Beranda Teras Berita Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” dan Filosofi Angka 8

Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” dan Filosofi Angka 8

64
BERBAGI

Restoe Prawironegoro Ibrahim*

Membaca apa yang terjadi saat ini, yaitu sebuah polemik tentang pengangkatan tokoh “sastrawan” yang kiprahnya sangat berpengaruh di awal tahun 2014 ternyata menghasilkan pro dan kontra yang heboh, sejak munculnya sebuah buku yang bertajuk 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh karya Tim “Delapan”.

Tulisan ini sekiranya – maaf – tidak ingin melangkahi ataupun menggurui, hanya ingin menjembatani saja apa yang saya baca dengan data-data di media sosial maupun cetak. Memahami wacana permasalahannya ini, saya ingin berawal dari tulisan angka “8” yang disebut-sebut sebagai “Tim Sukses” pembuat  peluncuran buku tokoh sastrawan berpengaruh.

Secara filosofis angka 8 (delapan) memiliki banyak arti dan kelebihan sekali. Angka ini diyakini sebagai angka sebuah keberuntungan, tanpa mengesampingkan sang pencipta angka ini. Angka 8 menyimpulkan ada 2 (dua) lingkaran yaitu putih dan hitam dan menyimbolkan 2 (dua) perbedaan pula, antara positif dan negatif.

Tahun 2014 ini keberuntungan ada di tangan Denny JA. Nah, dari Tim 8 akhirnya memilih yang positif dan negatif, ini yang menjadi kontroversial publik di kalangan sastrawan. Keberuntungan yang berada pada nama Denny JA  berakhir negatif,  dalam peluncuran buku tersebut.

“Pemilihan 33 tokoh sastra ini mencoba menjawab pertanyaan  dan keraguan masyarakat umum tentang peranan sastra dalam kehidupan. Semua tokoh yang terpilih di sini  menunjukkan kiprah mereka,” ujar Ketua Tim 8, Jamal D  Rahman. (Media Indonesia, “Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh”, 12 Januari 2014, hal. 11).

Dari komentar di atas seharusnya Tim 8 bisa mengangkat sastrawan-sastrawan yang proses kekaryaannya masih mempunyai nilai syarat keorsinalan (baru) yang sampai sekarang ini sangat berpengaruh sekali. Kenapa harus membicarakan lagi karya sastra yang sudah “usang”, seperti Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, Muhammad Yamin, Hamka, Armijin Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Achdiat Karta Mihardja, Amir Hamzah, Trisno Sumardjo, HB Jassin, Idrus, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Ajip Rosidi, Rendra, NH Dini, Arifin C Noor. Nama-nama ini kan sudah cukup mapan di mata pelajaran sekolah SMA maupun tingkat tinggi.

Mereka sudah banyak yang tahu kalau karya-karyanya sangat berpengaruh dalam kiprahnya. Bagaimana Arifin C Noor bikin naskah teater dan filmnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya, Pramoedya Ananta Toer dengan novel-novel mutakhirnya yang hebat, itu semua sudah lama sangat berpengaruh dalam kancah pendidikan yang sudah diajarkan di bangku sekolah SMA maupun perkuliahan.

Coba tokoh-tokoh tersebut diganti dengan tokoh sastrawan cukup berpengaruh, misalnya Seno Gumira Ajidarma, Gerson Pyok, Jacob Sumardjo, dan lain-laian. Agar tokoh-tokoh sastrawan muncul kembali di seantero nusantara. Ini proyek yang sangat berani dari penyusun Tim 8 menentukan tokoh sastrawan yang berpengaruh, padahal banyak sekali sastrawan yang hebat di Indonesia ini.

Dwicipta, dengan tiba-tiba namanya nongol kembali, ia menghantam habis lewat opininya mengomentari  tentang soal buku yang beredar awal Januari 2014 itu, ia menuntut keras  penarikan dari peredaran buku 33 Tkoh, agar ditarik saja, tapi juga pertanggungjawaban yang memadai dari Tim 8, tulis Dwicipta. Tindakan Tim 8 ini menciptakan kebohongan publik, juga makin menguatkan sinyalemen tunduknya ideal-ideal sastra pada kekuatan kapital dan ambisi sosial yang kebablasan dari pihak-pihak tertentu yang ingin memaksakan kepentingannya  di dunia sastra Indonesia (Jawa Pos, “Tokoh Sastra Paling Berpengaruh”, 12 Januari 2014).

Menurut analisis saya, apa yang ditulis oleh Dwicipta, bahwa lahirnya “para intelektual pengkhianat”, berarti kita jangan menyalahkan sosok Denny JA sebagai korban dalam buku tersebut, yang disebut-sebut sebagai sastrawan berpengaruh. Denny JA sendiri menulis di media sosial mengatakan, “Saya ini cuma seorang pejalan budaya.Tak pernah menetap dan menjadi tuan rumah di satu wilayah budaya. Saya hanya datang berkunjung, belajar sesuatu di sana dan juga ‘menyumbangkan sesuatu.”

