika ada piring satu yang kotor, harus semua piring yang ada pada rak sebagai tempatnya; diturunkan dan dicuci. Tentu pekerjaan serupa di samping sia sia, juga ngawurnya tingkat tinggi.

Seperti halnya kita mendapati pada suatu lumbung padi yang di dalamnya ada Tikus sebagai hama. Tentu untuk memusnakan Tikus tidak harus dengan membakar Lumbungnya; cukup mencari upaya bagaimana menangkap Tikus, kemudian dimusnakan. Upaya yang bijak adalah tidak merusak Lumbungnya, tetapi menangkap Tikusnya.

Banyak tamsil kehidupan yang dapat kita temui mirip seperti contoh di atas. Seperti halnya baru baru ini adanya Lembaga yang menghimpun ahli agama, salah satu angotanya terindikasi melakukan penyimpangan ideologi. Banyak pihak yang menginginkan membubarkan lembaga tersebut. Tindakan seperti itu adalah tindakan yang tidak tepat, bahkan konyol; karena membubarkan bukanlah berarti membersihkan, karena sisa sisa pembubaran akan meninggalkan residu persoalan yang tidak mudah untuk diselesaikan; bahkan bisa jadi akan menimbulkan persoalan baru.

Belajar dari itu semua hendaknya kita menyadari bahwa di pusaran kebenaran pasti ada satu titik kesalahan, sebaliknya di pusaran kesalahan pasti ada satu titik kebenaran. Itu menunjukkan keEsaan dari Sang Pencipta; karena menunjukkan ketidak sempurnaan dunia ini, dan sekaligus bukti mutlak akan kefanaannya.

Diksi “Bubar dan Bersih” akhir akhir ini memang mengemuka; karena diberi akhiran “kan”; sehingga menjadi seolah kata pertintah yang harus dilaksanakan. Pada hal jika kita cermati menyelesaikan persoalan tidak selamanya menggunakan ke dua diksi tadi. Banyak cara yang dapat ditempuh dengan cara cara yang elegan bahkan bermartabat. Sehingga tidak harus menyelesaikan persoalan dengan persoalan.

Banyak hal di dunia ini yang kita jumpai sebenarnya tidak akan menjadi persoalan jika penggunaan ke dua diksi tadi dilakukan dengan arif bijaksana. Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan, bahkan harus digunakan, jika kemaslahatan untuk umat jauh lebih banyak manfaatnya dibandingkan mudoratnya. Hanya saja timbangan itu harus ditegakkan secara adil dan bijaksana; bukan hanya karena kepentingan sesaat, atau tidak menguntungkan kelompoknya. Jika yang terakhir ini menjadi pertimbangan; maka saat itu kita sedang membangun tembok sosial yang begitu tebal, dan tembok itu mengurung diri sipembuatnya dari interaksi normal sebagai manusia; dan sekaligus mengingkari hakikat dari manusia sebagai mahluk sosial.

Pada era keterbukaan seperti saat ini, tentu saja ke dua diksi tadi menjadi “bola liar” yang dapat ditendang kemanapun atas kemauan apapun oleh siapapun. Jika dalam “membaca” fenomena ini tidak jeli; maka keputusan yang diambil juga akan menjadi liar, bahkan tidak menutup peluang menjadi bumerang pada diri sendiri. Fenomena ini dapat kita simak pada komentar komentar pada media sosial; sering kita jumpai menghujam, liar, dan tidak jarang menyakitkan. Sementara jarijemari yang menulisnya tidak menyadari apa akibat semuanya itu; bahkan setelah dikonfirmasi atas keberatan, dengan ringan yang keluar hanya ucapan maaf.

Di era digitalisasi seperti sekarang, informasi yang berupa apapun menjadi sangat terbuka, karena setiap orang bebas menjadi pewarta sesamanya; akibatnya tentu secara bersamaan berlangsung sisi positif dan negatif. Bubarkan dan Bersihkan secara bersamaan beriring dengan Satukan dan Rapikan; untuk itu kita diminta bijak menemukenali persoalan; sehingga tidak dengan mudah tergiring pada situasi dikhotomis.

“Pemimpin adalah penyambung lidah rakyat” kata Bung Karno Sang Proklamator, namun sekarang adagium itu bertambah “Jarimu lebih berbahaya dari mulutmu”; oleh karena itu siapa anda ?.,, rakyat-kah, pimpinan-kah, pejabat-kah, saudagar-kah atau apapun anda; manakala anda tidak bijak menggunakan jari jemari dalam memilih diksi, saat itu sebenarnya anda sedang mempersiapkan diri untuk bunuh diri.

Selamat menikmati kopi panas!

 

 

  • Bagikan