Beranda News Lingkungan Bukit Onta Longsor, Walhi Kritik Sikap Pemkot Bandarlampung

Bukit Onta Longsor, Walhi Kritik Sikap Pemkot Bandarlampung

89
BERBAGI
Bukit Onta atau Gunung Perahu di Jalan Perahu, Kelurahan Sukamenanti Bandarlampung.
Bukit Onta atau Gunung Perahu di Jalan Perahu, Kelurahan Sukamenanti Bandarlampung.

TERASLAMPUNG.COM — Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung menilai Pemkot Kota Bandarlampung mengabaikan masalah eksploitasi bukit yang masif. Menurut Walhi Lampung, Pemkot Bandarlampung selalu buang badan alias tidak mau membertanggung jawab dengan berkilah bahwa izin pertambangan bukit/gunung kewenangannya ada di Provinsi Lampung.

“Seharusnya Pemkot Bandarlampung tidak perlu kaku terkait dengan aspek administrasi pertambangan dan mau melakukan terobosan. Pemkot bisa saja melakukan pengawasan dan penindakan terhadap usaha atau kegiatan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan hidup yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup, menimbulkan bencana dan membahayakan masyarakat,” kata Direktur Walhi Irfan Tri Musri, Jumat, 1 November 2019, menanggapi longsornya Gunung Perahu atau Bukit Onta di Jalan Harimau Kelurahan Sukamenanti, Bandarlampung.

Berdasarkan data Walhi Lampung, dari 33 bukit/gunung yang ada di Bandarlampung kini hanya sisa tiga bukit yang masih terjaga kealamiannya.

“Ini merupakan gambaran yang sangat buruk terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup di kota bandar lampung mengingat kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandar Lampung juga yang masih sangat minim yaitu berada di kisaran angka 11%,” ungkapnya.

Irfan Tri Musri menyarankan pemkot untuk berbenah dalam penataan lingkungan hidup agar kota ini bisa terhindar dari bencana ekologis.

“Pemkot seharusnya membuat regulasi khusus perlindungan dan pengelolaan bukit serta melakukan upaya-upaya pengawasan. Menjadikan Kota Bandarlamoung untuk bebas dari bencana ekologis sangat mustahil, kalo pemkot tidak berbenah,” katanya.

Menurut Irfan, longsornya Bukit Onta merupakan bukti buruknya pengawasan Pemkot Bandarlampung terhadap perusakan bukit/gunung.

“Longsor itu bukanlah terjadi secara alami melainkan adanya campur tangan manusia. Sebab, berdasarkan hasil pantauan kami, lokasi longsor berada dilokasi penambangan batu. Terlihat jelas adanya perubahan bentang alam dan bentuk/kontur tanah pada bukit akibat aktivitas pengerukan lereng gunung/bukit dengan alat berat yang membuat tanah mudah longsor,” katanya.

Dandy Ibrahim

Loading...