Hal semacam ini mari kita sadari bersama-sama, meskipun Denny JA berperan dalam hal asumsi pendanaan (keuangan), gak mungkinlah dia (Denny JA) akan mengeluarkan sinyalemen yang akan membuat Tim 8 merasa ketakutan agar namanya bisa dimasukkan ke dalam susunan 33 tokoh tersebut. Cobalah kita berpikir secara sehat, Denny JA seorang politikus yang sukses yang tidak pernah publik tahu atas karya-karya sastranya seperti apa. Cuma saya sempat baca puisi esainya yang “Atas Nama Cinta”, itupun bagi saya hanya  “nostalgia” rekuntruksi yang ditulis oleh beliau,  sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 13. Di mana Denny JA merangkaikan permasalahan itu menjadi 5 (lima) kasus dan berakhir dengan angka 13. Peristiwa tentang “Saputangan Fang Yin” ada 13 episode, Romi dan Yuli dari Cikeusik (13 episode), “Bunga Kering Perpisahan” (12 episode), “Minah Tetap Di Pacung” 11 epsiode, dan terakhir “Cinta Tentang Batman dan Robin” ada 13 episode.
  
Membaca dan menyimak puisi-puisi Atas Nama Cinta, sebagai karya sastra saya tidak mendapatkan apa-apa sama sekali dari pemaknaan hasil karya sastra Denny JA yang metamorfosa itu. Saya tidak menemukan kesegaran pandangan yang diorientasikan sebagai subyek terpenting. Hanya sebuah puisi yang mengandung kegelisahan kehidupan saja waktu itu.
    
Mustafa Ismail pun, menilainya gaya puisi Denny JA dari aspek puitikalnya masih perlu dibereskan. Tentang kekuatan puisi bukanlah di catatan kaki yang ditulis oleh Denny JA akhir dari sebuah peristiwa, ini akan mengurangi kosentrasi dan kenikmatan pembaca, tulisnya di media sosial Info Sastra.
  
Bahwa karya sastra (puisi) merupakan totalitas cara bercita rasa, pelembagaan serta pemberian makna terhadap hidup. Maka, sebagai konsekuensi logisnya, semua karya sastra termasuk puisi Denny JA perlu dihayati oleh setiap pencipta dalam melihat realita sehari-hari.
    
Saya tidak tahu bagaimana komentar dari Saut Situmorang yang ditulis oleh Firman Venayaksa, yang tiba-tiba mengatakan bahwa buku itu adalah sampah yang banyak berisi dusta sejarah atau yang bertujuan memanipulasi sejarah harus dibakar dan dilarang (Koran Tempo, “Rekayasa Sastra”,  9 Januari 2014). Yang mengejutkan kiprah nama Denny JA dimunculkan dianggap tokoh sastra dan berpengaruh?
  
Mari kita sama-sama menggairahkan kesusastrawan kita tanpa berdunia politik sebagai kekuatan kapitalis dalam bersastra yang sampai saat ini seperti mati tenggelam di masyarakat  penikmat sastra, kalau hal ini terus menjadi kesenjangan di antara para sastrawan Indonesia kapan sastra akan bangkit seperti di zaman-zaman Chairil Anwar, AA Navis dengan karya-karyanya yang sangat megah dan konroversial. Semua orang banyak mengenal nama itu sebagai tokoh  sangat berpengaruh sekali dalam karya sastranya.
  
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan perdebatan ini akan berakhir kalau kita tidak belajar kepada Seno Gumira Ajidarma, lewat karya-karyanya yang sangat luar biasa dan berpengaruh sekali. Kapan kita mau tahu nama  Benny Arnas dengan sangat lugas membongkar peradaban kehidupan zaman sekarang. Dan sederet sastrawan-sastrawan yang muncul di permukaan bumi pertiwi Indonesia ini.
  
Masih banyak sastrawan-sastrawan hebat dan beliau masih hidup dan jangan dipinggirkan oleh kalangan-kalangan tertentu yang seharusnya diangkat ke dunia lebih meluas. Ternyata kehebatan, kepinteran seseorang hanya bisa bertukar dengan nilai kekuatan kapitalisme yang bisa menghancurkan sastra itu sendiri.
  
Kalau sudah begitu, apalagi yang dibutuhkan agar kita tetap bertahan dan berpredikat yang terlanjur dimiliki sastrawan kini sebagai “Tokoh Sastra Yang Berpengaruh di Indonesia”, asal kita jangan “berkiblat” dengan lahirnya rekayasa sastra 2014.***

*Cerpenis, penyair